
Aruna membelalakan matanya mendengar pertanyaan dari suaminya itu.
“Kamu cemburu kan?” ulang Arsenio.
Aruna mendadak kesal, langsung saja dia membaringkan tubuhnya serta tidak lupa menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
“Lho kenapa ditutup sayang?” tanya Arsenio berusaha membuka selimut yang dipakai Aruna.
“Sayang?” tanya Aruna dalam hati. Aruna tersenyum muak sekarang.
“Bisa-bisanya dia berkata sayang setelah dia berpelukan dengan wanita lain” dumel Aruna dalam hati.
Dengan susah payah akhirnya Arsenio bisa membuka selimut yang menutupi tubuh Aruna.
“Jangan begini, bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak kita kalau kamu stress? Aku dan Davina tidak ada hubungan apa-apa. Kamu jangan salah paham” jelas Arsenio.
Posisi Aruna sekarang membelakangi Arsenio.
“Anak kita?” batinnya. Aruna semakin bingung saja.
“Dia bilang jangan salah paham? Dasar egois” umpat Aruna lagi-lagi dalam hati.
"Sayang..." panggil Arsenio pelan.
Rasanya aneh bagi Aruna seorang Arsenio memanggilnya Sayang bahkan pada Davina saja dia masih memanggil nama.
Arsenio kemudian mengelus rambut Aruna.
"Kata dokter kamu tidak boleh stress, maaf ya kalau aku sudah buat kamu kepikiran" pertama kali Aruna mendengar seorang Arsenio minta maaf.
Aruna masih bergeming, enggan sekali menatap wajah Arsenio.
Tak mendapatkan respon tangan Arsenio kemudian turun menyentuh perut Aruna.
Aruna terkejut tentu saja. Tapi Arsenio memang seperti ini orangnya, sangat susah di tebak.
"Disini ada anak kita sayang" kata Arsenio sambil mengelus elus perut Aruna yang masih datar.
Mendengar untuk yang kedua kalinya Arsenio menyebut kata anak, Aruna pun membalikkan tubuhnya. Dia tatap wajah Arsenio bermaksud memperjelas ucapan Arsenio tentang anak.
Tapi belum sempat bertanya, Arsenio sudah langsung melabuhkan bibirnya di atas bibir Aruna. Me lu mat dengan begitu liarnya.
"Terima kasih sayang" kata Arsenio saat ciuman mereka berakhir.
"Aku tidak menyangka diusiaku yang masih muda ini sebentar lagi akan menjadi ayah" imbuhnya.
Arsenio pun menganggukkan kepalanya.
Pikiran Aruna nampak melambung jauh.
Bukan dia tidak suka mendengar dirinya sedanh hamil, tapi bagaimana dengan Davina? Bagiamana dengan pekerjaannya? Dan bagaimana kalau saat sedang hamil besar ternyata Usha mengetahui zanna yang Aruna miliki.
"Kamu tidak senang mendengar kabar ini?" tanya Arsenio.
Aruna menggeleng.
"Bukan begitu tapi banyak yang aku pikirkan. Apa aku masih bisa bekerja? Dan nanti bila suatu saat nanti Usha mengetahui zanna yang aku miliki, apakah Usha mau berbelas asih agar anakku masih bisa merasakan kasih sayang ibu?" tanya Aruna beruntun. Air matanya pun sudah menetes saat mengatakan itu. Arsenio kemudian ikut berbaring bersama istrinya. Dia peluk tubuh kurus itu.
"Aku akan selalu melindungi kamu dan anak kita. Tidak akan aku biarkan orang lain menyakitimu" kata Arsenio sambil mencium keninh Aruna.
"Kita hadapi bersama ya" imbuhnya.
"Terima kasih Nio" ucap Aruna penuh haru. Beberapa tahun ini Davina dan Arseniolah yang selalu membantunya. Walau ketus dan berbicara menusuk hati tapi Arsenio selalu ada untuknya.
Arsenio kembali menyatukan bibir mereka dan me ma gut nya penuh perasaan.
Nafas mereka saling memburu seolah berburu oksigen.
"Kamu jangan cemburu dengan Davina. Aku dan dia tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku akan berusaha mengurangi kebiasaan ku dari kecil itu. Aku tidak tau kalau kamu sampai kepikiran. Maaf ya" kata Arsenio sambil merapikan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Aruna.
Cup.
Arsenio mencium kedua mata hidung, pipi dan terakhir me lu mat kembali bibir merah alami milik Aruna.
Keduanya sudah diliputi hasrat menggebu, dengan satu tarikan saja pakaian Aruna sudah beterbangan entah kemana.
Aesenio semakin mengeratkan pelukannya. Dia benamkan wajahnya di bagian favoritnya itu. Di re mas dan di kulum bergantian hingga suara de sa han keluar dari bibir Aruna.
"ah....." de sah Aruna. Dia sudah kehilangan kendali dan ingin segera melakukan penyatuan. Tapi Arsenio seolah sengaja mengulr-ulur waktu.
Senang sekali dia meihat wajah blingsatan istrinya.
" Ah... Nio. aku tidak tahan lagi" ujar Aruna serak.
Arsenio tersenyum puas, dia pun akhirnya melesatkan miliknya pada milik Aruna. Pelan-pelan dia mulai memompa dengan penuh perasaan.
Suara lenguhan dan de sa han saling sahutan memenuhi ruangan. Untung saja Davina sudah kabur dari tadi. Kalau tidak dia pasti akan baper mendengar kemesraan Aruna dan Arsenio
Bersambung...