
Tak peduli dengan tatapan membunuh ayahnya serta wajah sendu Ibunya, Davina tetap pergi menemui saudara kembarnya.
Dalam hitungan menit saja Davina sudah sampai di kota Galen. Secepat kilat dia mencari keberadaan saudara kembarnya itu.
Terlihat Arsenio duduk dibawah pohon dengan tatapan kosong dan pakaian basahnya.
"Ya Tuhan...Nio" guman Davina. Dia sangat sedih melihat kondisi saudara kembarnya yang begitu memprihatinkan seperti ini.
Davin turun dari Ayglo miliknya dan berlari ke arah kakaknya itu. Dia berhamburan ke pelukan Arsenio dan menyalurkan zanna miliknya agar sang kakak tidak sakit karena pakaiannya yang basah.
"Ya Tuhan..." Davina terus menyebut nama Tuhan dalam hatinya.
Mendapat pelukan dari adiknya membuat Arsenio kembali menangis. Tak pernah dia merasakan se sakit ini. Kehilangan Aruna membuatnya sangat terpuruk.
Arsenio melepas pelukannya setelah mendengar dering wizz nya berbunyi. Dia sudah mengerahkan team nya untuk membantu mencari keberadaan istrinya.
Ardiaz yang memang baru bergabung dalam team yang dikomandani oleh Arsenio pun turut mencari keberadaan Aruna.
Tanpa sengaja saat Ardiaz sedang memeriksa senjata api di ruangan Militeri di kediaman Usha, dia mendengar kalau Team Elang telah berhasil menangkap Mario.
"Berarti mereka juga menemukan Aruna?" batin Ardiaz. Dia tetap berpura-pura memeriksa senjata agar mendapat informasi lebih banyak.
"Ini aku Ardiaz" ucap Ardiaz di sambungan wizz saat menghubungi Arsenio.
"Iya aku tau" jawab Arsenio, nada bicara Arsenio terdengar lelah.
"Mereka ada di penginapan Floria di desa Hairuzia , wilayah timur Laiz" ucap Ardiaz berdasarkan informasi yang dia dapatkan saat menguping team elang.
"Benarkah?" Arsenio tidak dapat mengungkapkan rasa bahagianya saat ini.
Walau belum berhasil bertemu tapi mendengar ada berita seperti ini saja sudah membuat Arsenio sangat senang.
Hal itu tentu juga dirasakan Davina, dia bisa melihat binar bahagia di mata kakaknya itu.
"Iya, team elang yang berhasil menemukannya" jawab Ardiaz.
Tidak ingin memikirkan itu dulu dia pun lantas segera menuju kota Laiz.
"Terima kasih Ar" ucap Arsenio tulus.
"Sama-sama" sahut Ardiaz sebelum menutup panggilannya.
Arsenio nampak sangat bersemangat saat menaiki Ayglo milik Davina. Secepat kilat mereka meluncur menggunakan zanna miliknya. Tak peduli efek apa yang akan Arsenio alami karena telah banyak menggunakan zanna.
Yang terpenting untuknya sekarang adalah dia bisa secepatnya bertemu Aruna.
"Semoga Aruna benar disana ya?" ucap Davina yang tak kalah senang dengan Arsenio.
Arsenio pun menganggukkan kepalanya. Dia sudah tidak sabar bertemu Aruna.
Arsenio sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan saat bertemu istrinya.
Dia akan memeluk Aruna dengan erat dan mengucapkan kata maaf karena meninggalkannya sendirian.
Tak lupa dia akan mencium gemas puncak kepala istrinya serta mengelus perut Aruna dengan sayang.
Dia juga akan menghadiahi ciuman penuh gelora dan penuh puja untuk sang istri.
Membayangkannya saja sudah membuat tubuh Arsenio terasa panas.
Tunggu aku sayang. Ucap Arsenio dalam hati.
Selain rasa bahagia Arsenio juga merasakan cemas luar biasa. Dia sudah membayangkan apa yang kemungkinan terjadi pada Aruna. Mengingat Aruna dalam keadaan sedang hamil muda.
"Ya Tuhan... Tolong lindungi istriku dan anak kami . Semoga mereka baik-baik saja ya Tuhan".
Arsenio berdoa dalam hati karena rasa cemas yang kembali menghantuinya.
Bersambung...