Magic

Magic
Pengirim Surat Digital



Suara burung terdengar saling sahutan di sekitar rumah baru Aruna. Aruna dan Arsenio masih duduk diteras rumah mereka sambil memandangi ombak yang saling berkejaran.


“Maaf sudah memaksamu menikah denganku” ucap Arsenio setelah mereka lama berdiam diri tanpa berucap sepatah katapun. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Aruna torehkan kepalanya menghadap sang suami.


“Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Tapi harusnya kamu mendapatkan pasangan yang lebih sepadan daripada aku yang hanya gadis dari kalangan kelas bawah” sahut Aruna.


“Kamu harus menentang orang tuamu karena aku. Kalau kamu hanya kasihan padaku, harusnya kamu tidak mengambil keputusan untuk menikah denganku” imbuhnya.


“Aku tidak kasihan padamu Aruna… Kalau hanya kasihan aku tidak akan mengambil keputusan untuk menikahi mu.” jelas Arsenio.


“Lalu kenapa kamu menikahiku? Orang tuamu jadi sangat marah padamu. Aku takut Nio” ucap Aruna.


Arsenio lalu membawa Aruna ke dalam pelukannya.


“Ada bagian hatiku yang begitu sakit saat mengetahui fakta kalau kamu lah penyebab aku harus hidup dengan menjadi orang lain. Tapi rasa cintaku lebih besar daripada rasa sakit hatiku, rasa cintaku mengalahkan rasa sakit hati itu. Aku mencintaimu Aruna” ucap Arsenio sungguh-sungguh.


Aruna melepas pelukan Arsenio. Dia tatap wajah suaminya itu untuk mencari kebohongan disana.


“Kamu mencintaiku?” tanya Aruna tidak percaya. Dia bahkan sudah berkaca-kaca saat menanyakan itu.


Arsenio mengangguk sebagai jawaban.


“Aku adalah WL, pengirim surat itu”.


Aruna bahkan sudah lupa dengan kisah si pengirim surat semasa sekolah hingga lulus marity itu.


“Kamu WL?” lagi-lagi Aruna tidak percaya dengan perkataan Arsenio.


Arsenio kembali mengangguk.


“Arsenio Wellington, aku sengaja tidak menggunakan inisial AW supaya tidak ada yang mengetahuinya” jelas Arsenio.


“Kenapa? kenapa orang sepertimu yang nyaris sempurna bisa menyukai gadis biasa-biasa saja seperti ku?” tuntut Aruna.


“Apa sekarang aku sedang bermimpi? Aku tidak pernah menyangka kalau kamu bisa menyukaiku” Aruna sudah menangis saat mengatakannya.


Arsenio kembali membawa Aruna ke dalam pelukannya.


“Maaf karena aku yang egois ini memaksamu untuk menikah denganku. Aku tidak rela kamu bersama dengan orang lain. Maaf karena sudah mengancammu bila tidak mau menikah denganku. Aku sangat egois” ucap Arsenio penuh sesal.


Aruna menggeleng.


“Aku sangat bersyukur karena menikah denganmu. Aku merasa sangat berharga karena pertama kalinya ada yang melindungiku sepertimu” ucap Aruna.


“Aku juga sangat mencintaimu, suamiku” aku Aruna sambil mengeratkan pelukannya.


Arsenio kemudian menghadiahi kecupan di kening istrinya.


“Aku lebih mencintaimu, bahkan sebelum kamu mencintaiku” balas Arsenio.


Arsenio mendekatkan wajahnya pada sang istri kemudian menciumnya penuh perasaan.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu" ulang Arsenio.


Aruna tersenyum.


"Terima kasih karena membuatku merasa begitu berharga." balas Aruna tersenyum.


Arsenio kembali mengikis jarak dan mencium bibir merah cerry itu dengan sangat menghayati. Aruna pun membalas ciuman itu. Mereka menyalurkan perasaan yang sudah lama terpendam.


Deru ombak dan suara burung menjadi saksi pengakuan cinta mereka.


"Ayo kita coba ranjang baru kita" ajak Arsenio lalu menggendong istrinya menuju kamar baru mereka yang hanya berukuran 3x4 meter persegi itu.


Di dalan kamar mereka kembali berciuman dengan begitu mesra seolah melepas dahaga yang sudah lama tertahan.


Bersambung...