Magic

Magic
Pindahan



Aruna sudah siap dengan satu buah koper besar miliknya. Hari ini dia dan Arsenio akan mencari rumah kontrakan yang akan dia tempati selama bekerja di kota. Sementara sambil mencari rumah, Aruna akan tinggal dirumah Arsenio. Sebenarnya Aruna tidak mau tinggal disana, bagaimanapun juga tidak baik wanita dan laki-laki tinggal satu rumah. Tapi tidak ada pilihan lain, Harmony tinggal di asrama , kalau ditempat Baron dan Yuanda sama saja. Dan memang rumah Arsenio yang paling dekat dengan tempatnya bekerja.


Davina juga sudah terus membujuk Aruna untuk mau tinggal sementara di rumah Arsenio. Mau tidak mau Aruna pun menerimanya.


Jam 8 Pagi Arsenio sudah menjemput Aruna. Aruna kadang merasa heran, padahal Arsenio adalah abdi negara. Jam kerjanya padat, tapi dia sering terlihat bolak balik kota ke desa hanya untuk menemui Davina dengan mudahnya.


“Apa dia tidak mendapat teguran dari atasannya?” itulah yang dulu sering ada dipikiran Aruna. Tapi lama-lama terjawab karena ternyata Arsenio mendapat kedudukan tertinggi atas dedikasinya beberapa kali memecahkan kasus penting. Usha menganggap kemampuan Arsenio diatas rata-rata dan dengan mudah mengangkat jabatan Arsenio menjadi kapten.


“Tidak ada yang ketinggalan kan?” tanya Arsenio saat dia membantu memasukkan koper Aruna ke dalam Ayglo miliknya.


Aruna menggeleng pelan.


“Arsen, terima kasih ya kamu sudah banyak membantu ku”.


“Sama-sama” jawab Arsenio tersenyum tipis.


Mereka berdua kemudian langsung melihat-lihat rumah tanpa mampir ke rumah Arsenio terlebih dahulu.


"Bagaimana kalau yang ini?" tanya Arsenio pada Aruna. Mereka kini tengah berada di depan rumah kontrakan sederhana berpagar putih.


"Apa ini tidak terlalu mahal?" tanya Aruna. Sebenarnya bukan masalah uang. Dia takut Arsenio curiga kalau dia begitu mudahnya menerima tawaran tanpa menanyakan harga.


"Ayo kita masuk dulu sambil menanyakan harga" saran Arsenio.


Aruna pun menganggukkan kepalanya.


Mereka masuk ke dalam bersama-sama dan langsung disambut pemilik rumah yang memang sebelumnya sudah janjian dengan Arsenio.


Aruna mulai melihat-lihat ke dalam rumah dan sepertinya memang ini rumah yang bagus.


Harga yang tadi disampaikan pemilik rumah juga sesuai. Hanya saja rumah masih belum bisa ditempati karena harus di perbaiki sedikit. Mungkin lusa sudah bisa ditempati.


Selesai dengan urusan rumah, Arsenio mengajak Aruna untuk makan siang tidak jauh dari rumah kontrakan itu. Mereka hanya perlu berjalan kaki sebentar menuju rumah makan tersebut.


"Makanan disini enak, apalagi ayam panggangnya" jelas Arsenio saat mereka sudah sampai di Rumah Makan.


"Kamu pilihkan ya, biar aku tidak salah pesan" pinta Aruna dengan tersenyum.


"Baiklah, biar aku yang pesankan spesial untuk mu" kata Arsenio lagi-lagi tersenyum.


Akhir-akhir ini memang dia lebih banyak tersenyum.


"Ini dia pesanannya tuan putri" kata Arsenio sambil meletakkan pesanan mereka di atas meja.


Aruna hanya terkekeh saja.


"Terima kasih pangeran" balas Aruna dengan tawa kecilnya.


Arsenio pun ikut tertawa.


"Kenapa tidak dari dulu saja kamu sering tersenyum seperti ini, aku kan jadinya tidak takut padamu" kata Aruna sambil menjulurkan lidahnya.


"Jadi kamu takut padaku?" tanya Arsenio dengan gelak tawanya. Dia tidak menyangka Aruna takut padanya.


"Ya iyalah, kamu hanya bisa tersenyum saat bersama Davina" goda Aruna.


Arsenio hanya tersenyum tipis menanggapi.


Bersambung..m