
Suara burung hantu terdengar dari luar rumah Aruna dan Arsenio. Rumah mereka memang dikelilingi halaman yang luas dan banyak pohon disana. Tak heran banyak binatang yang entah datang dari mana akan singgah di pohon-pohon yang ada disana. Tiga hari sekali akan ada tukang kebun serta asisten rumah tangga yang membersihkan rumah dan halaman rumah itu.
"Kamu tau, katanya kalau ada suara burung hantu berarti ada wanita yang sedang ngidam. Mitosnya seperti itu" kata Aruna yang mendengar jelaa suara burung hantu itu. Dia san Arsenio sedang duduk di balkom sambil menikmati minuman masing-masing. Aruna dengan susunya sedangkan Arsenio dengan kopinya.
Arsenio tentu saja terkekeh. Istri polosnya ini masih saja percaya dengan mitos.
"Kan kamu yang hamil sayang" jawab Arsenio masih dengan tawa kecilnya. Kini Arsenio sudah terbiasa memanggil Aruna dengan sebutan sayang. Tapi dia tidak pernah memaksa Aruna untuk ikut memakai kata sayang juga. Aruna pun tentu masih canggung bila mengucapkan kata sayang.
"Tapi aku kan sudah tau kalau sedang hamil, maksudnya bila orang itu belum tau kalau sedang hamil baru ada suara burung hantu.Bisa saja salah satu tetangga kita yang hamil" ucap Aruna meyakinkan suaminya.
"Ya mungkin saja tetangga kita"jawab Arsenio santai karena tak ingin berdebat dengan istrinya.
"Kalau benar berarti aku punya teman yang sedang hamil" ujar Aruna berbinar.
Lagi-lagi Arsenio terkekeh melihat expresi wajah imut istrinya itu.
Pintu kamar diketuk. Sepertinya itu adalah Davina. Dia masih tinggal disini sampai minggu depan karena akan merias Ushi dalam acara penting yang akan diadakan di kediaman Usha beberapa hari lagi.
"Boleh aku masuk?" tanya Davina dari seberang pintu.
"Masuk saja" jawab Arsenio sedikit berteriak.
Bukan tanpa alasan Davina meminta ijin sebelum masuk, pernah beberapa hari lalu Davina langsung nyelonong masuk, saat itu pasangan baru itu sedang berciuman mesra. Davina sampai menutup matannya karena sangat malu.
"Ada apa?" tanya Arsenio saat Davina sudah berdiri di depannya.
"Dibawah ada tamu, katanya namanya Andrea" jawab Davina.
Deg.
Mendengar nama Andrea membuat Aruna merasa tidak nyaman. Nama itu juga adalah nama yang sangat Aruna hindari saat ini.
"Untuk apa dia kesini?" tanya Arsenio dengan expresi wajah tak sukanya.
Bukannya menjawab Arsenio malah langsung berdiri dari duduknya.
"Kamu tidak boleh kemana-mana" titah Arsenio pada istrinya. Aruna pun mengangguk setuju.
Arsenio dan Davina pun turun untuk menemui Andrea.
Begitu melihat Arsenio turun, Andrea yang saat itu tengah duduk di sofa ruang tamu langsung berdiri.
"Arsen... Kamu tinggal disini juga?" tanya Andrea terkejut.
Dia tidak tau kalau Aruna dan Arsenio sudah menikah. Begitu pertunangannya dibatalkan oleh Ardiaz, Andrea langsung berpikiran kalau Arunalah penyebabnya. Setelah Ardiaz pindah ke Ducan dan bertemu Aruna, Ardiaz langsung membatalkan pernikaha. Itulah yang ada di dalam benak Andrea.
"Ini rumahku. Ada keperluan apa kamu kesini?" Tanya Arsenio ketus.
"Benarkah? Aku kira Aruna tinggal disini" ucap Andrea kaget.
"Lalu tadi kenapa nona bilang Aruna ada di atas? Tanya Andrea pula.
"Ada urusan apa kamu mencari istriku?" Arsenio terus melayangkan pertanyaan untuk Andrea.
Mendengar kata istri Andrea malah menjadi bingung. Mereka bahkan masih berdiri saat berbicara.
Andrea pandangi penampilan Arsenio dari atas sampai ke bawah. Dari dulu Arsenio memang begitu tampan dan gagah, dan setelah beberapa tahun tidak bertemu ternyata dia semakin tampan saja.
"Silahkan duduk" ucap Arsenio kemudian. Karena tidak sopan juga membiarkan tamu tak diudang lama berdiri.
Andrea kembali menelisik penampilan Arsenio. Dia juga pandangi wanita cantik yang duduk disebelahnya.
"Apa wanita ini yang dia maksud istrinya?" batin Andrea.