
Dengan memeluk erat lengan Arsenio, Aruna berjalan semakin mendekat pada Usha. Kini mereka telah berdiri berhadapan. Aruna sama sekali tidak berani menatap Usha, berbeda dengan Arsenio yang menatap tajam sang Ayah.
Untuk sementara waktu mereka hanya saling bertatapan tajam hingga helaan nafas Usha pun terdengar. Tatapan yang awalnya tajam berubah sendu dan penuh kesedihan.
Deg. Arsenio menatap tak percaya pada Ayahnya. Ini kali pertama dia melihat Ayahnya memperlihatkan kesedihan di wajahnya.
“Maafkan Ayah Nio” ucap Usha tak di duga.
Arsenio membelalakkan matanya tidak percaya. Aruna yang awalnya menunduk pun kini berani menatap wajah Usha. Tidak ada lagi tatapan tajam dari Usha, yang ada hanya wajah seorang Ayah yang merindukan putranya.
Walau masih terkejut tapi Arsenio tetap tidak melepas genggaman tangannya pada sang istri.
“Maafkan Ayah ya Aruna” kini Usha meminta maaf pada Aruna.
Aruna yang memang berhati lembut langsung saja berderai air mata. Dia tidak menyangka kalau Usha akan meminta maaf padanya.
Saat itu juga Aruna langsung berlutut di kaki Usha walau sedikit kesusahan karena perutnya yang sudah membuncit.
“Aku yang harusnya minta maaf Ayah” ucap Aruna.
Arsenio dengan segera membangunkan istrinya. Dia tidak mau Aruna sampai berlutut seperti itu.
“Apakah kamu mau melepas kekuatan ini?” tanya Usha pada Aruna.
“Apa maksud Ayah? Apa Ayah akan membuat Aruna sekarat?” tanya Arsenio sudah kembali naik pitam. Baru saja dia terharu mendengar permohonan maaf Ayahnya tapi sekarang dia malah mendengar permintaan konyol dari Usha. Salah satu cara yang Arsenio tau untuk memindahkan zanna adalah membuat pemilik zanna sekarat terlebih dahulu.
“Tenanglah Nio, Ayah tidak mungkin menyakiti menantu dan juga calon penerus keluarga” ucap Usha menenangkan anaknya yang sudah beraura merah itu.
“Lalu bagaimana caranya?” tuntut Arsenio pula.
“Apa kamu mau nak?” tanya Usha lagi pada Aruna.
Dengan cepat Aruna menganggukkan kepalanya. Aruna yakin Usha tidak mungkin menyakitinya.
“Sayang… apa yang kamu lakukan?” tanya Arsenio khawatir. Dia tidak mau terjadi sesuatu pada Aruna.
Aruna tersenyum sambil mengelus wajah suaminya dengan sayang.
“Aku yakin Ayah tidak mungkin berbuat yang tidak baik” jawab Aruna menenangkan Arsenio.
“Iya, Ayah tidak mungkin menyakiti kalian” ucap Usha meyakinkan.
“Kemarilah nak” ucap Usha pula.
Aruna mendekat tapi tangannya masih digenggam erat oleh Arsenio.
“Lepaskan tanganmu Nio, ini tidak akan berhasil kalau kamu masih memegang tangan istrimu. Ayah tidak akan menyakitinya” ucap Usha tegas. Tapi Arsenio seolah tuli. Dia sangat takut akan dipisahkan dengan istrinya. Melihat hal itu membuat Usha terpaksa menggunakan zanna untuk membuat Arsenio tidak bisa bergerak.
Setelah nya Usha meletakkan tangannya di atas kepala Aruna. Tiba-tiba saja angin bertiup dengan kencangnya di sekitar mereka. Sebuah cahaya berwarna biru keluar dari tubuh Aruna. Cahaya itu melayang-layang di udara cukup lama. Lama kelamaan cahaya itu berubah wujud menjadi seorang dewi yang begitu cantik. Semua orang yang ada disana pun begitu tercengang.
Dewi itu adalah zanna yang selama ini bersemayam di tubuh Aruna.
“Terima kasih Aruna karena kamu sudah menjaga aku dengan baik, kini aku bisa kembali ke tempatku dengan tenang” ucap Dewi itu sambil tersenyum.
“Walau ini tidak sehat zanna tapi ini cukup untuk melindungi mu” ucap Dewi sambil menyerahkan kalung kepada Aruna.
Aruna hendak menolak tapi Usha meminta Aruna untuk menerima hadiah itu. Saat itu juga Arsenio bisa terlepas dari pengaruh zanna yang diberikan Ayahnya. Dia langsung memeluk erat tubuh Aruna karena begitu ketakutan.
“Selamat tinggal” ucap Dewi lalu menghilang dalam satu kedipan mata.
“Zanna yang di dapat dari gerhana bulan adalah seorang dewi yang dipaksa masuk ke tubuh seseorang. Berbeda dengan zanna yang memang didapat karena garis keturunan. Kini kamu sudah menyelamatkan Dewi itu. Terima kasih karena kamu mau melepas zanna itu Aruna” ucap Usha tulus.
Aruna menjawab dengan senyuman.
“Kenapa tidak dari dulu Ayah mengatakan pada kami?” tuntut Arsenio.
“Karena Ayah masih memberikan ujian kepada kalian, ternyata kalian memang layak untuk itu, Selama ini kalian bisa hidup tanpa menggunakan zanna sama sekali. Ayah sangat bangga pada kalian” jawab Usha menjelaskan.
Saat itu juga datang beberapa pengawal dan juga pegawai Usha. Mereka membawa mahkota yang biasa Usha pakai saat ada kegiatan resmi.
Usha mengambil mahkota itu dan memakaikannya pada Arsenio.
“Mulai hari ini Ayah menyerahkan jabatan Usha padamu. Semoga kamu bisa menjalankan tugasmu dengan baik”.
Arsenio menatap tidak percaya pada Ayahnya. Begitu pula Aruna.
“A..ayah…” ucap Arsenio terbata.
“Aku belum pantas” lanjutnya.
“Kamu sangat pantas nak” ucap Usha lalu membawa putranya ke dalam pelukannya. Entah sejak kapan tempat itu semakin ramai oleh orang-orang yang datang dari berbagai wilayah. Mereka menyaksikan pengangkatan Usha mereka yang baru.
Ushi dan Davina yang baru saja tiba langsung menghampiri Arsenio dan Aruna.
Davina langsung saja memeluk kakak satu-satunya itu.
“Maafkan aku Nio” mohon Davina sambil berderai air mata. Arsenio tidak menjawab, yang dia lakukan hanya membalas pelukan Davina. Setelahnya Davina kemudian memeluk Aruna.
“Maafkan aku juga Aruna”
“Kamu tidak ada salah apapun padaku Davina” sahut Aruna.
Ushi mendekat dan mengelus perut menantunya.
“Apa kabar cucu nenek?” tanya Ushi seolah berbicara dengan cucunya. Ushi pun membawa Aruna ke dalam pelukannya.
“Ibu senang sekali akhirnya mimpi Ibu menjadi nyata” ucap Ushi yang tidak bisa menahan laju air matanya. Setelah itu Ushi memeluk putra satu-satunya.
“Selamat nak, kamu memang pantas untuk menggantikan Ayahmu”ucap Ushi penuh haru.
“Terima kasih Ibu” Sahut Arsenio yang ikut meneteskan air mata.
Dia sama sekali tidak menyangka kedatangannya ke rumah merupakan penobatannya sebagai Usha yang baru.
Bersambung…