Magic

Magic
Baron



Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Arsenio sudah menunggu di depan rumah Aruna. Arsenio tidak pernah mau diajak mampir kerumahnya. Sangat berbeda ketika dirumah Davina.


Hari ini Aruna mengenakan pakaian berwarna hitam dengan jaket berwarna senada. Rencananya mereka akan berkumpul di Gunung Wana yang cuacanya lumayan dingin



Dia juga memakai lipstik berwarna merah karena cuaca dingin biasanya membuat dia terlihat pucat. Jadi untuk menghindari iti dia memakai pewarna bibir. Tidak seperti biasanya yang hanya memakai lipgloss atau liptint.


Diluar dugaan ternyata Davina juga turut serta. Biasanya bila bertemu Baron dan kawan-kawan, Davina enggan ikut bersama.


Aruna tidak melihat Davina duduk di depan jadi dia kira Davina tidak ikut. Aruna malah sudah duduk disebelah Arsenio. Aruna hendak keluar dan duduk disebelah Davina tapi Davina melarangnya.


"Di depan aja gak apa Aruna, biar Nio ada teman ngobrol. Aku mau tidur" kata Davina yang langsung memejamkan matanya.


Aruna tentu tidak mau mengobrol terlalu akrab dengan pacar temannya. Malah Aruna ingin menjaga jarak. Dia takut terbawa perasaan.


Alhasil sepanjang perjalanan Aruna memilih memainkan wizz nya saja.Saat bertemu dengan Ardiaz beberapa hari lalu, Aruna tidak memberikan code wizz nya. Dia tidak mau mencari masalah, apalagi Ardiaz dan Andrea sudah resmi bertunangan.


"Kamu masih berhubungan dengan Ardiaz?" tanya Arsenio tanpa tidak diduga.


"Maksudnya berhubungan seperti apa?" tanya Aruna bingung.


"Maksudku dulu kalian kan sangat dekat, apa kalian masih seperti itu?" jawab Arsenio dengan pertanyaan juga.


Aruna menggeleng.


"Kami bahkan tidak bertukar code wizz, aku harus menjaga jarak dari pria yang sudah bertunangan" jawab Aruna yang seketika membuat Ardiaz lega.


"Baguslah. Baron juga sangat cemas akan hal itu. Dia takut kamu terkena skandal bila berdekatan dengan Ardiaz".


"Benarkah? Tapi kenapa dia bisa jadi baik denganku ya? Padahal dulu kamu tau sendiri dia memperlakukan aku seperti apa" kata Aruna yang memang merasa heran dengan sikap Baron.


"Semua orang bisa berubah" jawab Arsenio dengan tersenyum tipis. Senyum yang pertama kali Aruna lihat untuk dirinya. Biasanya senyum itu hanya untuk Davina seorang.


...


Mereka sudah sampai ditempat tujuan. Arsenio turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Davina. Seperti biasa mereka akan bergandengan tangan bila berjalan berdua. Mereka terlihat mengobrol akrab entah apa itu.


Aruna lagi-lagi mengikuti dari belakang bagai obat nyamuk.



Apalagi mereka memakai pakaian yang senada. Benar-benar best couple. Melihat tatapan Arsenio pada Davina membuat Aruna meleleh. Davina bagai ratu dihati Arsenio.


"Siapa ini?" tanya Baron saat melihat Arsenio datang bersama Davina.


"Hai, aku Davina teman baik Aruna dan Arsenio" jawab Davina riang dan menjabat tangan Baron, Harmony dan Yuanda secara bergantian.


"Senang bertemu dengan mu kembali" kata Yuanda saat dia menjabat tangan Davina.


"Ah.. Iya, kita bertemu di kediaman Usha kan?" Davina berusaha mengingat dimana pernah bertemu Yuanda.


"Benar" jawab Yuanda seraya tersenyum.


"Tidak menyangka ternyata dunia ini begitu sempit" kata Davina sambil menunjukkan senyum terbaiknya.


"Karena semua sudah berkumpul, Ayo kita ke villa ku" kata Baron kemudian mengajak temannya masuk ke villa nya di kaki gunung Wana.


"Hai Aruna, bagaimana kabarmu?" tanya Baron yang kini sudah berjalan beriringan dengan Aruna.


"Sama-sama, ku mohon lebih berhati-hati" kata Baron dengan tatapan yang sulit diartikan.


Aruna pun menganggukkan kepalanya.


"Sekali lagi terima kasih" ucap Aruna.


Mereka sudah masuk ke Villa mewah milik Baron. Para pelayan sudah menyiapkan barbeque dan perlengkapan camping lain.


Aruna, Davina dan Harmony duduk di pinggir kolam renang dengan kaki masuk ke dalam air. Mereka mengobrol dengan sangat akrab. Padahal ini pertama kali Davina bertemu Harmony tapi dia sudah langsung akrab. Mungkin karena itu Arsenio bisa jatuh cinta pada Davina. Itulah yang ada di pikiran Aruna.


Baron datang mendekat dan duduk disebelah Aruna.


"Aruna..." panggil Baron pelan.


"Ya?" tanya Aruna. Dia menatap Baron penuh tanda tanya.


"Apa saja yang kalian bicaran waktu itu?" tanya Baron.


"Kalian?" tanya Aruna bingung yang belum paham arah pertanyaan Baron.


"Iya, kamu dan Ardiaz" jawab Baron.


"Ooo... Aku hanya menjelaskan alasanku pindah kesini" jawab Aruna.


"Apa benar? Dia tidak mengungkapkan perasaannya padamu?" tanya Baron lagi.


"Sepertinya kamu salah paham , Baron. Aku dan Ardiaz hanya berteman dan Ardiaz. Dia tidak pernah menyatakan perasaan padaku. Dia hanya berkata kalau dia senang pernah menjadi temanku" jelas Aruna. Davina dan Harmony hanya diam dan me dengarkan pembicaraan antara Aruna dan Baron.


"Apa kamu tidak bisa membaca kalau dia menyukaimu?" tanya Baron.


Aruna menggeleng.


"Dia tidak menyukaiku Baron. Dia hanya menganggapku teman" jelas Aruna.


"Bagaimana kalau dia menyukaimu?" Baron kekeh dengan pendapatnya.


"Kami tetap tidak mungkin bersama. Karena bagaimanapun juga Ardiaz sudah bertunangan".


"Berarti kalau mereka tidak bertunangan kalian akan bersama?".


"Kenapa kamu bertanya begitu? Aku dan Ardiaz hanya berteman Baron, tidak lebih".


"Jujur padaku? Kamu menyukainya kan?" Baron terus memojokkan Aruna.


"Baron, stop" Harmony menyela.


"Kamu kenapa sih?" protes Harmony pula.


"Aku hanya tidak ingin Aruna kena masalah. Jangan berhubungan dengan orang yang tidak bisa memperjuangkan. Kalau dia suka , dia akan memperjuangkanmu. Bukan pasrah begitu saja" terang Baron.


Baron memang tidak suka dengan sikap Ardiaz yang terkesan cemen. Pasrah dan gampang menyerah. Dia bukan lelaki sejati. Harusnya kalau dia memang menyukai Aruna maka dia akan memperjuangkannya.


"Maka dari itu, aku kan sudah bilang padamu kalau Ardiaz hanya menganggapku sebagai teman. Tidak lebih. Dia hanya nyaman menceritakan keluh kesahnya selama ini" kata Aruna.


Ya.. Aruna memang tidak pernah mengharapkan Ardiaz menyukainya. Sudah bisa berteman dengan pria sebaik Ardiaz saja Aruna sudah sangat bersyukur.


Bersambung...