
“Ibu…” protes Davina pada Ushi.
“Ayah tidak masalah kalau memang kamu menyukai Ardiaz. Ayah rasa dia orang yang baik. Tapi jangan sekarang. Ayah kasihan nanti dia dikira mendapat jabatan ini karena kamu” kini Usha juga ikut-ikutan menggoda.
“Ayah apaan sih” Davina sampai menutup wajahnya karena malu.
“Tapi memangnya Ardiaz mau sama kamu?” Usha tidak hentinya menggoda putrinya.
“Tentu saja mau, dia kan mencintai ku” jawab Davina lagi-lagi keceplosan.
“Haaaa… Ayah….” rengek Davina karena dia malu sekali.
Usha dan Ushi saling melempar senyum kemudian sama-sama tertawa. Putri mereka memang sangat lucu dan menggemaskan.
“Panggil Ardiaz kesini sekarang. Ayah ingin mendengarnya secara langsung” titah Usha sungguh-sungguh. Dia ingin tau apakah Ardiaz serius dengan putrinya.
“Tapi Ayah…” protes Davina. Dia dan Ardiaz bahkan baru satu hari berpacaran. Bagaimana bisa ayahnya memanggil Ardiaz secepat ini.
“Sekarang…” titah Usha tak terbantahkan.
Mau tidak mau, Davina pun menghubungi Ardiaz.
Davina bangkit dari duduknya kemudian mulai melakukan panggilan.
“Iya sayang?” tanya Ardiaz saat panggilannya sudah terhubung.
Mendengar kata sayang membuat Davina langsung berbunga-bunga.
Hem.
Davina melegakan tenggorokannya yang tercekat sebelum berbicara.
“Ayah meminta mu kesini sekarang apa bisa?” tanya Davina.
“Baiklah. Aku kesana sekarang” jawab Ardiaz dan langsung menutup panggilan itu. Ardiaz bahkan tidak bertanya untuk apa dia dipanggil.
“Ck, dia pasti mengira Ayah memanggilnya karena urusan pekerjaan” decaknya sebal.
“Kenapa? Dia tidak mau kesini?” tebak Ushi.
Davina pun menggelengkan kepalanya.
“Lalu?” tanya Ushi penasaran.
“Aku belum sempat memberitahu alasan dia dipanggil tapi dia sudah menutup panggilannya” jawab Davina masih sedikit kesal. Davina takut nanti Ardiaz kelabakan menjawab pertanyaan ayahnya karena belum ada kesiapan.
Usha dan Ushi kembali tertawa mendengar jawaban Davina, tapi tawa itu terhenti karena saat itu juga Ardiaz datang menghadap dengan menundukkan kepala hormat.
“Selamat siang, Usha, Ushi dan juga nona Davina” ucap Ardiaz memberi salam.
“Selamat siang, silahkan duduk Diaz” ucap Usha membalas salam Ardiaz dan menintanya untuk duduk.
Ardiaz kemudian duduk di sofa yang masih kosong.
“Apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Ardiaz.
“Begini, apa benar kamu mencintai anak saya?” tanya Usha tanpa basa basi.
Deg.
Ardiaz langsung melihat ke arah Davina yang mengerucutkan bibirnya yang artinya “Salah sendiri langsung mematikan panggilan” begitulah kira-kira arti expresi wajah Davina.
Ardiaz kemudian langsung menundukkan kepala memohon maaf. Dia tidak akan seperti dulu lagi. Sekarang dia akan memperjuangkan apa yang dia inginkan. Dia tidak ingin seperti saat dipaksa bertunangan dengan Andrea.
“Maafkan saya telah lancang menyukai putri anda, Usha” ucap Ardiaz masih menundukkan kepala. Aturan di kediaman Usha memang tidak boleh berbicara dengan mengangkat kepala.
“Baguslah, berarti cinta putri ku tidak bertepuk sebelah tangan” ucap Usha tanpa di duga. Davina tidak menyangka akan semudah ini. Lalu kenapa dengan Aruna Ayahnya begitu sulit menerima? Apa karena zanna? Bukankah sudah jelas kalau Aruna bukan pencuri zanna? Lalu kenapa? Kenapa sampai saat ini Ayahnya masih belum menerima Aruna? Bahkan Usha rela membiarkan putra satu-satunya kesusahan diluar sana.
Apa sebenarnya yang ada di dalam pikiran ayahnya?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benak Davina saat ini.
Bersambung...