Magic

Magic
Seperti Biasa



Aruna dan Arsenio berpandangan cukup lama, di menit berikutnya Arsenio segera memalingkan wajahnya.


Aruna mengelus dadanya yang tiba-tiba berdetak kencang tanpa alasan.


"Mungkin karena ini pertama kali kami berpandangan" batin Aruna masih mengelus-elus dadanya yang terasa bergemuruh hebat hanya gara-gara berpandangan dengan Arsenio.


Aruna kemudian kembali duduk di kursi panjang yang ada di Balkon. Dia naikkan kakinya dan tertidur disana.


Saat Aruna terbangun ternyata langit sudah gelap. Padahal waktu menunjukkan pukul 5 sore. Mungkin karena cuaca mendung jadi terlihat gelap gulita.


"Ternyata aku tidur hampir 5 jam" kata Aruna sambil menepuk jidatnya sendiri. Perjalanan melelahkan dari Jad ke Ducan membuatnya merasa capek dan ngantuk disaat bersamaan.


Di dalam kamar sudah tidak ada Davina. Aruna kemudian memilih untuk mandi sebelum pulang.


Selesai mandi Aruna langsung merapikan pakaiannya dan segera turun ke lantai 2. Walau Arsenio masih ketus Aruna bertekad untuk pulang sendiri. Tak apa baginya berjalan kaki.


Saat turun Aruna sudah melihat Arsenio dan Davina kembali mesra.


"Ya Tuhan, cepat sekali berubahnya. Mirip bunglon" batin Aruna. Saat ini dia masih berdiri di tangga dan menatap tidak percaya pada sosok Arsenio dan Davina yang seolah tidak memiliki masalah apapun.



"Baguslah kalau mereka sudah baikan" batin Aruna.


Perlahan dia pun turun dari tangga. Dia akan berpamitan untuk pulang. Dia merasakan entah bagaimana saat melihat Arsenio dan Davina semesra itu.



Mungkin dia merasa iri karena tidak pernah memiliki kesempatan dekat dengan seorang pria. Kecuali Ardiaz, walau dia dan Ardiaz sangat mustahil bersama.


"Aruna...kamu sudah bangun? Tadi tidurmu nyenyak sekali, aku tidak tega membangunkan" ujar Davina saat Aruna sudah mendekat.


"Tidak apa Davina, aku pamit pulang ya. Sudah gelap" pamit Aruna.


"Biar Nio yanh mengantarmu pulang" kata Davina kemudian.


"Ayo aku antar" tanpa merespon penolakan Aruna, Arsenio langsung berdiri menuju Ayglonya terparkir.


Mau tidak mau Aruna pun mengikuti. Sebelumnya dia sudah berpamitan pada Davina.


...


"Sudah?" tanya Arsenio pada Aruna saat baru saja memasuki Ayglo miliknya.


Aruna pun menganggukkan kepalanya.


"Tumben, biasanya tidak pernah kayak gini" batin Aruna merasa aneh.


"Apa mungkin setiap berantem kemudian berbaikan dia akan menjadi lebih manusiawi" batin Aruna lagi.


"Kenapa?" tanya Arsenio yang heran melihat Aruna seperti orang sariawan. Padahal dia yang biasanya begitu.


"Ah... Tidak apa" jawab Aruna.


"Baron mengajak kita berkumpul besok, itu alasannya aku mempercepat kepulangan kita" kata Arsenio tiba-tiba. Dia seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Aruna.


"Oh..iya" jawab Aruna sekenanya.


"Kamu jam berapa aku jemput?" tanya Arsenio, secara tidak langsung dia mengajak Aruna untuk pergi bersamanya untuk menemui Baron.


"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri" Aruna sepertinya harus menjaga jarak dari Arsenio.


"Aku akan menginap lagi di rumah Davina, jadi kamu tidak perlu takut merepotkanku" Arsenio menjelaskan.


Aruna sebenarnya heran dengan hubungan antara Davina dan Arsenio, mereka berpacaran dan tinggal bersama. Walau memang tidak tidur bersama. Apa tidak takut ada setan diantara mereka kalau hanya berdua saja? Itulah salah satu yang ada dibenak Aruna selama ini. Karena ini bukan kali pertama Arsenio menginap di rumah Davina.


Bersambung...