
Aruna dan Arsenio sedang berendam di kamar mandi mereka dengan posisi Arsenio memeluk dari belakang. Aruna tidak bisa protes sama sekali, dia jadi seperti wanita murahan yang merebut pacar teman sendiri. Tapi kenyataannya mereka sudah menjadi pasangan suami istri, bila Aruna menolak bukankah jatuhnya dosa?.
"Kenapa diam saja?" tanya Arsenio karena dari tadi Aruna terlihat bengong. Dagu Arsenio sudah bertumpu di pundak Aruna. Tangan nakalnya me re mas benda kenyal yang mirip buah melon itu. Ukurannya yang besar hingga tidak bisa dijangkau menggunakan satu tangan.
Aruna pun menggelengka kepalanya.
"Aku hanya bingung bagaimana caranya menyampaikan pada teman-teman" jawab Aruna kemudian.
Arsenio yang masih bermain-main dengan buah favoritnya kemudian menghentikan sejenak aktifitasnya. Tapi tangannya masih berada disana.
"Sudah aku katakan, biar aku yang memberitahu mereka. Kamu cukup bilang kalau kamu mencintaiku, bisa kan? Masih 3 bulan lagi baru kita akan bertemu mereka " kata Arsenio cuek.
Ingin rasanya Aruna bertanya bagaimana dengan Davina. Tapi mendengar jawaban Arsenio yang meminta Aruna untuk tidak terlalu memikirlamnya membuat dia mengurungkan niatnya.
Arsenio kembali bermain-main dengan bagian favoritnya.
"Ternyata punya mu sebesar ini" kata Arsenio dengan santainya, seolah itu hal biasa. Padahal Aruna sangat malu mendengarnya.
Lagi-lagi wajah putihnya terlihat merah padam. Rasanya Arsenio tidak puas hanya me re mas saja. Dia kemudian membalik tubuh Aruna dan mulai melahap benda favoritnya itu.
"nghhh..." suara lenguhan kembali lolos dari bibir mungil Aruna. Suara yang terdengar segsi dan membangkitkan gairah seorang Arsenio.
Arsenio semakin intes melahap buah itu. Dia bagaikan bayi yang kehausan. Aruna merasakan nikmat dan geli disaat bersamaan. Tangan Aruna tanpa sadar menekan kepala Arsenio untuk tidak berhenti melakukannya.
Bagian tubuh bawah Arsenio sudah menegang dari tadi. Dengan sekali hentakan miliknya sudah bersarang pada inti tubuh Aruna.
Suara erangan kembali terdengar dari bibir Aruna membuat Arsenio tidak sabar untuk melahap bibir mungil itu. Dengan terus memberikan hujaman Arsenio mencium istrinya dengab menggebu. Aruna pun yang sudah diliputi gairah melakukan hal yang sama. Mereka saling bertukar peluh di dalam air.
...
Mereka sudah di ataa ranjang dengan saling memeluk. Arsenio sudah tertidur dengan lelapnya dengan tangan melingkar di perut istrinya. Berbeda dengan Arsenio, Aruna malah tidak bisa tidur sama sekali. Dia kemudian mengambil wizz miliknya yang memang sudah dia letakkan di atas nakas.
Saat itu juga ada panggilan masuk dari Davina. Aruna sangat gugup. Dia bingung harus mengangkatnya atau tidak. Aruna kemudian memilih mengabaikan saja pangilan itu.
Dia letakkan kembali wizz itu di atas nakas kemudian berusaha untuk menutup matanya. Padahal tubuhnya terasa remuk karena percintaan mereka barusan yang sampau berkali-kali, tapi entah kenapa Aruna malah tidak bisa tidur.
Aruna pandangi wajah tampan Arsenio yang sedang tertidur lelap.
"Kenapa kita bisa berakhir seperti ini? Apa yang harus aku katakan pada Davina? Bukankah aku sangat jahat sebagai teman?" batin Aruna sendu.
"Bagaimana kalau aku hamil?" batin Aruna pula.
"Apa memang itu tujuan Arsenio? Membuat ku hamil dan tidak bisa lari? Padahal aku tidak akan lari walaupun tidak menikah".
"Ya, sepertinya memang itu cara Arsenio untuk mengikatku".
"Semoga saja aku tidak jatuh cinta padamu Arsen, aku tidak mau jatuh cinta sendiri. Karena aku yakin kamu tidak akan bisa melupakan Davina."
Bersambung...