
"Lagian kenapa harus takut padaku?" tanya Arsenio sambil memencet kedua pipi Aruna. Dia gemas melihat Aruna yang terlihat imut.
"Hanya Davina yang tidak takut padamu" jawab Aruna sambil mendelikkan matanya.
Arsenio kembali tertawa lebar.
Dia lepaskan tangannya dari pipi Aruna.
"Ayo makan, nanti dingin" kata Arsenio mengajak Aruna memakan makanan yang sudah dia pesan.
Aruna dan Arsenio saling melempar senyum kemudian melanjutkan memulai makan siang mereka.
Selesai makan siang Aruna dan Arsenio berjalan menyusuri gang kecil untuk membeli beberapa keperluan selama Aruna tinggal dirumah Arsenio. Selama ini Aruna tidak pernah bertanya tentang keluarga Arsenio. Sudah hampir 7 tahun mereka saling kenal, tapi Aruna tidak tau apapun tentang Arsenio.
“Arsen sebenarnya aku ingin menanyakan ini padamu” kata Aruna pelan.
“Tanyakan saja” jawab Arsenio.
“Hem,,, apa orang tuamu tidak keberatan aku tinggal di rumah kalian? sebenarnya dia ingin menanyakan itu tapi takut tidak sopan.
Arsenio tampak menghela nafas.
“Aku tidak mempunyai orang tua”.
Seketika saja jawaban Arsenio membuat Aruna membeku di tempatnya.
“Kamu serius?” Aruna sangat terkejut mendengar fakta yang ada.
Arsenio pun mengangguk.
“Aku dari kecil sudah tidak bersama orang tuaku. Bukannya aku bermaksud merahasiakannya hanya saja biarlah ini menjadi masalah pribadiku” Arsenio kembali berwajah dingin ketika mengatakannya. Aruna merasa kalau Arsenio mempunyai masalah yang begitu berat. Maka dari itu dia tidak ingin bertanya lebih.
“Tidak masalah, aku dan kamu sebenarnya sama. Kita besar tanpa didampingi orang tua. Tapi kamu lebih beruntung karena masih mempunyai nenek” kata Arsenio sambil mengusap lembut rambut Aruna.
Selama ini Aruna selalu merasa kalau dia yang paling menderita, tapi ternyata Arsenio lebih malang dari dirinya.
“Lalu kamu tinggal dengan siapa selama ini?” tanya Aruna takut-takut.
“Dari kecil sampai aku lulus Marity, aku tinggal di Galen bersama keluarga jauh Ibuku. Tapi untungnya orang tuaku mewariskan harta yang lumayan banyak untukku, hingga aku masih bisa bertahan hidup” jawab Arsenio.
“Sekali lagi maafkan aku Arsen” mohon Aruna.
Arsenio menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
“Kamu tunggu disini sebentar ya , aku mau bertemu pak Victor di dalam sebentar” Arsenio mendudukkan Arsenio mendudukkan Aruna di kursi besi yang ada di depan toko kue sederhana yang diyakini milik pak victor.
Aruna pun menganggukkan kepalanya. Cukup lama Arsenio didalam sana, karena merasa bosan Aruna berjalan-jalan sebentar. Tapi siapa sangka dia melihat seorang anak kecil yang sedikit lagi masuk ke dalam selokan. Secepat kilat dia menggunakan zanna yang dia miliki untuk membuat anak itu tidak jadi jatuh. Untung saja dia cepat melakukannya, dia kemudian mendekati anak kecil itu untuk memastikan keadaannya.
Saat membalikkan badannya, dia melihat Arsenio sudah di belakangnya dengan tatapan mata kecewa.
"Kamu..." kata Arsenio dengan suara bergetar.
Jantung Aruna rasanya mau berhenti berdetak, tanpa pikir panjang dia menggunakan kekuatan itu tanpa melihat sekeliling terlebih dahulu.
Aruna mendudukkan anak kecil itu di kursi yang ada disana. Dia kemudian mendekati Arsenio. Dia hendak meraih tangan Arsenio tapi dengan cepat Arsenio menjauhinya.
"Jangan sentuh aku!" kata Arsenio dengan suara meninggi.
"Arsen, aku mohon dengarkan aku dulu" mohon Aruna. Air matanya pun sudah lancang untuk turun.
Arsenio masih ditempatnya dengan menggenggam jarinya sendiri hingga buku-buku tangannya memutih. Dia marah dan sangat marah. Reaksinya sangat berbeda dengan Ardiaz dulu yang lebih tenang, Arsenio malah terlihat begitu marah dan sangat kecewa.
Bersambung...