
“Maafkan aku sudah berkata yang tidak-tidak. Aku hanya tidak ingin kamu terkena masalah” kata Baron sebelum mengakhiri pembicaraannya.
“Tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah memperhatikan aku sejauh ini” kata Aruna.
Baron menepuk pelan pundak Aruna kemudian kembali bergabung dengan Yuanda dan Arsenio.
Hari itu mereka habiskan dengan berbagi cerita dan tertawa bersama. Mereka sudah sepakat untuk melupakan yang dulu pernah terjadi.
….
Tahun demi tahun berganti. Hari ini adalah hari kelulusan Aruna dan Davina. Arsenio sudah lebih dulu lulus. Sedangkan Harmony , Baron dan Yuanda masih menunggu 3 bulan lagi.
Atas rekomendasi Ibu Mona, Aruna pun terpilih menjadi penata rias keluarga usha. Aruna sebenarnya ingin menolak, dia takut suatu saat nanti ketahuan memiliki zanna dan sangat membahayakan dirinya. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain.
Acara pelepasan mahasiswa pun baru saja selesai. Aruna dan Davina keluar dari gedung dengan senyum secerah mentari. Diluar gedung Arsenio sudah menunggu kedatangan mereka. Arsenio rentangkan tangannya dan menghadiahi pelukan pada Davina.
Aruna tersenyum dari tempatnya.
"Semoga kalian bahagia selalu" batinnya tulus.
Kini Davina dan Ardiaz adalah teman terbaiknya. Walau kadang-kadang Ardiaz ketus, tapi selebihnya dia sudah bisa lebih manusiawi ketika bersama Aruna.
Arsenio melepaskan pelulakannya pada Davina. Dia lepaskan jas yang dia kenakan karena lumayan gerah kemudian dia berikan untuk Davina bawa. Dia juga memperlihatkan hasil foto yang tadi dia ambil saat acara kelulusan.
"Wah... Makasih banyak Nio sayang" kata Davina riang sekali. Arsenio kemudian mengacak-acak rambut Davina saking gemasnya.
"Aruna, coba lihat ini. Aku juga mengambil fotomu" kata Arsenio pada Aruna.
Aruna pun mendekat dan melihat foto yang diambil Arsenio.
"Nanti aku minta ya fotonya" kata Aruna dan tidak lupa mengucapkan terima kasih.
"Aku dengar kamu akan bekerja di Urora milik keluarga Usha ya?" tanya Arsenio.
Aruna pun mengangguk.
Lagi-lagi Aruna mengangguk.
"Nanti aku antar cari rumah kontrakan yang bagus dan tidak terlalu mahal" kata Arsenio memberi bantuan.
"Terima kasih" kata Aruna," Sayang ya, Davina tidak ikut pindah" imbuhnya menyayangkan keputusan Davina. Davina lebih memilih tinggal di desa.
Davina yang mendengar itu hanya terkekeh saja.
"Aku sangat nyaman tinggal di desa." jawab Davina masih terkekeh.
Davina merangkul Arsenio kemudian memintanya untuk menemani ke pusat perbelanjaan. Davina akan belanja sepuasnya.
Belum sampai di parkiran telihat Baron, Yuanda dan Harmony datang.
"Mau kemana?" tanya Harmony, "Kami sengaja datang untuk mengajak kalian makan-makan. Sebagai ucapan selamat" imbuhnya.
Seketika Davina merubah haluan yang awalnya ingin shoping jadinya memilih menerima tawaran Harmony. Dia pun melepas rangkulan pada Arsenio dan gantian memeluk Harmony.
Davina memang seriang dan sehumble itu.
"Selamat ya Aruna. Doakan aku segera menyusul" kata Baron yang langsung saja mensejajarkan dirinya bersama Aruna.
"Amien, kamu pasti lulus dengan predikat terbaik seperti biasanya" kata Aruna.
"Hari ini kamu cantik sekali, aku sampai tidak bisa berkedip" kata Baron menggombal.
Yuanda yang mendengar gombalan Baron langsung memukul kepalanya pelan.
"Mulut tolong kondisikan" perintah Yuanda.
Baron mengelus kepalanya yang cukup sakit padahal Yuanda memukulnya tidak begitu keras.
"Awas kau ya!" umpat Baron pada Yuanda.
Yuanda berpura-pura memohon ampun kemudian berlari menyusul Arsenio yang sudah berjalan di depan.
Bersambung...