Magic

Magic
Jangan-Jangan



Hari berlalu dengan cepat, pernikahan Aruna dan Arsenio sudah berjalan hampir dua bulan. Selama itu Arsenio bersikap kadang manis dan kadang akan sangat cuek. Apalagi kalau sudah berurusan dengan Davina, rasanya Aruna merasa di nomor duakan. Sayangnya Aruna tidak bisa tegas pada suaminya. Sebagai istri harusnya Aruna bisa menasehati suaminya untuk tidak dekat dengan wanita selain istrinya. Bisa dikatakan Aruna terlalu bodoh dan tidak berani berbicara dengan suami sendiri. Aruna masih belum tau bagaimana perasaan Arsenio padanya karena itulah dia tidak bisa bertindak lebih. Syukur-syukur Arsenio masih mau berterus terang kalau akan menemui Davina. Aruna pernah menanyakan apakah Arsenio sudah mengatakan tentang pernikahan mereka pada Davina tapi Arsenio selalu mengalihkan pembicaraan.


Dan hari ini Arsenio sedang menjemput Davina untuk menginap dirumah mereka. Lalu apa yang harus Aruna katakan? Apa Aruna harus pindah kamar?. Seharian ini Aruna memikirkan itu sampai kepalanya mau pecah. Untung saja dia sedang libur bekerja. Aruna duduk di sofa sambil memegang kepalanya yang sakit. Dia stress memikirkan bagaimana harus bersikap. Aruna merasakan kepalanya berputar.


“Ya Tuhan, pusing sekali” gumannya pelan. Aruna langsung tertidur di sofa karena sakit kepala yang dia rasakan.


Saat membuka mata Arsenio sudah duduk di sofa yang sama dengan dia tiduri. Wajahnya terlihat cemas.


“Kamu kenapa?” tanyanya kemudian.


Aruna mengerjap-ngerjapkan matanya. Takut hanya berhalusinasi. Karena baru saja Arsenio akan menjemput Davina.


Tak kunjung mendapatkan jawaban Arsenio kemudian menyentuh kening Aruna.


“Ya Tuhan, kamu demam” kata Arsenio. Terdengar nada khawatir disana.


“Kamu sakit Aruna?” itu adalah suara Davina. Aruna lalu menolehkan kepalanya mencari sumber suara itu.


Melihat Davina semakin membuat kepala Aruna ingin pecah.


Dia pegang kepalanya sambil menutup mata.


“Sepertinya kamu harus memanggil dokter , Nio” saran Davina.


Arsenio pun mengangguk setuju. Dia kemudian menelepon dokter yang tempat prakteknya paling dekat.


“Kamu istirahat ya Aruna” kata Davina sambil mengelus lengan Aruna.


Aruna hampir menangis.


“Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku sudah mengecewakan orang sebaik Davina”.


Aruna kembali merasakan kepalanya yang berdenyut kian intens hingga dia pun tak sadarkan diri.



Dokter telah memeriksa keadaan Aruna, dugaan sementara adalah dia mengalami stress. Selain itu ada kabar tak terduga lagi. Aruna sedang mengandung anak Arsenio.


Tapi dokter berpesan pada Arsenio untuk tidak membuat Aruna menjadi stress selama kehamilan karena akan berpengaruh pada kesehatan ibu dan janin.


Arsenio merasa cemas dan bahagia yang luar biasa disaat bersamaan.


“Selamat ya Nio” kata Davina sambil memeluk erat tubuh Arsenio.


“Terima kasih Davina” kata Arsenio sambil membalas pelukan Davina.


Saat Davina dan Arsenio berpelukan, Aruna membuka matanya dan harus melihat pemandangan yang selama ini dia takutkan. Melihat secara langsung lagi suami dan sahabatnya berpelukan.


Aruna meneteskan air matanya. Secepat kilat dia menghapusnya agar tidak ada yang menyadari. Tapi terlambat, Davina melihatnya. Dia pun melepas pelukannya pada Arsenio dan menghampiri Aruna.


“Aruna… bagaimana keadaanmu?” taya Davina.


Aruna sekuat tenaga tersenyum dan berhasil tapi Davina tau itu senyum kesedihan karena mata Aruna tidak bisa berbohong. Dia sedang sedih saat ini.


“Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah mengkhawatirkan ku” jawab Aruna masih berpura-pura tersenyum.


Arsenio pun mendekat dan membelai rambut Aruna, tapi dengan cepat Aruna menghalau tangan itu. Dia tidak ingin Davina kecewa kalau ternyata Aruna dan Arsenio sudah menikah. Aruna menyakini kalau Davina belum mengetahui fakta itu karena dia melihat sendiri mereka masih berpelukan. Tidak mungkin Davina mau memeluk suami orang. Itulah yang ada dipikiran Aruna.


“Kenapa?” tanya Arsenio yang kecewa istrinya tidak mau disentuh.


Davina kini tau apa yang ada dalam pikiran Aruna.


“Jangan… Jangan….” batin Davina.


Bersambung...