
Terdengar dengkuran halus menandakan Arsenio tengah terbuai di alam mimpi. Aruna masih belum percaya dia telah menikah dan menyerahkan diri secara sukarela pada Arsenio. Pria yang jelas-jelas menjalin hubungan dengan teman baiknya sendiri.
“Ya Tuhan…” gumannya pelan. Bila mengingat nama Davina, Aruna terus saja merasa bersalah. Tapi pernikahan ini bukanlah keinginannya. Semua terjadi begitu saja dan Aruna tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya pada Davina.
Aruna terus memandangi wajah tampan Arsenio hingga kantuk mulai menyerang dan dia pun terlelap tidur.
…
Pagi datang, Aruna yang tidur sangat larut masih tidur dengan nyenyaknya. Arsenio yang bangun lebih dulu merasakan kebas pada lengannya karena semalaman menjadi bantal tidur Aruna. Pelan dia menarik tangannya dan mengibas-ngibaskannya.
“Dia pasti capek sekali sampai-sampai belum bangun” guman Arsenio dengan senyum tipis. Arsenio hendak merapikan selimut Aruna yang sedikit tersingkap, tapi tanpa sengaja tangannya menyentuh benda kenyal yang sudah diklaim menjadi bagian favoritnya itu.
“Kenapa bisa sebesar ini ya?” tanya Arsenio terkekeh. Bukannya berhenti Arsenio malah semakin bermain-main.
“Ah… aku tak tahan” kata Arsenio kemudian kembali menghisap benda kenyal itu. Dia sudah menyingkap baju tidur yang dipakai Aruna dan mulai memainkan benda favoritnya itu.
Aruna yang terlelap tidak menyadari apa yang dilakukan suaminya. Dia masih saja tertidur dengan lelapnya tanpa terusik sedikit pun.
Arsenio semakin menenggelamkan wajahnya, merasa sangat empuk dan kenyal.
Tidak puas bermain sendiri, dia mulai membangunkan Aruna dengan mencium wajah Aruna secara bertubi. Dia juga me lu mat bibir itu dengan menggebu. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk melakukan penyatuan kembali.
“Arsen…” panggil Aruna serak karena masih mengumpulkan tenaga. Rasanya baru saja dia tertidur kini sudah dibangunkan kembali.
“Mulai sekarang panggil aku Nio” bisik Arsenio mesra. Dia menciumi telinga Aruna pelan dan mulai turun hingga di ceruk leher.
Aruna merasakan geli yang teramat sangat. De sa han mulai keluar dari mulutnya. Hasrat Arsenio yang memang sudah diubun-ubun semakin meningkat dan tidak bisa menahannya lagi.
Tubuh Aruna pun sudah dibuat polos. Dalam satu hentakan saja mereka kembali melakukan penyatuan.
…
“Sudah aku bilang, panggil aku Nio” kata Arsenio tak terbantahkan.
Sebenarnya Aruna ingin menolaknya karena itu adalah panggilan kesayangan Davina pada Arsenio. Tapi Aruna takut bila Arsenio marah, maka dia mengangguk saja.
“Iya Nio” jawab Aruna kemudian.
“Bagus, jangan panggil aku Arsen lagi. Kayak orang lain saja” sahut Arsenio.
Lagi-lagi Aruna mengangguk saja.
“Lalu bagaimana dengan Davina?” tanya Aruna pula.
“Kenapa apanya? Ya angkat saja teleponnya seperti biasa” jawab Arsenio cuek dan mulai memakan sarapannya.
“Bagaimana kalau dia tau kalau kita menikah?” tanya Aruna lagi.
“Memangnya kenapa kalau dia tau?” kata Arsenio acuh tak acuh.
Jujur Aruna sudah kesal dengan jawaban-jawaban Arsenio tapi lagi-lagi dia mengalah saja. Arsenio orangnya nekat, buktinya menikah tanpa cinta saja dia rela demi pekerjaannya apalagi yang lain?. Memikirkan bagaimana mereka melakukan penyatuan semalam membuat seketika wajah Aruna memerah.
Arsenio melirik sekilas pada Aruna yang tidak menjawab pertanyaannya. Tapi sedikit kemudian dia kembali melihat pada Aruna yang wajahnya sudah sangat merah itu.
“Wajahmu kenapa?” tanya Arsenio sambil memegang kedua pipi Aruna.
“Kamu sakit?” tanyanya pula.
Aruna dengan cepat menggeleng kemudian ikut makan, berharap Arsenio tidak menyadari kalau dia sangat malu saat ini.
Bersambung...