
“Bisakah kalian keluar dulu? Aku ingin istirahat sebentar” ucap Aruna pelan sekali. Kepalanya rasanya kembali berputar-putar.
Arsenio ingin protes tapi Davina dengan cepat menarik tangannya untuk keluar.
“Nio, apa mungkin Aruna salah paham pada kita?” tanya Davina saat mereka sudah keluar kamar.
“Maksudmu?” tanya Arsenio tidak mengerti.
“Mungkin dia mengira kalau kita ada sesuatu” jelas Davina.
“Aku tidak pernah berkata kalau diantara aku dan kamu ada sesuatu” sahut Arsenio.
“Ya tapi kan dia bisa saja salah paham dengan kedekatan kita, menurut kita biasa saja tapi bisa saja menurut dia tidak kan? Bisa saja istrimu cemburu” kata Davina mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
Arsenio tertawa.
“Aruna tidak mungkin cemburu. Pria yang dia sukai adalah Ardiaz “ kata Arsenio tidak percaya.
“Aku yakin dia cemburu, apalagi dia sampai menangis tadi melihat kita berpelukan” ujar Davina pula.
Arsenio mengerutkan keningnya. Dia masih tidak percaya istrinya menyukai dirinya.
“Apalagi dia sampai hamil. Mana ada perempuan yang mau tidur dengan laki-laki yang dia tidak cintai” kata Davina ngotot.
“Benarkah?” batin Arsenio.
“Istrimu sampai stress gara-gara kita sering bertemu. Aku yakin 100% dia cemburu” kata Davina yakin.
Arsenio diam saja tidak merespon. Dia masih memikirkan ucapan Davina.
“Lagian kenapa tidak bilang saja kalau kita tidak ada hubungan apa-apa?” protes Davina.
“Aku tidak pernah bilang kalau kita ada hubungan. Jangan salahkan aku kalau dia berpikiran macam-macam” kata Arsenio tidak terima.
“Tapi kalau aku jadi Aruna mungkin akan berpikiran yang sama. Mana ada orang yang dekat seperti kita tapi tidak ada hubungan. Siapa yang percaya?”.
“Astaga” batin Arsenio.
“Sepertinya dia memang salah paham. Berulang kali dia menanyakan apakah aku sudah mengatakan kalau kami sudah menikah padamu tapi aku menganggapnya angin lalu karena menurutku tidak penting memberitahukannya padamu” kata Arsenio menyesali perbuatannya.
“Ya Tuhan… Aruna pasti berpikir kalau dia merebut kamu dariku” kata Davina terkejut. Dia bahkan memukul lengan Arsenio pelan saking kesalnya.
“Dasar keterlaluan!” bentak Davina.
“Sana jelaskan pada istrimu” kata Davina sambil mendorong tubuh Arsenio untuk masuk kembali ke kamarnya.
Saat masuk ke kamar Aruna terlihat sedang duduk bersandar di tempat tidur. Aruna melihat sekilas pada Arsenio kemudian langsung mengalihkan pandangan. Rasanya dia enggan melihat suaminya itu.
Melihat sikap Aruna membuat Arsenio mengulum senyumnya. Sepertinya istrinya ini memang benar cemburu. Arsenio duduk dipinggir tempat tidur dan menarik wajah Aruna dengan jempolnya agar melihat ke arahnya.
“Kamu cemburu?”.
Bukannya meminta maaf dan menjelaskan Arsenio malah melemparkan pertanyaan konyol pada istrinya.
Davina yang menguping dari luar langsung menepuk jidatnya.
“Arsenio……” teriaknya geram dalam hati tentu saja.
"Apa memang semua pria seperti itu? Menanyakan pertanyaan yang jawabannya ingin dia dengar tanpa meminta maaf terlebih dahulu? Batin Davina kesal.
Davina pun mengingat bagaimana dia dulu mengirimkan foto saat dirinya sakit dan Arsenio mengobatinya. Saat itu Davina belum tau kalau Arsenio dan Aruna sudah menikah, Davina hanya mengirimkan foto itu agar Aruna tidak khawatir karena ditinggal sendirian ke desa.
"Ya Tuhan... Dosa ku banyak sekali" batin Davina mengingat apa saja yang sudah dia lakukan hingga membuat Aruna salah paham.
"Dia pasti merasa bersalah" batinnya pula.
"Maaf Aruna" guman Davina pelan.
Bersambung...