Magic

Magic
Bertemu Ardiaz



Selamat membaca ❤️😍


.


.


Tak terasa waktu cepat berlalu. Aruna, Davina dan Arsenio sedang menikmati liburan semester di kota Jad. Kota yang terkenal karena hasil pertanian dan pekebunannya. Disana juga terdapat perkebunan teh yang begitu luas. Di dekat perkebunan teh itu juga terdapat villa villa yang memang digunakan oleh pewisata selama liburan. Bila ingin menghirup udara segar, kota Jad memang pilihan yang tepat.


Selain liburan, mereka juga akan menghadiri acara pernikahan salah satu pengajar mereka di Mariot. Aruna dan Davina sangat dekat dengan tenaga pengajar itu karena keduanya memiliki kemampuan merias yang hebat.


Aruna sudah siap dengan penampilan sederhananya. Dia menunggu di depan Villa sambil berjalan-jalan. Aruna sangat senang melihat hamparan hijau nan luas seperti ini.



Wajahnya yang tersenyum membuat Aruna terlihat cantik berkali-kali lipat.


Tak berapa lama, Arsenio dan Davina menyusul Aruna yang sedang menikmati pemandangan.


"Nio , bukankah Aruna sangat cantik?" Davina meminta pendapat Arsenio dan dia menjawab dengan anggukan kepala.


"Aruna... Kamu suka tempat ini?" tanya Davina saat mereka sudah sampai di tempat Aruna.


Aruna mengangguk.


"Iya, aku suka sekali. Rasanya menyejukkan hati" jawab Aruna.


"Syukurlah, ayo kita jalan sekarang supaya bisa menyaksikan pernikahan Bu Moila"ucap Davina.


Kali ini Davina tidak lagi seperti biasa berjalan di depan dengan menggandeng Arsenio. Tapi dia lebih memilih menggandeng tangan Aruna. Sepertinya dia sadar kalau selama ini sudah menjadikan Aruna obat nyamuk.


Saat naik ke Ayglo, Aruna duduk di kursi penumpang bersama Davina sedangkan Arsenio seperti seorang driver yang duduk sendiri di depan.


"Kamu tidak duduk di depan? Kasihan Arsenio sendiri" kata Aruna saat melihat Davina duduk disebelahnya.


"Kamu juga biasanya sendiri kan?" sahut Davina cuek.


Aruna pun tidak memperpanjang lagi. Mereka kemudian mengobrol dengan pembahasan lain.


Arsenio sengaja menggunakan jakir darat karena cuaca kurang mendukung untuk perjalanan udara. Hujan gerimis yang berubah menjadi deras membuat Arsenio mengendarai Ayglo miliknya dengan hati-hati.


Alunan musik klasik menemani perjalanan kami. Davina bahkan tertidur di tempatnya karena cuaca yang mendukung juga musik klasik yang di putar Arsenio memang membuat mengantuk.


"Arsen, apa tidak apa-apa kamu memutar lagu ini? Kamu tidak mengantuk?" tanya Aruna yang juga mulai merasa mengantuk.


"Tak masalah. Kalau kamu mengantuk tidur lah. Aku sudah biasa" jawab Arsenio dengan masih fokus mengendarai Ayglo miliknya.


"Baiklah, aku tidur ya" balas Aruna yang diangguki oleh Arsenio.


Entah berapa lama dia tertidur, tau-tau saja hujan sudah berhenti turun. Tapi disebelahnya Davina masih tidur terlelap.


Aruna kemudian bertanya pada Arsenio apa boleh dia membuka jendela karena pemandangam diluar begitu indah.


"Arsen, apa aku boleh bukan kacanya?" tanya Aruna.


"Boleh" jawab Arsenio singkat.


Aruna kemudian melihat keluar jendela. Pemandangan hijau dan rerumputan terlihat begitu indah.


Jalanan yang awalnya sepi tiba-tiba saja mendadak sedikit macet karena ada iring-iringan pemerintahan yang lewat. Aruna melihat iring-iringan itu hingga matanya bersitatap dengan sosok yang sangat dia rindukan.


"Diaz..." kata Aruna tak bersuara.


Ardiaz yang akhirnya bisa melihat Aruna secara langsung tentu saja terkejut. Dia bahkan sampai membulatkan matanya tidak percaya. Tapi sedetik kemudian dia menyunggingkan senyum terbaiknya pada Aruna.


Aruna pun membalas senyuman itu hingga jalanan kembali lancar dan mereka pun berpisah kembali.


Ardiaz tidak tau kalau ayglo yang ditumpangi Aruna adalah milik Arsenio. Kalau saja dia tau kalau Arsenio sering bertemu dengan Aruna dia pasti akan mencerca Arsenio dengan banyak pertanyaan.


...


Tanpa sepengetahuan Aruna, ternyata Ardiaz mengikutinya sampai di tempat pernikahan. Ardiaz kembali terkejut ketika melihat Arsenio disana. Dia sempat mengira Arsenio merahasiakan ini darinya karena dia menyukai Aruna, tapi pikiran buruknya berubah ketika melihat tangan seorang perempuan cantik melingkar di lengan Arsenio.


“Ada apa ini sebenarnya?” batin Ardiaz. Ardiaz pun memutuskan untuk menunggu di luar. Tidak ingin mengganggu acara yang sedang berlangsung.


Hampir dua jam Ardiaz menunggu, selama itu banyak yang dia lakukan. Mulai dari mengecek laporan perusahaannya, wajib lapor pada Andrea dan juga keluar masuk Ayglo miliknya karena merasa bosan.


Ya, selama tinggal di Laiz selain melanjutkan study, Ardiaz juga membuka usaha kecil-kecilan. Dia menjadi supplier bahan baku makanan yang kemudian dikirim ke beberapa kota bahkan di luar pulau Osmond. Ardiaz yang memang menyukai bisnis sangat mudah bisa mengembangkan usaha kecil-kecilannya hingga menjadi perusahaan yang cukup besar dalam kurun waktu 1 tahun saja.


Lelah menunggu, akhirnya Aruna, Arsenio dan Davina keluar dari gedung. Seperti biasa Davina akan memeluk lengan Arsenio dan Aruna mengikuti di belakang. Melihat itu Ardiaz langsung keluar dari Ayglo miliknya dan menghampiri mereka bertiga. Tidak hanya Aruna yang terkejut tetapi juga Arsenio. Raut wajah Arsenio tidak terbaca ketika melihat Ardiaz datang. Mungkin dia bingung mencari alasan karena selama ini telah menutupi semuanya dari Ardiaz.


“Aruna…Bisa kita bicara sebentar?” tanya Ardiaz lembut.


Aruna membeku di tempatnya. Dia bingung harus menjawab apa.


“Boleh kan sen? Nanti aku antar lagi dia ke tempatmu.” entah kenapa Ardiaz malah meminta izin pada Arsenio.


“Aku tergantung Aruna” jawab Arsenio datar.


“Bagaimana Aruna?” tanya Ardiaz dan kali ini Aruna menganggukkan kepalanya.


Arsenio dan Davina kemudian mendahului mereka.


Ardiaz meraih tangan Aruna kemudian menuntunnya menuju Ayglo miliknya. Hal itu tak lepas dari perhatian Davina.


“Apa itu pacar Aruna?” tanya Davina pada Arsenio.


“Bukan” jawab Arsenio singkat.


“Tapi kelihatannya mereka saling menyukai” Davina berpendapat.


“Mungkin” jawab Arsenio malas-malas.


Davina jadi penasaran apa apa antara Ardiaz dengan Aruna.



Aruna dan Ardiaz sudah duduk di salah satu kursi besi di pinggir jalan yang menyajikan pemandangan perkebunan teh. Ardiaz sangat tau kalau Aruna menyukai tempat yang berbau kehijauan seperti ini.


“Bagaimana kabar mu Aruna?” tanya Ardiaz memulai pembicaraan mereka.


Saat ini mereka duduk bersebelahan dengan saling berpandangan.


Aruna mengalihkan pandangannya. Dia sangat takut ditatap seperti itu oleh Ardiaz. Aruna menjadi salah paham kalau Ardiaz menyukainya. Padahal Aruna sangat yakin kalau Ardiaz hanya iba padanya.


"Aku baik" jawab Aruna sambil menundukkan kepala.


"Syukurlah. Aku begitu khawatir melihatmu menghilang. Kamu tinggal dimana?" tanya Ardiaz.


"Aku tinggal di Ducan. Maaf sudah membuatmu khawatir dan aku juga berterima kasih karena kamu mau menjaga rahasiaku selama ini" ucap Aruna masih menunduk.


Ardiaz memegang kedua pundak Aruna.


"Ceritakan kepadaku dari mana kamu dapat kekuatan itu?" tanya Ardiaz menuntut penjelasan.


Bersambung....