
Hingga tengah malam Aruna belum juga sadarkan diri. Tapi tadi Dorez sudah menjelaskan kalau Aruna baik-baik saja. Walau begitu Arsenio tetap saja merasa cemas yang luar biasa.
Aruna dan Arsenio sudah tidur di ranjang yang sama , sedangkan Davina sudah kembali ke ducan bersama Dorez.
Arsenio telah mempertimbangkan saran Dorez, dia akan meminta maaf pada Usha perihal dia yang telah menutupi semua ini. Tapi bila Usha tetap tidak mau memaafkan dan meminta untuk berpisah dengan Aruna, tentu saja Arsenio akan menolak dengan tegas.
Belum ada sehari saja dia berpisah dengan istrinya, Arsenio sudah merasakan kehilangan yang begitu dalam. Apalagi bila harus berpisah selamanya, tentu saja dia tidak bisa.
Hingga jam 1 dini hari Aruna belum juga sadarkan diri, untuk menggunakan zannanya pun Arsenio tidak bisa karena sudah seharian ini dia menggunakan kekuatan magic tersebut.
Arsenio pandangi wajah istrinya yang terlelap tidur itu, dia elus-elus rambutnya dengan sayang dan sesekali menghadiahi kecupan di kening.
Hingga entah di menit keberapa Arsenio pun ikut tertidur. Baru tiga puluh menit Arsenio tertidur akhirnya Aruna sadarkan diri.
Dia merasakan ada sesuatu yang berat menimpa tubuhnya. Apalagi kalau bukan tangan kekar milik Arsenio yang memeluk Aruna begitu eratnya. Dia sangat takut kehilangan istrinya lagi.
Aruna balik tubuhnya agar bisa memandang wajah suami yang sangat dia cintai itu.
Seketika saja Aruna langsung berkaca-kaca, dia tadi sangat ketakutan saat bersembunyi dari Mario. Apalagi Mario membawa senjata tajam dan dengan brutal menebas apa saja yang dia lihat.
Walau memiliki zanna tetap saja jiwa feminim Aruna merasa takut melihat kebrutalan Mario.
Wajah Mario terlihat sangat menakutkan dengan rambutnya yang ikal panjang tak terurus, kumis tebal dan janggutnya yang berwarna putih dan lebat.
Mario terlihat sangat menakutkan dimata Aruna. Tak terasa air matanya semakin lama semakin membasahi pipi. Dia usap pipinya yang telah basah oleh air mata itu. Dia takut sekali tadi , bayangan Mario akan mencelakainya dan juga bayinya terus saja menghantui. Isakan tangis Aruna yang begitu pilu pun di dengar Arsenio.
Pelan-pelan dia buka matanya yang baru saja terpejam. Yang pertama kali dia lihat adalah bayangan istrinya yang sedang menangis.
"Sayang. .kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Arsenio khawatir.
Cepat-cepat Aruna menggeleng.
Mendengar itu Arsenio langsung membawa Aruna kepelukannya.
"Maafkan aku, harusnya aku tidak meninggalkan mu sendirian" ucap Arsenio sambil mengusap rambut Aruna dan menghadiahi ciuman di puncak kepalanya.
Aruna kembali terisak. Pantas saja semenjak kepergian Arsenio dia memiliki firasat tidak baik. Ternyata akan seperti ini jadinya. Beruntung sekali Dorez datang tepat waktu.
"Aku harus berterima kasih pada tuan Dorez karena sudah menyelamatkan mu. Aku sendiri gagal melindungi istriku sendiri" ucap Arsenio penuh sesal.
"Maaf" imbuhnya.
Arsenio bahkan sudah ikut meneteskan air mata.
Air mata yang untuk pertama kali Aruna lihat selama mengenal Arsenio.
Dia usap pipi suaminya yang basah karena air mata itu.
"Kamu tidak pernah gagal, kamu yang terbaik untuk ku dan anak kita" ucap Aruna lalu mencium pipi suaminya.
Saat itu dia tersadar kalau suaminya tidak baik-baik saja.
Mata sembab, wajah kusut dan tubuh yang demam.
Aruna kemudian menyentuh kening suaminya.
"Kamu sakit Nio?" tanya Aruna khawatir.
Bersambung...