Magic

Magic
Selamat Tinggal



Acara pertunangan Ardiaz dan Andrea pun dimulai. Di atas panggung baik Andrea maupun Ardiaz sudah ditemani orang tua masing-masing. Keluarga kedua belah pihak terlihat sama-sama bahagia. Di depan sana Ardiaz mulai memasangkan cincin ke jari Andrea. Tepuk tangan menggema ketika cincin sudah tersemat di jari Andrea yang lentik. Andrea pamerkan cincin yang sudah melingkar di jarinya kepada audiens yang hadir saat itu.


Ditempatnya Aruna berusaha tersenyum. Sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menangis dan dia berhasil. Zanna sangat membantunya saat ini. Baron yang berdiri tak jauh darinya terus memperhatikan Aruna yang nampak tersenyum. Baron sangat yakin jauh di lubuk hati Aruna yang paling dalam dia sangat bersedih.


Tiba giliran Andrea memasangkan cincin di jari Ardiaz dan kembali riuh tepuk tangan menggema setelah cincin itu sudah melingkar di tangannya. Tidak seperti Andrea yang memamerkan tangan yang sudah tersemat cincin pertunangan, Ardiaz hanya tersenyum ke arah undangan.


Pembawa acara lalu meminta pasangan baru itu untuk berciuman. Lagi Aruna harus menelan pil pahit karena melihat adegan kemesraan antara Ardiaz dan Andrea. Beruntung baginya karena Ardiaz hanya menghadiahi ciuman kening pada Andrea.


Walau kecewa tapi Andrea tetap menunjukkan senyum manisnya. Dia tidak ingin orang-orang tau bahwa pertunangan ini hanya diinginkan oleh dirinya seorang.


Selesai acara tukar cincin, tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati kudapan yang sudah disediakan. Aruna seorang diri memilih makanan yang ingin dia cicipi, Harmony dan teman yang lain sudah lebih dulu mengambil dan sekarang duduk bersama di salah satu meja.


Saat sedang meletakkan brownies ke piring, Ardiaz datang menghampirinya.


"Aruna... Bisa kita bicara?" tanya Ardiaz yang tentu saja mengangetkan Aruna, untung saja kue yang dia ambil tidak sampai terjatuh.


Aruna mengangguk.


"Ikut aku" kata Ardiaz kemudian berjalan lebih dulu dan Aruna mengikuti. Tanpa mereka sadari Baron melihat kejadian itu dan diam-diam mengikuti. Sebelumnya dia sudah memastikan kalau Andrea masih sibuk menjamu teman-teman ayahnya sehingga tidak menggangu Ardiaz dan Aruna yang sepertinya sedang menyelesaikan masalah mereka.


Aruna dan Ardiaz duduk di taman yang ada di rumah Andrea. Taman yang berisikan lampu lampu indah. Untung saja tidak ada orang disana karena memang mereka sedang menikmati sajian yang telah disediakan keluarga Qabil di Kota Galen tersebut.


Lama mereka duduk disana tanpa ada yang berucap lebih dulu. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing.


Hem.


Ardiaz nampak mengatur ternggorokannya sebelum berbicara.


"Aruna, maaf setelah nenek berpulang aku tidak bisa menemuimu" ujar Ardiaz memulai pembicaraan mereka.


Aruna yang awanya tatapannya lurus kedepan kemudian menoleh ke arah Ardiaz yang ternyata juga melihat ke arahnya. Aruna tidak menjawab apa-apa, mereka hanya berpandangan dalam waktu cukup lama.


Aruna tersadar karena begitu lama memandang wajah sahabat yang begitu ia rindukan. Dia alihkan pandangannya kembali ke depan sebelum menjawab perkataan Ardiaz.


Aruna bahkan bisa tersenyum. Zanna benar-benar membantunya saat ini.


"Tidak perlu minta maaf. Aku mengerti karena kamu sibuk mengurus persiapan pertunanganmu" sahut Aruba kemudian.


"Kamu tidak marah padaku? Jujur aku tidak bisa tenang, tapi ada suatu dan lain hal yang tidak bisa aku beritahu padamu. Maaf karena aku tidak bisa memberitahu mu secara langsung tentang pertunanganku" kata Ardiaz penuh sesal.


Aruna menggeleng.


"Aku tidak apa-apa. Tidak ada keharusan kamu harus memberitahuku secara langsung" jawab Aruna tersenyum.


Deg.


Ardiaz bagai tersengat listrik.


Dia merasa sedih karena Aruna terlihat biasa-biasa saja. Ardiaz merasa kalau Aruna tidak lagi menganggapnya penting dan spesial. Dulu Ardiaz merasa begitu diperlukan oleh Aruna, tapi sekarang Aruna bisa tanpa dirinya. Ardiaz lagi-lagi merasa sedih dan senang disaat bersamaan.


Ardiaz terus menatap wajah Aruna yang malam ini terlihat begitu cantik. Ardiaz begitu menyangi Aruna, entah itu perasaan antara laki-laki dan perempuan atau Ardiaz menganggap Aruna sebagai adiknya sendiri. Dia pun belum memahaminya. Yang jelas dia yakin sangat menyayangi Aruna.


Aruna akhirnya kembali menoleh pada Ardiaz. Mereka saling berpandangan. Andai bisa terdengar mungkin debar jantung keduanya bisa mengalahkan suara music di bar.


"Terima kasih Ardiaz, aku senang akhirnya kamu bertunangan dengan Andrea. Semoga lancar sampai pernikahan" sahut Aruna.


"Kami hanya bertunangan. Tapi untuk menikah masih belum ada arah kesana. Kami masih sama-sama muda. Andrea bahkan belum berusia 18 tahun. Masih ada kemungkinan berpisah nantinya" jelas Ardiaz yang tentu saja membuat Aruna tercengang.


"Lalu kenapa kalian bertunangan? Rasanya hubungan pertunangan bukan untuk permainan" tanya Aruna yang tidak menyangka atas jawaban Ardiaz.


"Bukan begitu maksudku Aruna. Aku tidak bermaksud mempermainkan sebuah hubungan. Hanya saja usia kami masih sangat muda. Menikah masih belum kami pikirkan. Biarlah waktu yang menjawab".


Aruna pun mengangguk paham.


"Ku harap kamu bahagia selalu dengan pilihanmu" kata Aruna dengan menghadiahi senyuman tulus untuk sahabatnya.


"Ini bukan pilihanku Aruna. Aku terpaksa" batin Ardiaz.


Ingin dia menyampaikan ini pada Aruna tapi dia sudah berjanji pada sang Ayah untuk merahasiakannya dari Aruna.


"Sepertinya sudah terlalu lama kita disini. Nanti banyak yang menanyakan mempelai pria dimana" Aruna mengatakan sambil tersenyum.


Ardiaz tersenyum kecut. Sekarang dia harus kembali dihadapkan tentang pertunangannya.


Aruna hendak berdiri tapi Ardiaz menahan tangannya.


"Aruna... Terima kasih karena selama ini kamu sudah menjadi sahabat aku. Aku juga sekalian pamit. Aku akan melanjutkan study di kota Laiz. Kota kelahiran ibuku" kata Ardiaz dengan tatapan sendu.


Lagi-lagi Aruna tersenyum.


"Terima kasih juga sudah menjadi sahabat terbaik ku. Aku tidak tau bagaimana jadinya aku tanpa kamu. Terima kasih Ardiaz" kini Aruna tidak lagi bisa menahan air matanya. Dia menangis sambil menundukkan wajahnya.


Hampir saja Ardiaz membawa Aruna dalam pelukannya tapi Baron langsung datang dan mencegahnya. Baron tidak ingin Aruna dijadikan sasaran empuk oleh Andrea.


"Ardiaz.. Kamu disini rupanya? Ayahmu mencari mu dari tadi" kata Baron berbohong.


Tangan Ardiaz yang hampir memeluk Aruna kemudian menurunkan tangannya.


Aruna dengan cepat menghapus air matanya.


"Ah.. Terima kasih Baron sudah memberitahu ku, kalau begitu aku duluan" kata Ardiaz kemudian berjalan lebih dulu ke dalam rumah.


Aruna masih duduk dan menundukkan kepala sambil menyeka air matanya.


Baron mengambil sapu tangan di saku jas nya kemudian memberikannya pada Aruna.


Aruna menoleh ke arah Baron sebelum menerima sapu tangan tersebut.


"Terima kasih Baron" katanya sambil mengambil sapu tangan di tangan Baron.


Bersambung...