
Hari sudah menjelang sore, 3 orang pemuda dan 3 orang gadis masih asyik bercengkrama di sebuah ruangan private restoran milik keluarga Baron.
Bila dilihat mereka seperti 3 pasang kekasih. Arsenio dengan Davina, Harmony dengan Yuanda dan terakhir Aruna dengan Baron. Padahal kenyataannya mereka hanya berteman.
"Mari bersulang" Baron mengajak teman-temannya untuk bersulang padahal minuman mereka hanya jus jeruk saja, bukan minuman berbuih.
"Untuk kelulusan Aruna dan Davina" kini Harmony yang bersuara.
Mereka ber 6 pun kompak bersulang.
"Aruna, apa Andrea ada menghubungi bu?"tanya Yuanda tiba-tiba.
Aruna menggeleng.
"Kenapa? Apa dia tau aku tinggal di ducan?" tanya Aruna.
"Aku juga tidak tau, tiba-tiba saja dia menghubungiku dan menanyakan tentang mu. Dia sempat curiga kalau kamu tinggal di Laiz dan sering bertemu dengan Ardiaz. Ardiaz sampai pindah ke asrama dan bisnisnya jadi terbengkalai karena itu" jelas Yuanda.
"Kenapa dia sampai merasa kalau aku ini akan mempengaruhi hubungan mereka? Tak sekalipun aku mengganggu mereka" Aruna sudah sangat capek berurusan dengan Andrea. 4 tahun sudah berlalu tapi Andrea masih saja mencari gara-gara dengannya.
"Itu karena sampai sekarang dia belum bisa mendapatkan hati Ardiaz. Dan dia mengira itu karena Ardiaz menyukaimu" Baron yang menjawab.
Aruna tersenyum muak.
"Bukan salahku Ardiaz tidak menyukainya. Lupakah dia kalau sikapnya yang seenaknya itu yang membuat Ardiaz tidak melirik padanya?" geram Aruna.
Harmony yang berada disebelah Aruna menepuk pelan pundak Aruna. Ini kali pertama dia melihat seorang Aruna mengeluarkan amarahnya.
"Aku pikir setelah pergi jauh dari mereka aku akan terbebas dari bayang-bayang Andrea, ternyata dia masih saja tidak suka padaku" Aruna sudah lelah berurusan dengan yang namanya Andrea.
"Ayo lupakan yang sudah lalu. Ada kami yang akan membantumu bila dia berani berulah" Baron angkat bicara.
"Benar, ada kamu" Yuanda ikut menimpali.
"Aku bilang tidak tau dan untungnya dia percaya" jawab Yuanda apa adanya.
"Sudah...sudah... Lupakan sejenak tentang itu, Mari bersulang" Baron merubah topik pembicaraan walau dia tau Aruna sudah terlanjur terjebak lagi ke dalam masa lalu.
"Aku belakang sebantar ya" kata Aruna lalu beranjak dari duduknya.
Setelah Aruna menghilang Baron langsung menyalahkan Yuanda.
"Kamu ini lihat situasi baru berbicara" kata Baron ketus.
"Maaf-maaf, aku takut lupa. Dan lagi aku dengar dari Ayah kalau dia akan pindah kesini. Dia diterima sebagai model di salah satu agensi. Bagaimana kalau sampai Aruna yang meriasnya suatu saat nanti?" Yuanda menceritakan apa yang dia dengar.
"Dia tidak akan bisa berbuat macam-macam selama Aruna bekerja pada Usha. Walau dia anak seorang Qabil sekalipun." Arsenio yang dari tadi diam akhirnya buka suara.
"Semoga saja" kata mereka hampir bersamaan.
"Aku yang akan menjamin itu" lanjut Arsenio.
"Aku anggap ini janji mu ya Arsen. Kamu harus menjaga Aruna. Aku tidak bisa melihat dia terpuruk seperti dulu. Aku tidak tega" Harmony sudah hampir mengeluarkan air matanya bila Davina tidak segera menepuk pundaknya.
"Jangan bersedih." hibur Davina.
Harmony pun menganggukkan kepalanya.
"Aruna pasti bahagia memiliki teman sebaik kalian. Dia pasti kuat demi kalian" Davina berkata sambil melihat satu persatu wajah teman-temannya.
Tanpa mereka sadari Aruna mendengar pembicaraan mereka.
"Terima kasih teman-teman" kata Aruna dalam hati.
Bersambung...