
"Hai" sapa Ardiaz kemudian duduk di sebelah Davina.
Davina yang saat ini sedang merangkai bunga di taman untuk acara makan malam yang diadakan Ayahnya.
"Hai" sapa Davina tersenyum.
Sejak mereka saling pandang pandangan beberapa waktu lalu, setiap ada kesempatan mereka akan bertemu di taman dan mulai berbincang-bincang.
"Bunga nya cantik" ucap Ardiaz memuji hasil karya Davina.
Davina tertawa kecil.
"Terima kasih" sahut Davina.
"Bunganya cantik karena yang merangkai juga cantik" imbuhnya percaya diri.
Kini Ardiaz yang tertawa. Davina memang sangat percaya diri kapanpun dan dimanapun.
Wajahnya yang cantik dan kulitnya yang seputih salju serta bibirnya yang kecil dan sedikit tebal itu begitu menggemaskan di mata Ardiaz.
Dia dan Davina juga sangat nyaman bila mengobrol, rasanya sudah merasa begitu klop bila bersama.
"Katanya besok pemilihan kapten baru untuk menggantikan Nio ya?" tanya Davina yang sudah mendengar kalau Usha telah mencarikan pengganti untuk saudara kembarnya.
"Iya, karena terlalu lama kosong, Usha mencari penggantinya" jawab Ardiaz.
"Ayah belum bisa memaafkan Nio" ucap Davina sendu. Setiap membahas Arsenio dan Aruna, Davina akan kembali bersedih.
Kakaknya membanting tulang diluar sana untuk bisa memenuhi kebutuhannya sedangkan disini Davina menikmati semua fasilitas mewah yang ada.
Davina lupa, walau Arsenio sibuk bekerja tapi dia sangat bahagia karena bisa terus bersama orang yang dia cintai.
Cinta itu memang perlu perjuangan dan Arsenio sedang memperjuangkan itu.
"Suatu saat nanti Usha pasti akan memaafkan mereka. Percayalah" ucap Ardiaz tersenyum.
Davina pun ikut tersenyum juga.
"Semoga" sahut Davina.
"Bagaimana keadaan Aruna? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ardiaz pula.
"Kakak ipar baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Aruna sudah bersama dengan pelindungnya' jawab Davina.
Ada rasa cemburu di dalam hatinya bila Ardiaz menanyakan tentang Aruna.
" Kamu benar, Aruna sangat aman berada disisi Arsenio. Sampai sekrang aku masih tidak menyangka teman baikku bisa menikah dengan Arsenio" ucap Ardiaz pula.
Ardiaz mengggeleng mantap.
"Ada orang lain yang sudah membuatku jatuh cinta" jawab Ardiaz pula.
"Siapa?"Tanya Davina penasaran.
"Kamu" jawab Ardiaz seraya tersenyum.
"Aku?" tunjuk Davina pada diri sendiri.
Ardiaz pun mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu pasti bercanda" sahut Davina sambil terkekeh.
"Aku serius. Aku mencintai mu Davina" ucap Ardiaz tanpa ragu.
Dia bahkan mengambil tangan Davina untuk dia genggam.
"Lalu Aruna? Bukannya kamu menyukai Aruna?" tanya Davina mengeluarkan isi hatinya.
"Aku memang menyukainya tapi bukan antara wanita dan pria . Melainkan antara kakak dan adik. Aku sekarang sadar kalau dari dulu aku menyangi Aruna seperti adikku sendiri"jawab Ardiaz serius.
"Dari dulu aku selalu berusaha menjaganya, tapi lama-lama aku tersadar kalau itu bukan cinta melainkan simpati. Dan baru saat bersamamu aku merasakan debaran jantung yang begitu menggila." ucap Ardiaz jujur.
Davina menutup mulut tidak percaya.
"Maukau kamu menikah dengan ku?" tanya Ardiaz pada Davina.
Tanpa pikir pajang Davina langung menerima tawaran tersebut.
Ardiaz senang bukan main, dia langsung membawa Davina kedalam pelukannya.
"Aku bahagia sekali karena kamu mau menerima pinanganku" ucap Ardiaz terharu.
"Aku mencintaimu Davina" Ardiaz kembali menggumankan kata cinta.
Davina menangis dalam pelukan Ardiaz.
"Benarkah ini? Benarkan Ardiaz melamarnya?" ucap Davina dalan hati.
Dia masih tidak menyangka kalau Ardiaz juga sedang jatuh cinta padanya.
Bersambung...