
Aruna dan Arsenio sudah sampai di kantor catatan sipil. Entah darimana Arsenio sudah mendatangkan saksi pernikahan. Tanpa baju pengantin beserta riasannya, mereka mulai mendaftarkan pernikahan agar resmi dimata hukum dan agama.
Selama upacara pernikan sederhana dan sangat mendadak ini, petugas disana banyak yang menggoda mereka karena menikah tanpa persiapan dan terkesan buru-buru. Mereka pikir baik Arsenio maupun Aruna sudah tidak sabaran untuk menjadi suami istri padahal yang terjadi mereka melakukan pernikahan secara terpaksa.
Arsenio yang memiliki tujuan untuk melindungi Usha juga harus merelakan mimpinya untuk menikah secara meriah dan mewah. Dia lakukan ini karena tidak ingin mengambil resiko kalau ternyata antara Aruna dan Mario terlibat dalam skandal beberapa tahun silam.
Selesai prosesi pernikahan secara agama, mereka mulai menandatangi berkas agar resmi menjadi suami istri secara hukum. Aruna yang memang yatim piatu mempermudah proses pernikahan ini.
Setelah penandatangan surat, akhirnya Aruna dan Arsenio resmi menjadi suami istri.
Pegawai disana kemudian meminta pasangan baru itu untuk berciuman. Aruna tentu saja menegang. Ini kali pertama dia dicium oleh seseorang, berbeda dengan Arsenio yang memang sudah sering dicium Davina walau hanya sebatas cium pipi.
Perlahan Arsenio mendekatkan wajahnya kemudian menghadiahi ciuman singkat di kening Aruna. Semata agar proses pernikahan ini segera selesai.
Jantung keduanya rasanya begitu menggila karena ini kali pertama untuk keduanya.
Pegawai catatan sipil kemudian memberikan salinan berkas pernikahan. Untuk Akta pernikahan baru akan keluar seminggu lagi.
Arsenio dan Aruna berpamitan pada pegawai dan juga para saksi yang sudah membantu proses pernikahan.
Ingin rasanya Aruna menumpahkan air matanya karena menikah dengan cara seperti ini. Aruna semakin benci dengan zanna yang melekat di tubuhnya.
Aruna melihat pada Arsenio yang nampak diam saja dari tadi.
"Bagaimana aku harus mengatakan ini pada Davina?" batin Aruna.
Mengingat itu saja air matanya kembali jatuh.
Arsenio yang melihat Aruna menangis kemudian tersenyum muak.
"Kamu sedih tidak bisa menikah dengan pria yang kamu cintai itu ya?" tanya Arsenio dengan suara ketus.
Aruna mengusap air matanya.
"Aku hanya memikirkan bagaimana memberitahu Davina, belum lagi teman-teman yang lain. Apa kata mereka?"kata Aruna mengungkapkan isi hatinya.
"Kamu tidak perlu mengatakan apapun. Biar aku yang mengatakannya" jawab Arsenio.
Mendengar jawaban Arsenio, Aruna jadi paham mungkin Arsenio ingin pernikahan ini ditutup dari umum, mereka hanya menikah diatas kertas.
Aruna rasanya ingin kembali menangis karena dia harus mengalami pernikahan seperti ini.
"Arsen ingin menyiksaku dengan pernikahan ini" batin Aruna.
Aruna dan Arsenio sudah keluar dari kantor catatan sipil hendak menuju Ayglo milik Arsenio terparkir. Sebelum masuk ke dalam Ayglo , Arsenio memegang pundak Aruna dan kedua tangannya.
"Bukan cuma kamu yang jadi korban disini, tapi aku juga. Aku harap kamu paham kalau ini demi kebaikan kita bersama" kata Arsenio penuh penekanan.
Aruna pun menganggukkan kepalanya. Padahal tanpa ikatan pernikahan pun Aruna tidak mungkin kabur. Aruna masih tidak habis pikir dengan solusi yang Arsenio ambil.
Tapi Aruna tidak bisa membantah karena Arsenio sudah mengancam akan melaporkan Ardiaz juga. Sudah cukup Ardiaz berkorban untuknya, Aruna tidak ingin masa depan Ardiaz hancur karena masalah ini.
"Maafkan aku suda membawamu terlibat dengan masalahku, Diaz" batin Aruna.
Bersambung...