Magic

Magic
Ushi sakit



Hari demi hari berlalu, kini usia kandungan Aruna sudah menginjak 20 minggu. Perutnya pun sudah mulai terlihat. Arsenio senang sekali memegang perut istrinya yang sudah sedikit membuncit itu. Mereka juga rutin jalan-jalan agar nanti di usia kandungan 40 minggu Aruna bisa melahirkan secara normal.


Selama hampir dua bulan ini Aruna dan Arsenio membuka usaha untuk menghidupi keluarga mereka. Rasanya tidak mungkin mereka hanya mengandalkan zanna saja.


Awalnya mereka menjadi reseller parfum kemudian di bulan kedua mereka bisa menyewa ruko untuk usaha parfum tersebut Kota Galen memang terkenal dengan parfumnya, jadi berbekal koneksi yang dimiliki mereka mulai mendistribusikan parfum-parfum tersebut di seluruh pulau Osmond.


Puji Tuhan sekali usaha parfum mereka sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan mereka.


Saat ini Aruna dan Arsenio sedang berada di ruko yang mereka sewa. Mereka belum memiliki pegawai, jadi semua pekerjaan mereka kerjakan bersama. Untuk pengiriman parfum ke luar kiraz Arsenio bekerjasama dengan expedisi ternama di kota Galen jadi dia tidak khawatir barang dagangannya tidak sampai ke pembeli.


Arsenio sudah bertekad tidak akan meninggalkan Aruna. Kehilangan istrinya beberapa bulan yang lalu masih menyisakan trauma di hati Arsenio.


"Sayang... Makan dulu" teriak Aruna pada suaminya yang sedang merapikan etalase di depan ruko, sedangkan Aruna duduk di meja kasir sambil menyiapkan makan siang mereka. Tadi pagi Aruna sudah memasak bekal sebelum berangkat ke ruko.


"Iya sebentar" sahut Arsenio kemudian meninggalkan pekerjaannya sejenak.


Arsenio mengecup puncak kepala istrinya sekilas sebelum menarik kursi untuk duduk di depan istrinya.


"Ah...Arsenio memang selalu manis seperti ini" ucap Aruna dalam hati.


Aruna dan Arsenio kemudian mulai makan sepiring berdua dengan Aruna yang menyuapi suaminya itu. Aruna tidak ingin saat sedang makan tiba-tiba ada pembeli datang dan membuat Arsenio buru-buru mencuci tangan. Bisa sih makannya pakai sendok tapi semenjak tinggal di pesisir mereka lebih sering makan ikan. Ikan juga katanya bagus untuk janin.


Arsenio begitu menikmati makan dari tangan istrinya. Dari kecil dia ingin dimanja orang tuanya, disuapi, dibacakan cerita dan banyak rutinitas bonding lainnya. Tapi mengingat dia dulu tidak tinggal dengan orang tuanya membuat Arsenio kehilangan momen itu. Tapi kini bersama Aruna Arsenio mendapatkan semua hal yang dari dulu dia impikan. Apalagi saat sang anak lahir. Dia sudah membayangkan hidup sederhana bersama anak dan istrinya.


Kasih sayang yang tulus hanya dia dapatkan dari istrinya seorang. Karena itu Arsenio selalu menunda untuk mengunjungi kedua orang tuanya.


Yang patut Arsenio syukuri adalah walau dalam keadaan marah Usha masih menutupi statusnya sebagai anak di depan masyarakat. Hanya dikalangan pekerja yang menyaksikan kejadian waktu itu saja yang tau. Berita tentang anak Usha tidak dibiarkan untuk di sebar keluar. Apalagi tentang Aruna. Arsenio bersyukur akan hal itu karena dia bisa hidup normal tanpa harus bersembunyi dari warga.


Saat itu Davina masuk ke dalam ruko sambil menangis.


"Kenapa?" tanya sang kakak yang kebetulan berada di depan pintu.


"Ayo pulang Nio, Ibu sakit" mohon Davina.


"Ushi sakit apa Davina?" tanya Aruna cemas.


"Belia mengkhawatirkan kalian, ayo pulang temui Ibu" mohon Davina pula.


Aruna pandangi wajah Arsenio untuk menunggu jawaban.


"Usha belum memaafkan kami Davina, tidak mungkin kami kesana" jawab Arsenio.


"Tapi Ibu sakit Nio. Aku mohon" pinta Davina sudah berkaca-kaca.


"Bagaimana kalau Ayah mengusir kami?"tanya Arsenio pula.


Ya..itulah alasan utama Arsenio selama ini tidak datang ke kediaman Usha. Bukan dia yang takut di tolak tapi dia takut istrinya tidak diterima dan menjadi kepikiran. Apalagi Aruna sedang mengandung. Arsenio takut hal itu berpengaruh pada kesehatan calon anak mereka.


"Aku sebagai jaminannya. Ayah tidak akan berani berbuat macam-macam. Aku mohon" ucap Davina.


Davina terus memohon agar kakak dan kakak iparnya mau pulang ke rumah.


Bersambung...