
Mata Arsenio terbuka saat Aruna baru saja melesaikan ciuman singkatnya di kening suaminya itu.
Senyum secerah mentari sudah merekah di bibir Arsenio saat ini.
Mata Aruna seketika membola ketika menyadari bahwa suaminya ternyata sudah bangun.
Senyum nakal terbit dari bibir Arsenio.
Aruna sangat paham apa arti dari senyum itu.
"Ka..kamu kan ma masih sakit" ucap Aruna terbata.
Arsenio merapatkan tubuhnya.
"Memangnya aku mau ngapain?" goda Arsenio pula.
Glek.
Rasanya Aruna sangat susah menelan ludah sendiri saat ini.
Arsenio kembali menyeringai. Dengan sat set sat set pagi menjelang siang itu mereka kembali memadu kasih.
...
Aruna dan Arsenio sudah kembali ke rumah kontrakan mereka di kota Galen. Rumah sederhana di pesisir pantai tapi sangat nyaman.Semenjak kejadian kemarin , Arsenio sudah berjanji untuk tidak meninggalkan istrinya seorang diri lagi.
Kini Aruna dan Arsenio berjalan dipinggir pantai sambil pegangan tangan.Sesekali Arsenio akan membawa tautan tangan itu ke atas bibirnya untuk dia cium.
"Aku mencintaimu Aruna" ucap Arsenio sambil memandang wajah istrinya dengan penuh cinta.
Walau bukan pertama kali mendengar Arsenio mengucapkan kata cinta, tetap saja Aruna sangat malu mendengarnya. Wajah putihnya akan berubah menjadi merah bak kepiting rebus.
Itulah yang disukai Arsenio, wajah malu-malu istrinya begitu menggemaskan.
Arsenio tundukkan wajahnya kemudian mencium bibir istrinya dengan penuh perasaan.
Kali ini Aruna pun membalas ciuman itu dengan rasa yang sama. Rasa cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Aruna sembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Aku malu" ucap Aruna manja.
"Kenapa malu? Aku sangat ingin mendengarnya" mohon Arsenio.
"Tapi aku kan sudah pernah mengatakannya" jawab Aruna pula.
"Tapi aku ingin mendengarnya lagi" terdengar rengekan yang keluar dari bibir Arsenio.
Bagaimana bisa seorang kapten yang galak seperti Arsenio sekarang malah bertingkah lucu seperti ini?. Cinta memang bisa merubah segalanya.
Melihat wajah penuh harap Arsenio, Arunapun menekan rasa malunya. Bagaimana tidak malu bila dipandangi seperti ini oleh orang yang kita cintai? Deg degan luar biasa padahal hanya mengucapkan tiga kata saja.
"Aku mencintai mu Nio" ucap Aruna pelan. Dia bahkan tidak berani menatap mata suaminya.
Arsenio menarik wajah istrinya untuk menatap ke arahnya.
"Tidak sah karena kamu tidak melihatku tadi" goda Arsenio dengan senyum manisnya. Senyum yang setelah menikah sering Aruna lihat. Kalau dulu senyum itu hanya Arsenio perlihatkan pada Davina.
"Aku mencintai mu Nio, sangat mencintaimu" ucap Aruna tersenyum.
Dia sedikit berjinjit kemudian mencium suaminya lebih dulu. Sesuatu yang sangat jarang Aruna lakulan.
Sejenak Arsenio tercengang tapi sejuruh kemudian dia menahan tengkut istrinya dan mulai membalas ciuman itu dengan penuh tuntutan.
Arsenio segera mengakhiri ciumannya dan menggendong istrinya menuju rumah mereka. Ada hal penting yang harus mereka tuntaskan. Apalagi kalau bukan melakukan penyatuan. Padahal baru tadi pagi di penginapan mereka melakukannya tapi pasangan pengantin baru itu rasanya tidak pernah puas untuk bercinta lagi dan lagi.
Sepanjang jalan menuju rumah Arsenio sesekali menghadiahi ciuman di kening istrinya.
"Kenapa kamu begitu candu buatku? Membuat aku terus ingin memakanmu lagi dan lagi" ucap Arsenio di dekat telinga kiri istrinya.
Arsenio bahkan menggigit telinga istrinya dengan gemas. Mereka sepertinya lupa bahwa mereka belum sampai rumah.
Bersambung...