
"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Arsenio pada Aruna yang duduk disebelahnya. Dia atas meja ada berbagai macam makanan yang telah Davina beli. Ada ayam panggang, Steak daging, kentang goreng, Sosis pedas manis, Bihun goreng, Udang goreng tepung dan Salad.
Entah apa yang ada dipikiran Davina hingga dia memasan makanan sebanyak itu.
Mendengar kata sayang yang keluar dari bibir Arsenio membuat Davina mencebikkan bibirnya.
"Uek... Pengen muntah" guman Davina pelan sekali. Arsenio tidak peduli, dia kembali menanyakan pada istrinya mau makan apa.
"Ayam panggang saja , Nio" jawab Aruna. Dia kembali merasakan pusing dan mual pada tubuhnya.
Melihat wajah pucat Aruna membuat Arsenio khawatir. Dia usap perut Aruna seolah menyalurkan energi disana. Dan ajaib Aruna merasa lebih baik. Mungkin dari kecil anak mereka sudah menuruti kehendak ayahnya.
Nio kemudian mengambilkan 1 potong ayam panggang untuk Aruna. Tidak lupa dia menambahkan nasi dan bihun juga.
"Terima kasih Nio" kata Aruna saat Arsenio meletakkan piring yang sudah terisi banyak makanan di depannya.
"Sama-sama" balas Arsenio dengan mengulas senyum tipis.
Davina mencebikkan bibirnya.
"Dasar pengantin baru" ucapnya dalam hati.
Selesai makan malam mereka bertiga duduk diruang tamu sambil menonton TV. Jika biasanya Davina dan Arsenio akan saling merangkul dan Aruna duduk di sofa yang berbeda,sekarang sebaliknya.
Arsenio akan merangkul istrinya sedangkan Davina duduk di sofa berbeda. Wajah Davina bahkan tidak ada rasa cemburu sama sekali. Aruna jadi tidak habis pikir dengan hubungan mereka.
Apa ada orang berteman seperti itu?.
Aruna pandangi wajah Arsenio yang sedang larut dalam film di depan sana.
"Kenapa?" tanya Arsenio tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar besar di depan sana.
Dia tau Aruna dari tadi terus menatap ke arahnya.
"Sebenarnya kalian ada hubungan apa? Bukankah kalian berpacaran?" tanya Aruna mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya selama hampir 4 tahun ini.
Davina seketika tertawa mendengar pertanyaan Aruna.
"Memangnya kami terlihat seperti orang pacaran?" tanya Arsenio menatap lekat mata istrinya.
Aruna mengangguk.
"Davina yang bukan istriku berani mencium pipiku ya, tapi kenapa istriku tidak pernah mencium suaminya ya?" bukannya menjawab Arsenio malah mengeluarkan modusnya.
Davina menepuk dahinya.
"Modus!" batinnya kesal.
Aruna sendiri menyipitkan matanya.
"Jawab dulu baru aku mau mencium pipi suamiku!" tantang Aruna.
Arsenio tersenyum kemudian mendekatkan hidungnya pada sang istri.
"Davina itu adikku" jawab Arsenio.
Aruna sangat terkejut mendengar jawaban Arsenio.
"Adik?" tantanya membeo.
"Bukan adik, kita cuma beda 5 menit" ralat Davina.
Aruna membelalakkan mata tidak percaya.
"Kalian kembar?" tanya Aruna dengan keterkejutannya.
Arsenio pun menganggukkan kepalanya.
"Bukannya orang tuamu sudah meninggal sedangkan orang tua Davina bekerja disini?" tuntut Aruna.
Arsenio menghela nafas berat.
"Yang dimaksud Davina adalah keluarga yang mengasuh kami sejak kecil. Kami sudah tidak mempunyai orang tua kandung" jelas Arsenio.
Sebenarnya dia enggan membicarakan masa lalu yang menurutnya pahit untuk dikenang. Tapi tidak ingin sang istri kembali stress dan berpikiran yang tidak-tidak terpaksa dia pun mengatakan yang sebenarnya.
"Pantas saja saat pertama kali melihat Davina, Aruna seperti mengingat seseorang," batin Aruna.
Tapi setelah meyakini kalau mereka adalah sepasang kekasih Aruna kemudian berpikir kalau mereka jodoh makanya memiliki kemiripan.
Bersambung...