Magic

Magic
Mana kamar ku?



Siang menjelang sore, pasangan pengantin baru itu tiba di rumah Arsenio. Rumah yang cukup besar untuk ditinggali berdua saja.


Aruna masuk ke rumah itu sambil menyeret kopernya, sedangkan Arsenio sudah berjalan lebih dulu.


Ketika sudah berada di dalam rumah, Aruna bertanya pada Arsenio tentang dimana letak kamarnya.


"Kamarku yang mana ,Arsen?" tanya Aruna karena disana terdapat cukup banyak kamar.


"Kamarmu? Kamu lupa kita sudah menikah? Apa kamu pikir kita menikah hanya bohong-bohongan saja? Justru aku sengaja menikah dengan mu agar aku bisa mengikatmu" Arsenio sudah kembali pada mode saat awal dia mengenal Aruna. Ketus dan angkuh. Mungkin rasa kecewa karena Aruna sudah menyimpan rahasia ini bertahun-tahun ditambah Ardiaz yang ikut bersekongkol membuatnya semakin kecewa.


"Bu..bukan begitu maksudku" jawab Aruna tergagap. Dia gemetar bukan hanya karena kata-kata pedas Arsenio, tapi juga fakta baru yang dia dengar bahwa mereka akan satu kamar. Mendengar itu membuat Aruna ketakutan luar biasa.


"Ayo ikut aku" perintah Arsenio dengan nada ketus. Aruna pun menurut dan mengikutinya dari belakang.


Kamar Arsenio sangat rapi untuk ukuran kamar Pria. Tentu saja ini pertama kalinya Aruna masuk ke kamar seorang pria.


"Letakkan bajumu disana" kata Arsenio sambil menunjuk ruangan walk in closet miliknya. Aruna mengangguk dan menuju ruangan itu, sekilas dia melihat foto Arsenio dan Davina saat mereka masih kecil. Ternyata mereka sudah lama saling mengenal.


"Ya Tuhan... Apa yang harus aku katakan pada Davina" batin Aruna sedih.


Aruna mulai merapikan pakaiannya. Memasukkan satu persatu ketempat yang masih kosong.


Arsenio masuk begitu saja dan membuka bajunya tanpa malu sama sekali. Aruna langsung menundukkan wajahnya. Tentu saja dia malu. Ini kali pertamanya dia melihat pria bertelanjang dada.


Wajah Arsenio tanpa ekspresi ketika mengganti pakaiannya di depan Aruna, seolah itu hal yang biasa buatnya.


"Kamu bisa masak kan?" tanya Arsenio sambil memakai kaos rumahan miliknya.


"Bisa" jawab Aruna pelan tanpa melihat ke arah Arsenio.


"Ishh... Kenapa dia santai sekali mengganti baju di depan ku" batin Aruna. Aruna sangat malu hingga wajahnya yang putih bagai salju itu terlihat memerah. Daun telinya juga seperti kepiting rebus.


Setiap Aruna diajak berbicara dia selalu menundukkan kepala tidak berani menatap Arsenio. Arsenio jadi paham kalau itu semua gara-gara dia dengan berani berganti pakaian disana.


Senyum jahat terbit dibibirnya. Dia mulai merencanakan hal-hal jahil untuk mengerjai istrinya.


Arsenio mendekatkan dirinya pada Aruna kemudian memeluk dari belakang. Dia tenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna dan meniup-niupnya.


Jangan tanyakan bagaimana expresi wajah Aruna saat ini. Dia bagaikan tersengat aliran listrik.


"Ya Tuahan...mau apa dia" batin Aruna takut.


Arsenio melepas pelukannya dan tertawa keras menerima respon Aruna yang sangat lucu menurutnya.


"Ha...ha...ha.....baru segini saja kamu sudah tegang. Apalagi kalau aku melakukan hal-hal extrem lainny" ujar Arsenio masij dengan gelak tawanya.


Cup.


Arsenio menghadiahi kecupan di pipi Aruna sebelum meninggalkan walk in closet.


"Jangan lupa masak" pesannya sebelum benar-benar menghilang.


"Ya Tuhan... Apa memang semua laki-laki seperti ini? Mereka dengan mudahnya skinship dengan lawan jenis yang bahkan dia tidak sukai?" batin Aruna tidak habis pikir.


Aruna tepuk-tepuk wajahnya sendiri.


"Jangan terbawa perasaan" ujarnya menyemangati diri sendiri. Bagaimanapun Arsenio sudah mempunyai wanita lain di hatinya.


Bersambung...