
Ardiaz kini tinggal di Ducan dan bekerja di kediaman Usha. Hal itu membuatnya semakin jauh dengan Andrea. Dia sudah sangat lelah menjalani hari-hari palsu bersama Andrea. Sekarang sudah tidak alasan lagi dia bersama Andrea, bila dulu sang Ayah sering mengancam Ardiaz akan menyelakai Aruna bila mengakhiri hubungan pertunangan , maka sekarang rasanya sudah tidak perlu takut lagi. Aruna sudah memiliki Arsenio, kapten kepercayaan Usha. Bahkan Ayah Andrea pun rasanya tidak akan bisa melawan.
Dan mengenai nasib keluarganya, Ardiaz sudah memiliki kontrak kerjasama dengan beberapa klien yang tidak bisa diputuskan sepihak tanpa persetujuan kedua belah pihak.
Makin siaplah sekarang Ardiaz untuk berpisah dengan Andrea.
Disaat Ardiaz libur bekerja. Dia memutuskan untuk pulang ke Galen. Dia akan mengakhiri pertunangannya dengan Andrea.
Dengan menempuh perjalanan jalur udara, Ayglo milik Ardiaz akhirnya sampai di depan rumah Andrea. Tanpa memberitahu terlebih dahulu dia langsung saja pergi kesana. Ardiaz ingin semuanya segera berakhir.
Saat sampai disana, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Andrea sedang bermesraan dengan pria lain. Ardiaz tersenyum muak melihat itu. Bukan dia cemburu, tapi dia merasa hidupnya dipermainkan oleh ego seorang Andrea yang tidak mau kalah oleh siapapun.
Hem.
Ardiaz berdehem yang seketika mengagetkan Andrea yang sedang berciuman mesra dengan seorang pria di taman belakang rumahnya.
Andrea langsung saja melepas ciumannya.
"Ardiaz... Ka mu ke na pa tidak mengabari?" tanya Andrea tergagap.
Ardiaz malah tersenyum.
"Untung saja aku tidak mengabari, jadi aku punya alasan untuk mengakhiri hubungan tidak jelas ini. Mulai hari ini antara aku dan kamu bukan lagi sepasang kekasih" ucap Ardiaz lantang. Tanpa menunggu jawaban Andrea , Ardiaz langsung meninggalkan sepasang kekasih itu.
"Diaz...tunggu dulu ...dengar penjelasan aku dulu" tahan Andrea.
Ardiaz berbalik.
"Tidak ada lagi yang perlu kamu jelaskan. Tanpa melihat hal ini pun aku memang sudah ingin mengakhiri hubungan tidak sehat ini. Maaf aku tidak bisa lama-lama" tegas Ardiaz dan pergi begitu saja.
Andrea terdengar memanggil-manggil namanya tapi dia tidak peduli. Dia sangat lega akhirnya sesuatu yang membelenggu hidupnya selama ini akhirnya bisa terlepas.
"Sayang aku sudah terlambat. Harusnya dulu aku tidak pasrah begitu saja. Harusnya aku memperjuangkan Aruna" batin Ardiaz.
Kini Aruna sudah menjadi milik orang lain dan Ardiaz sangat menyesal karena itu.
Ardiaz mendatangi kediaman orang tuanya. Dia mengatakan pada ayahnya apa yang terjadi hari ini tanpa ada yang dia kurangi atau lebihkan.
"Maafkan Ayah nak, harusnya Ayah tidak begitu padamu dulu. Ayah minta maaf" sesal Ayah Ardiaz.
"Ibu juga minta maaf nak" ucap Ibu Ardiaz sambil memeluk putranya. Ibu Ardiaz sudah menangis tersedu-sedu.
Ardiaz menghela nafas berkali-kali.
"Aku sudah kehilangan Aruna bu, dia sudah menikah" ucapan Ardiaz tentu membuat sang Ibu terkejut.
Lagi-lagi sang Ibu hanya bisa meminta maaf, sesal tiada lagi guna.
...
Di tempat lain, Aruna dan Arsenio sedang menikmati hari libur mereka dengan bersantai. Kehamilan Aruna tidak membuat Aruna repot sama sekali. Tidak ada ngidam dan keinginan lain-lain. Hanya terkadang Aruna merasa capek padahal tidak melakukan banyak aktifitas.
Hubungan Aruna dan Arsenio berjalan baik, mereka terlihat harmonis walau tidak ada kata cinta yang keluar dari mulut keduanya.
Saat ini Arsenio sedang memijat kaki istrinya yang katanya lelah. Padahal seharian ini hanya rebahan di tempat tidur. Tanpa banyak protes Arsenio dengan telaten memijat kaki istrinya yang belum terlihat sedang hamil.
Pijatan yang awalnya enak lama-lama berubah menjadi pijat plus plus karena tangan Arsenio mulai menjelajah kemana-mana.
"Ah..." suara lenguhan sampai keluar dari bibir Aruna karena Arsenio mulai bermain dengan bagian favoritnya. Tidak puas hanya bermain, dia pun mulai menikmati langsung benda favorit itu. Dia hisap dan re mas sesuka hati.
Cup cup cup
Arsenio mencium dengan gemas benda favoritnya itu. Setelah kembali lagi dan lagi lenguhan keluar dari mulut Aruna, Arsenio pun beralih mencium bibir semerah cerry itu.
Mereka berciuman dengan saling balas membalas hingga suara decapan itu terdengar jelas.
Arsenio sudah tidak tahan lagi, dengan cepat dia melepas pakaiannya dan juga pakaian istrinya.
Dengan satu kali hentakan mereka sudah berhasil melakukan penyatuan. Arsenio memacu dan memberikan hentakan dengan penuh perasaan tentunya demi keselamatan istri dan calon buah hatinya.
Bersambung...