
"Terima kasih Baron" katanya sambil mengambil sapu tangan di tangan Baron.
Diam-diam Aruna kembali menggunakan Zanna nya untuk bisa menghilangkan rasa sedihnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Baron. Padahal dia sudah mendengar apa saja yang Aruna dan Ardiaz bicarakan.
"Tidak ada, Ardiaz hanya mengucapkan salam perpisahan karena akan melanjutkan study di Laiz" jawab Aruna tersenyum.
"Karena itu kamu sedih?" tanya Baron pula.
Aruna tersenyum kemudian mengangguk.
"Iya, Ardiaz adalah satu-satunya temanku selama ini" jawab Aruna seketika mengingatkan Baron bagaimana jahatnya dia dulu pada Aruna.
"Maafkan aku karena dulu pernah menghina mu. Aku masih terlalu labil saat itu" Baron sangat menyesal atas perlakuannya semasa sekolah pada Aruna.
"Aku sudah melupakannya, Kamu jangan terlalu memikirkannya" balas Aruna.
"Tetap saja aku merasa bersalah. Maafkan aku" ulangnya.
Aruna pun menganggukkan kepalanya.
"Ayo kita ke dalam" ajak Aruna. Mereka sudah terlalu lama berada di luar. Baron mengangguk dan berjalan beriringan menuju tempat diadakannya pesta pertunangan Ardiaz dengan Andrea.
.
.
.
Sudah 1 bulan berlalu, Aruna sudah tinggal kembali di rumahnya. Hari ini dia dan Harmony akan makan siang bersama sebelum Harmony pindah ke kota Ducan untuk melanjutkan pendidikan. Aruna sengaja tidak memberitahukan Harmony bahwa dia juga akan merantau ke kota itu. Dia tidak ingin ada yang mengenalinya disana. Sebisa mungkin dia akan tinggal di daerah yang jauh dari pusat kota pendidikan.
Semenjak neneknya meninggal Aruna lebih sering mengenakan baju berwarna hitam dan putih. Entah kenapa dia membatasi warna dalam hidupnya.
Aruna sudah siap dengan dress hitam miliknya. Dia sudah berjanji disalah satu tempat makan dengan Harmony.
Aruna masuk ke tempat makan itu dan duduk di pinggir jendela. Ardiaz yang saat itu juga sedang makan siang dengan Andrea tidak bisa melepaskan pandangannya dari Aruna.
"Apa kabar Aruna?" batin Ardiaz.
Untung saja Andrea duduk membelakangi Aruna, kalau tidak mungkin dia sudah akan menunjukkan kemesraan palsunya di depan Aruna.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Selamat Tinggal Aruna. Mungkin ini yang terakhir kali aku akan melihatmu" Ardiaz berkata dengan dirinya sendiri.
Tak berapa lama Harmony pun tiba. Aruna dan Harmony berpelukan karena sudah hampir seminggu mereka tidak bertemu.
"Apa kamu tidak mau menerima tawaran Yuanda untuk bekerja di Ducan?" tanya Harmony sambil menyantap makan siangnya.
Aruna menggeleng.
"Aku sudah nyaman dengan pekerjaan disini" jawab Aruna tersenyum.
Harmony mendesah pelan.
"Aku akan sangat rindu dengan mu" kata Harmony sedikit merengek.
Aruna hanya terkekeh. "Nanti kita bisa sesekali bertemu. Aku pasti akan sering ke Ducan".
"Janji ya. Kamu harus sering ke Ducan" Harmony sampai mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Aruna.
"Janji" sahut Aruna pula. Mereka sama-sama melempar senyum kemudian tertawa.
"Aruna... Aku sangat suka melihat mu tersenyum dan tertawa seperti ini" batin Ardiaz yang masih betah memandangi wajah Aruna. Dia bahkan tidak peduli dengan Andrea yang duduk manis di depannya sambil berceloteh panjang lebar.
"Kamu liatin apa sih?" tanya Andrea yang merasa kalau dari tadi Ardiaz tidak nyambung diajak berbicara.
Ardiaz tidak ingin Andrea tau kalau dia dari tadi memperhatikan Aruna , dengan cepat dia kemudian mengajak Andrea keluar dari sana.
Ardiaz bahkan sampai menarik tangan Andrea.
"Kamu kenapa sih? Gak usah ditarik segala kan?" gerutu Andrea kesal.
Ardiaz kemudian melepas cekalan tangannya pada Andrea.
"Maaf, aku hanya sedang buru-buru. Besok aku sudah harus berangkat ke Kota Laiz" jawab Ardiaz beralasan.
Sejujurnya memang itu alasannya. Dia tidak mau terus-terusan berpura-pura menjadi tunangan yang baik di depan Andrea. Dia sangat muak akan hal itu. Kalau saja Andrea tidak bersikap semaunya seperti ini bukan tidak mungkin Ardiaz bisa menyukainya, tapi sekarang Ardiaz benar-benar benci.
Menurut Ardiaz , Andrea bukan mencintainya tapi lebih kepada terobsesi. Cinta bukan memaksakan seperti ini. Andrea hanya merasa kalau dia tidak boleh dikalahkan oleh orang lain, apalagi itu perempuan seperti Aruna. Yang menurut Andrea jauh dibawahnya.
"Tentu saja bukan. Aku melanjutkan pendidikan disana atas saran kakek karena aku cucu laki-laki satu-satunya" jawab Ardiaz tidak sepenuhnya berbohong.
Andrea tetap saja tidak terima dengan alasan Ardiaz tapi dia sedikit lega karena dengan begitu Ardiaz tidak aka bertemu dengan Aruna lagi.
Mereka masih berdebat tidak jauh dari rumah makan itu sampai Aruna dan Harmony keluar dari sana.
Andrea tentu kaget melihat Aruna. Dia lalu mengingat bagaimana Ardiaz dari tadi melamun dan pandangannya menerawang entah kemana.
"Ternyata Ardiaz dari tadi melihat ke arah cewek miskin ini" batin Andrea kesal sekali.
"Kamu disini juga?" tanya Andrea dengan nada tak suka pada Aruna.
Aruna dan Harmony sama sekali tidak menyadari kalau di rumah makan tadi juga ada Andrea dan Ardiaz.
"Iya " jawab Aruna singkat.
"Sengaja ya kamu makan disini? Biar apa? Biar bisa deketin Ardiaz lagi?" Andrea sekarang sudah benar-benar sinis. Bahkan nada bicaranya sudah menantang.
"Aku yang memilih tempat ini, bukan Aruna" Harmony yang menjawab pertanyaan Andrea.
"Kamu ini kenapa? Ayo pulang" ajak Ardiaz karena tidak suka dengan pertanyaan Andrea.
"Kamu aja pulang duluan" usir Andrea.
"Aku masih mau bicara dengan Aruna" lanjutnya.
"Kamu ini kenapa Andrea?" tanya Aruna yang sudah mulai kesal dengan sikap Andrea yang seenaknya.
Andrea menyilangkan tangan di depan dada.
"Apa kamu tidak tau malu? Selama ini kamu jadi parasit pada Ardiaz dan sekarang kamu menjadi parasit pada Harmony? Apa hidup mu harus terus menjadi parasit di hidup orang lain?".
Aruna, Ardiaz dan Harmony membelalakkan mata mereka tidak percaya atas pertanyaan Andrea.
Ardiaz bahkan menarik paksa tangan Andrea.
"Kamu itu keterlaluan" bentak Ardiaz sambil terua menarik tangan Andrea.
"Lepasin" Andrea melepaskan cekalan tangannya dari Ardiaz.
Andrea berhasil melepas cekalan tangan Ardiaz kembali menghampiri Aruna kemudian menampar wajah Aruna hingga wajahnya tertoreh ke samping.
Harmony memegang tubuh Aruna yang hampir terjatuh.
"Keterlaluan kamu ya" bentak Harmony.
Ardiaz yang melihat itu kemudian menjatuhkan tamparan keras juga di wajah Andrea.
"Kamu..." isak Andrea sambil memegang pipinya.
Andrea langsung saja berlari meninggalkan mereka bertiga. Ardiaz tidak mengejarnya tapi malah mendekati Aruna. Aruna yang melihat Ardiaz langsung menahan dengan tangannya.
"Jangan mendekat" ucap Aruna.
Setelah mengatakan kalimat itu Aruna langsung berlari dan Ardiaz mengejarnya.
Harmony yang tidak bisa berlari memilih diam di tempatnya.
Aruna berlari begitu kencang hingga Ardiaz tak terlihat. Saat merasa aman dia menggunakan Zanna untuk kabur dari sana. Tapi ternyata Ardiaz melihat dengan jelaa Aruna menghilang menggunakan kekutan zanna yang dia miliki.
"Aruna... Kamu" kata Ardiaz saat Aruna perlahan menghilang.
Aruna sudah menghilang seutuhnya dan sampai di kota Ducan.
Aruna menangis sesenggukan.
"Bodoh... Bagaimana ini? Ardiaz melihatku menggunakan kekuatan ini" isaknya begitu sedih.
Bersambung...