
Aruna dan Arsenio kini duduk di atas sofa yang ada di kamar mereka dengan posisi Arsenio memangku istrinya di atas pangkuannya.
"Maaf sudah buat kamu sampai stress. Selama ini aku pikir kamu masih menyukai Ardiaz jadi aku tidak pernah berpikir kamu mungkin cemburu pada Davina" ucap Arsenio memohon maaf.
"Jadi maksudmu tindakanmu berpelukan dan mesra-mesraan dengan wanita lain itu dibenarkan bila isrimu tidak mencintaimu?" tuntut Aruna dengan geram.
Bukannya marah karena suara Aruna yang sudah meninggi, Arsenio malah mengulum senyum.
"Kenapa selama ini diam saja? Harusnya kamu beritau aku kalau kamu tidak suka" jawab Arsenio. Arsenio senang bila Aruna mau lebih berani dan mengungkapkan isi hatinya dari pada menurut dan iya-iya saja. Arsenio ingin Aruna menjadi wanita yang kuat.
"Apa aku punya hak untuk melarangmu? Kamu sendiri tidak mencintaiku" Aruna menunduk ketika mengucapkan itu. Kenyataan Arsenio tidak menyukainya membuat dia harus segera bangun dari tidurnya selama ini.
"Jangan terlalu berharap" itulah kata-kata yang selalu Aruna tanamkan untuk dirinya sendiri.
"Seperti katamu, Aku adalah suamimu. Jadi kamu berhak padaku. Maafkan aku ya" pinta Arsenio lalu mengangkat wajah Aruna dengan jempolnya. Dia kemudian kembali mengecup bibir istrinya yang sudah begitu candu untuk dia cicipi lagi dan lagi.
Aruna bagai anak kecil yang dipangku ayahnya. Walau dia terbilang tinggi tapi Arsenio jauh lebih tinggi lagi darinya.
"Minggu depan Baron mengajak bertemu lagi. Katanya sudah lebih sengggang waktunya. Apa kamu mau bertemu mereka?" tanya Arsenio.
Aruna yang memang sudah sangat merindukan Harmony pun mengangguk setuju.
"Ayo kita makan dulu. Kamu harus banyak makan" titah Arsenio.
Lagi-lagi Aruna mengangguk setuju. Arsenio menurunkan Aruna dari pangkuannya secara perlahan.
"Sehat-sehat ya anak Ayah" kata Arsenio manis sekali sambil mengusap perut istrinya.
Aruna tersenyum. Arsenio terlihat sangat berbeda dari biasanya. Seolah dia sangat bahagia dengan kehamilan istrinya, walau pernikahan mereka tidak didasari atas cinta.
...
Davina sudah duduk di ruang makan lebih dulu
"Davina, tumben kamu makan banyak?" tanya Aruna heran.
"Aku sangat lapar dari tadi siang belum makan. Menunggu kalian bermesraan itu sangat lama ternyata. Makanya aku makan lebih dulu" jawab Davina sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
"Tidak sopan makan seperti itu" tegur Arsenio.
"Iya lah ... Iya lah" ujar Davina sambil merubah cara makannya lebih sopan.
Aruna memperhatikan Arsenio dan Davina secara bergantian. Rasanya ada yang aneh tapi Aruna belum bisa menebak itu apa.
"Kenapa tidak makan saja tadi langsung? Kan tidak kelaparan seperti ini" tanya Arsenio pula.
"Aku kan tidak bisa masak tuan Nio, disini kan tidak ada asisten rumah tangganya. Kalian harus berterima kasih karena aku membelikan kalian makanan juga. Kalau tidak kalian makan apa?" jawab Davina sedikit ketus.
Arsenio hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Davina.
"Padahal di kulkas ada makanan,tinggal dipanasin aja" jawaban dari Arsenio yang seketika membuat Davina semakin dongkol.
"Gini banget bertamu di rumah pengantim baru. Udah dikacangin gak dikasi makan pula" dumelnya dalam hati.
Ini bukan kali pertama Aruna melihat Arsenio san Davina perang mulut tapi biasanya hanya sebentar saja, selanjutnya akan kembali mesra.
Aruna sendiri masih bingung dengan hubungan mereka.
Mana ada orang berteman tapi sedekat ini?.
Aruna akan pegang kata-kata Arsenio yang mengatakan kalau dia boleh melarang Arsenio dekat dengan wanita lain.
Bersambung...