
Ini sudah hari ke 10. Mereka sudah mengunjungi semua rumah sakit jiwa yang ada di Pulau Osmond tapi hasilnya nihil.
“Sayang, tidak perlu pengakuan mereka. Kita bisa tinggal disini dengan memulai hidup yang baru” kata Arsenio setelah keluar dari rumah sakit jiwa terakhir di kota Jad. Arsenio sudah pasrah dengan keadaan. Dia juga harus memperhatikan kondisi istrinya yang sedang hamil.
“Kita lanjut pencarian setelah anak kita lahir, bagaimana?” usul Arsenio.
Aruna pandangi perutnya yang masih datar itu. Selama ini dia terlalu cuek dengan kehamilannya. Mungkin benar kata Arsenio, sekarang lebih baik fokus dulu dengan kehamilan Aruna.
Aruna pun menganggukkan kepalanya.
“Pekerjaan apa yang harus kita ambil untuk menghidupi anak kita?” tanya Aruna.
Itulah yang dia takuti selama ini. Bila Usha menentang hubungan ini, bagaimana jadinya dengan kelangsungan hidup mereka?.
Aruna mungkin lupa kalau suaminya itu juga memiliki zanna, dengan zanna mereka tidak perlu khawatir dengan yang namanya uang.
Mungkin karena Aruna tidak pernah menggunakan zannanya karena takut ketahuan, jadinya dia tidak berpikir sejauh itu.
“Kita mempunyai zanna sayang. Apa yang kamu cemaskan? Kita tidak akan kekurangan apapun” jawab Arsenio.
“Bagaimana kalau orang-orang tau kalau kita memiliki zanna?”tanya Aruna khawatir.
“Ya tidak apa-apa, aku rasa juga lambat laun akan tersebar kalau aku adalah anak Usha yang ditutupi selama ini. Jangan terlalu khawatir. Semua akan baik-baik saja” ucap Arsenio menenangkan.
Mungkin karena dia seorang pria, Arsenio berpikiran sangat simpel dan tidak mau berpikiran jauh-jauh yang belum tentu terjadi. Berbeda dengan Aruna yang sudah paranoid.
Jam 10 malam akhirnya Aruna dan Arsenio sudah tiba kembali di kota Galen. Rasanya sangat capek setelah seharian berkeliling mencari Mario yang tidak tau dimana keberadaannya.
Aruna dan Arsenio berendam bersama di air hangat untuk menghilangkan penat dan rasa lelah di tubuh mereka.
Arsenio memeluk tubuh Aruna dari belakang dan mencium pelipisnya dengan penuh perasaan.
“Aku sangat mencintaimu, Aruna. Jangan tinggalkan aku demi dia” mohon Arsenio tiba-tiba.
“Iya, dia… Ardiaz… Siapa lagi? Pria yang kamu cintai” jawab Arsenio.
Aruna membalik tubuhnya dan melirik sengit ke arah suaminya itu.
“Sepertinya kamu sedang banyak pikiran, jangan berpikiran yang aneh-aneh. Jelas-jelas yang aku cintai itu adalah kamu” jawab Aruna dengan mencebikkan bibirnya kesal.
Arsenio terkekeh. Dia kemudian melahap bibir istrinya yang mengerucut itu.
“Aku mencintaimu” ucap Arsenio tepat diatas bibir istrinya.
“Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu” balas Aruna.
Arsenio pun tersenyum dan kembali memeluk istrinya.
“Ayo kita selesaikan mandi kita dan segera istirahat” pinta Aesenio.
Dia tidak ingin karena berendam malam-malam istrinya yang sedang mengandung itu menjadi sakit.
Saat sudah berbaring di tempat tidur, Aruna langsung terlelap dipelukan Arsenio. Sedangkan Arsenio malah tidak bisa tidur. Kini dia paham satu hal, rasanya ada yang tidak beres dengan Ayah dan Ibunya. Tidak mungkin mereka sampai tidak tau kalau yang mencuri zanna itu adalah Mario. Pasti ada sesuatu yang dirahasikan.
Arsenio jadi berpikir kalau mungkin saja Mario sebenarnya dikurung di penjara khusus yang ada dikediaman Usha.
“Apa sebenarnya ayah sudah tau tentang keberadaan Mario?” batin Arsenio.
“Tidak mungkin Ayah bisa kehilangan jejak Mario sampai bertahun-tahun. Rasanya sangat mustahil” batin Arsenio pula.
“Aku harus mencari tau” putusnya kemudian.
Bersambung...