
Ditemani semilir angin, Aruna , Davina dan Arsenio sudah menerbangkan Ayglo mereka menuju kediaman Usha.
Davina sangat senang karena Arsenio mau menemui Ibu mereka. Walau bagaimanapun Ushi adalah Ibu yang melahirkan mereka. Selama perjalanan Aruna terus melihat keluar, memandangi awan dan juga Ayglo Ayglo lain yang melintas.
Davina yang duduk disebelahnya mengelus perut Aruna yang sudah nampak membuncit.
"Sudah lama ya sejak terakhir kali kita bertemu. Keponakanku sudah semakin besar di dalam sini" ucap Davina masih dengan mengelus elus perut kakak iparnya.
"Doakan ya bibi semoga keponakan mu sehat selalu" ucap Aruna.
"Pasti dong" sahut Davina sambil membawa Aruna ke dalam pelukannya.
Tak lama akhirnya mereka sampai di kediaman Usha. Pengawal yang melihat kedatangan Arsenio nampak terkejut. Tidak ada larangan dari Usha bila Arsenio datang jadi mereka pun membiarkan Arsenio masuk begitu saja.
Setelah sampai di halaman, Davina turun lebih dulu dan menuntun sang kakak ipar yang memang perutnya sudah terlihat sedikit membuncit. Orang-orang sekali melihat pun sudah tau kalau Aruna sedang mengandung. Dibelakang mereka Arsenio mengikuti dengan wajah datarnya.
Usha pun sebenarnya menyadari kedatangan anak dan menantunya. Tapi beliau memilih tidak menyapa dan masuk ke ruangannya saja. Rasanya masih enggan untuk bertemu.
Dengan riang Davina langsung mengajak Aruna dan Arsenio masuk ke dalam kamar Ushi. Disana Ushi terlihat berbaring dengan wajah sendunya. Ushi sebenarnya sudah berulang kali meminta sang suami untuk memaafkan anak mereka dan menerima Aruna sebagai menantu. Tapi sepertinya banyak hal yang menjadi pertimbangan Usha hingga beliau masih enggan untuk memaafkan. Apalagi sampai sekarang Arsenio tidak berusaha meminta maaf sekalipun. Sifat keduanya yang hampir sama membuatnya menjadi semakin sulit.
Ushi langsung melihat ke arah pintu yang terdengar di buka. Matanya berbinar bahagia melihat anak dan menantunya. Apalagi sang menantu perutnya sudah terlihat kalau sedang mengandung.
Ushi dudukan tubuhnya dan merentangkan tangannya. Arsenio merangkul istrinya kemudian mendekati Ushi. Bukan Arsenio yang Usha peluk tapi Aruna. Ushi langsung saja menumpahkan air matanya.
"Maafkan Ibu yang tidak pernah menemui mu. Bagaimana keadaan cucu ibu?" ucap Ushi tak terduga. Melihat itu tentu saja Aruna sangat terharu. Sudah lama dia merindukan sosok ibu dan sekarang mertuanya juga menyebut dirinya Ibu.
Ushi melerai pelukannya dan mengelus perut Aruna yang sudah nampak membuncit.
"Sudah berapa usia kandunganmu nak?" tanya Ushi masih memegang perut menantunya.
"Lima bulan, bu" Aruna benar-benar gugup saat menjawabnya. Dia takut Ushi keberatan karena dia ikut memanggil Ibu.
"Maaf pernikahan kalian diadakan tanpa Ibu dan Ayah. Ini semua karena suamimu" ucap Ushi sambil melirik ke arah putranya.
Arsenio mendekat.
Ushi kembali menitikkan air matanya. Dia kemudian memeluk putra satu-satunya itu. Putra yang harusnya menjadi seorang Usha suatu saat nanti.
"Kenapa kamu melakukan hal ini nak? Ibu dan Ayah tidak mungkin menentang hubungan kalian bila kamu mau jujur dari awal" ucap Ushi.
Arsenio melepas pelukannya.
"Maaf bu, ini semua salahku. Aku sangat jahat bu. Aku gunakan rahasia istriku untuk mengancamnya agar mau menikah denganku. Maafkan anakmu ini ibu" ucap Arsenio penuh sesal.
"Apa?" Ushi nampak terkejut.
"Jadi selama ini menikah denganmu karena terpaksa?" ucap Ushi masih dengan ketidak percayaannya.
"Awalnya begitu, tapi sekarang kami sudah saling mencintai Bu" jawab Arsenio dengan menundukkan kepalanya.
Ushi menutup mulut tidak percaya. Ternyata ini alasan anaknya tidak menceritakan tentang pernikahannya.
"Tidak bu, aku sama sekali tidak terpaksa menikahi Arsenio" Aruna angkat bicara.
"Aku hanya tidak berani mengungkapkan perasaanku karena aku pikir Arsenio mencintai Davina" imbuhnya.
Ushi semakin terkejut.
"Memang sangat rumit diantara mereka berdua bu" Davina ikut menyela. "Jadi aku mohon, restui mereka" lanjutnya.
Davina pun mendekat dan merangkul Ibu, Kakak dan Iparnya.
"Aku ingin kita hidup bahagia seperti dulu. Keluarga yang rukun dan harmonis" ucap Davina pula.
Tanpa mereka sadari ternyata Usha mendengar semua yang mereka bicarakan
Bersambung...