
Berita tentang keikutsertaan Arsenio membantu penanganan para pendemo tentu saja di dengar oleh Usha.
Wajahnya begitu datar ketika mendengar kabar itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia kagum pada anaknya sama sekali.
Berbeda dengan Ushi, beliau begitu bangga karena Arsenio tumbuh menjadi pria dewasa yang begitu kuat. Dia bahkan mampu membekukan pendemo tanpa menggunakan zanna yang dia miliki. Arsenio mampu menunjukkan kalau dia memang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Wajah Ushi begitu berseri-seri, dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Beliau pun menghampiri sang suami di ruangan kerjanya. Tapi siapa sangka wajah suaminya benar-benar tidak bisa ditebak.
"Sayang..." panggil Ushi lalu mendekati Usha.
"Kenapa? Apa kamu tidak bangga dengan kemampuan putra kita?" tanya Ushi yang masih tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya. Sudah jelas-jelas Mariolah yang mencuri zanna tapi tetap saja Usha belum memaafkan Aruna.
Kesalahan Aruna hanya tidak langsung menyerahkan diri. Tapi bila orang lain diposisi Aruna mungkin mereka akan melakukan hal yang sama bahkan bisa saja mereka memanfaatkan zanna yang dimiliki. Tapi Aruna bahkan tidak sembarangan munggunakan zanna itu.
Ketakutan bahwa hukuman mati yang akan dia terima tentu membuat Aruna memilih menyembunyikan kebenaran itu.
Dan... Mengenai Arsenio. Dia memang salah karena dia menyembunyikan semuanya dari sang Ayah. Mungkin Usha menganggap bahwa Arsenio telah berkhianat karena lebih berpihak pada musuh.
Ya.. Memang itulah kesalahan Arsenio, rasa cintanya yang begitu besar pada Aruna membuatnya rela melawan kedua orang tuanya.
Usha sama sekali tidak menjawab bertanyaan istrinya. Beliau hanya diam dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Ushi menghela nafas berkali-kali. Dia sangat kesal dengan sikap pendendam dari suaminya. Bahkan kata maaf untuk putranya sendiri pun sulit sekali keluar dari mulutnya.
"Terlepas apapun kesalahan Nio, dia tetaplah putra kita" ucap Ushi sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Tapi Usha seperti tuli. Dia sama sekali tidak merespon apapun yang diucapkan Ushi bila itu mengenai Arsenio.
Di kediaman Andrea.
Suasana begitu ricuh. Pendemo yang tadi juga masuk ke rumah itu telah memporak porandakan semua barang-barang yang ada disana.
Andrea dan Ibu tirinya bahkan sampai bersembunyi di ruang bawah tanah.
Di dalam ruang bawah tanah Andrea dan Ibunya saling berpelukan seraya menangis. Dia tidak menyangka kalau hidupnya akan seperti ini.
Dia kehilangan semuanya di saat yang hampir bersamaan.
Kehilangan Ardiaz dan sekarang kehilangan seluruh kekayaannya. Sudah bisa dipastikan apa yang akan terjadi pada kehidupannya sekarang.
Apalagi dia tidak mempunyai pekerjaan. Rasanya dia ingin bunuh diri saja.
Dalam keterpurukannya kini Andrea sadar apa yang sudah dia lakukan pada Ardiaz dan Aruna. Karena iri Andrea sengaja memisahkan Aruna dengan Andrea tapi kini malah Aruna menikah dengan Arsenio. Gagal sudah semua rencananya yang ingin membuat Aruna semakin terpuruk. Dia merasa Aruna tidak selevel dengannya tapi mendapat perhatian yang begitu besar dari Ardiaz.
Awalnya Andrea hanya ingin membuat Aruna sadar akan status sosialnya tapi lama-lama dia semakin ketagihan untuk membuat Aruna jatuh.
Saat Andrea mendengar berita kalau nenek Aruna telah meninggal, saat itulah dia sengaja meminta orang tuanya untuk menjodohkan dirinya dengan Ardiaz agar Aruna merasa semakin terpuruk.
Tapi sekarang Aruna mendapatkan semuanya. Dia mendapat kebahagiaannya walau bukan bersama Ardiaz sedangkan Andrea sendiri malah mengalami keruntuhan disaat yang hampir bersamaan.
"Hu...hu...." Andrea semakin menangis dalam pelukan ibu tirinya.
"Aku sudah tidak memiliki apapun" raung Andrea dalam setiap tangisnya.
Bersambung...