Magic

Magic
Demam



Rupanya terlalu banyak menggunakan zanna dan hujan-hujanan mencari Aruna selama berjam-jam membuat tubuh Arsenio menjadi drop.


Suhu tubuhnya pun meningkat menjadi 39 derajat celcius.


Aruna juga tidak bisa menggunakan zannanya untuk menyembuhkan suaminya karena sama seperti Arsenio, Aruna pun sudah menggunakan zanna melebihi ambang batas yang bisa digunakan.


Aruna bangun dari tidurnya dan mulai menghubungi pegawai penginapan untuk menyiapkan alat kompres dan juga obat-obatan.


"Aku tidak apa-apa sayang" ucap Arsenio berusaha menenangkan istrinya yang terlihat cemas.


"Tapi kamu demam Nio. Tubuhmu panas".


Ada nada khawatir yang terdengar dari kata-kata Aruna.


Arsenio dudukkan tubuhnya walau dia merasa sangat lelah.


“Sini” ucap Arsenio sambil merentangkan tangannya. Aruna pun mendekat dan masuk ke dalam pelukan suaminya. Mereka berpelukan dalam posisi duduk. Cukup lama mereka melakukan itu hingga ketukan pintu pun terdengar. Aruna kemudian melerai pelukannya dan bergegas membuka pintu. Sepertinya pegawai penginapan sudah datang dengan pesanan yang tadi Aruna minta.


Dan benar saja, dua pegawai wanita datang dengan semua pesanan Aruna. Mereka membantu meletakkan semua yang Aruna butuhkan di atas nakas.


“Terima kasih banyak” ucap Aruna saat mengantar kembali pegawai tersebut keluar kamar.


Setelahnya dia kembali mendekati ranjang. Arsenio sudah kembali membaringkan tubuhnya. Rasa lelah setelah seharian mencari keberadaan istrinya mulai terasa. Dengan telaten Aruna merawat suaminya.


Mata Arsenio memang terpejam tapi dia belum masuk ke alam mimpi, dia masih menyadari apa saja yang di lakukan istrinya.


“Istirahatlah sayang, aku tidak apa-apa” ucap Arsenio dengan mata masih terpejam.


Aruna tidak mengindahkan ucapan suaminya, dia masih dengan telaten mengompres Arsenio.


Arsenio pun kembali membuka matanya.


“Ayo tidur, kalau kamu tidak tidur aku pun tidak bisa tidur” mohon Arsenio.


Aruna menghela nafas, terpaksa dia pun ikut berbaring disebelah suaminya.


Arsenio kembali membawa Aruna dalam pelukannya.


Aruna tersenyum mendengarnya. Tidak ada nada gombalan yang terdengar. Suaminya ini memang benar mencintainya.



Keesokan harinya mereka sama-sama bangun saat matahari sudah meninggi.


Baik Aruna maupun Arsenio kelelahan akibat tidur di hari sudah menjelang pagi.


"Arrgg..." Aruna merenggangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur dengan posisi tidak berubah semalaman. Disebelahnya sang suami masih tidur terlelap. Wajahnya yang tertidur begitu tampan di mata Aruna.


Padahal rambutnya acak-acakan tapi tetap saja terlihat tampan.


"Sampai sekarang aku masih tidak menyangka kalau kamu adalah pengirim surat itu" ucap Aruna pelan.


"Bagaimana mungkin orang sepertimu bisa menyukai ku?" ucapnya lagi.


"Aku sangat bahagia karena dicintai orang sepertimu. Aku mencintaimu suamiku" lanjutnya.


Aruna hanya bisa mengungkapkan perasaannya secara leluasa ketika sang suami tidur, kalau tidak dia akan sangat malu dan akan mengatakannya bila sangat terpaksa saja.


Arsenio yang sebenarnya sudah terbangun merasakan ribuan kupu-kupu tengah berterbangan di hatinya.


Dia sangat senang mendengar pengakuan cinta dari Aruna. Gadis yang dia cintai sejak lama.


"Aku juga mencintaimu istriku" batin Arsenio.


Dia tidak ingin istrinya itu malu jadi dia lebih baik pura-pura tidak mendengar.


Aruna kembali menyentuh kening Arsenio.


"Syukurlah sudah tidak panas" ucap Aruna lega kemudian mencium kening suaminya dengan penuh perasaan.


Bersambung...