
Sesuai kesepakatan antara Aruna dan Arsenio beberapa hari lalu. Saat ini Aruna, Baron, Yuanda , Arsenio dan Harmony tengah berkumpul di rumah Baron yang ada di kota Ducan.
Arsenio sudah menjemput Aruna di rumahnya pagi-pagi sekali karena jarak antara rumah Aruna dan Baron cukup jauh.
Setelah menjemput Aruna, Arsenio mengajak Aruna untuk mampir sebentar ke rumah Davina.
Disana Davina sudah menyambut Arsenio dengan pelukan, bahkan sebelum meninggalkan rumah Davina, dia sempat menghadiahi ciuman di pipi Arsenio.
"Mereka sweet banget ! Jadi iri" batin Aruna.
Dalam perjalanan ke tempat Baron, baik Aruna maupun Arsenio tidak ada yang berbicara
Kecanggungan jelas sekali terlihat. Tentu yang paling canggung adalah Aruna karena pada dasarnya sifat Arsenio memang seperti ini. Hanya pada Davina saja dia bisa sangat sweet.
Demi mencegah keganggungan semakin lama Aruna memilih untuk tidur saja. Lumayan save tenaga hingga 3 jam kedepan. Aruna yang sebenarnya memang gampang tidur (kecuali hal berat menimpanya, seperti saat sang nenek berpulang) langsung saja terlelap di alam mimpi begitu menutup mata.
Arsenio melirik sekilas pada Aruna yang tertidur kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Wizz di saku Arsenio berbunyi, terlihat nama Ardiaz disana.
"Iya halo" sapa Arsenio.
Dia sudah menggunakan alat khusus saat menerbangkan ayglo miliknya agar tidak mengganggu perjalanan.
"Arsen, ini aku Ardiaz" jawab Ardiaz diseberang sana.
"Iya aku tau, namamu sudah tertera disini" jawab Arsenio datar seperti biasa.
Dalam hati Ardiaz mengutuk sifat Arsenio yang tidak bisa diajak basa-basi.
"Begini Arsen" Ardiaz langsung saja menjelaskan maksud dan tujuannya menghubungi Arsenio mengingat sifat Arsenio yang tidak suka basa-basi. , " Katamu kamu pernah bertemu dengan Aruna. Dimana? Waktu itu kamu tidak menjelaskan secara rinci dimana dan bagaimana kalian bisa bertemu dan kesibukan juga membuatku tidak bisa menanyakan lagi. Baru sempat sekarang" kata Ardiaz panjang lebat.
"Maaf Ardiaz. Aku sedang dalam perjalanan ke rumah Baron. Nanti sampai sana aku hubungi kembali" jawab Arsenio dan tanpa menunggu jawaban Ardiaz langsung saja mematikan sambungan wizz nya.
Diseberang sana Ardiaz mengumpat kesal atas sikap tidak sopan Arsenio.
...
Aruna membuka matanya. Ternyata dia sudah berada di depan rumah Baron. Tempat yang dulu dia dan Ardiaz kunjungi saat ulang tahun Baron. Ulang tahun Baron akan selalu Aruna ingat karena saat itu juga sang nenek meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Cepat sekali. Rasanya belum ada sejam aku tertidur" batin Aruna.
"Kamu sudah bangun? Ayo kita masuk ! Dari tadi aku bangunkan tapi kamu terlihat sangat lelap" ujar Arsenio saat melihat Aruna sudah sadar 100 persen dari tidurnya.
Aruna meremas bajunya. Rasanya malu sekali tidur begitu lama dan susah dibangunkan seperti ini.
Tanpa menunggu jawaban Aruna, Arsenio langsung turun dari Ayglo miliknya. Rasanya sifat tidak sopan Arsenio ini memang harus dirubah.
Dengan menunduk Aruna mengikuti Arsenio dari belakang. Sepanjang perjalanan tatapan mata Aruna terlihat kosong dan hampa. Dia bingung harus menjelaskan seperti apa ketika bertemu dengan teman-temannya.
Langsung saja dia mendekat menghampiri Aruna. Yuanda dan Harmony yang juga ada disana menatap tak percaya pada sosok Aruna yang mereka yakini telah menghilang tanpa jejak. Harmony bahkan sempat berpikir bahwa anak buah ayah Andrea telah melakukan hal buruk pada Aruna.
Mereka berlima kemudian duduk di ruangan pribadi milik Baron. Ruangan yang memang Baron gunakan bila berbicara serius dengan seseorang.
Harmony tidak melihat sedikitpun pada Aruna. Dia yang sudah diliputi kecemasan luar biasa sebenarnya merasa lega melihat Aruna baik-baik saja. Tapi dia juga merasa sangat kecewa karena Aruna tidak berbicara apapun padanya.
Hem. Baron terlihat mentralkan suaranya sebelum berbicara.
"Bagaimana kabarmu Aruna?" tanya Baron memulai pembicaraan diantara mereka.
Aruna tersenyum membalas pertanyaan Baron.
"Aku baik-baik saja, terima kasih karena kalian sudah mengkhawatirkan aku. Aku sudah dengar dari Arsen. Maaf karena tidak sempat mengabari kalian. Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya saja aku tidak ingin kalian terkena masalah karena membantu ku. Sekali lagi aku mohon maaf" Aruna berkata sambil menunduk.
"Jangan meminta maaf, yang terpenting kamu baik-baik saja. Awalnya aku memang kesal, tapi melihat mu menjalani hari dengan baik. Itu sudah cukup buatku" Baron yang menjadi juru bicara mulai berucap.
Aruna menatap tidak percaya pada Baron. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya seorang Baron yang dulu begitu membencinya dan sering memakinya bisa berlaku baik seperti sekarang.
"Iya Aruna, yang terpenting buat kami adalah kamu dalam keadaan baik. Sekarang ceritakan pada kami. Bagaimana kehidupanmu selama 3 bulan kebelakang" kini Yuanda yang berkomentar.
Harmony sama sekali tidak berbicara. Dia bahkan enggan menatap Aruna.
"Saat itu aku merasa tidak enak karena Andrea harus menerima tamparan dari Ardiaz saat berkata yang kurang baik padaku. Aku tau bagaimana kekuasaan Ayah Andrea , jadi aku tidak mau mengambil resiko untuk tetap tinggal di Galen. Aku kemudian langsung menjual rumah nenek dan uang itu aku gunakan untuk menjadi reseller parfume dan membeli rumah di Ducan. Karena penjualan parfume yang lumayan, aku kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikan. Puji Tuhan aku masih bisa hidup berkecukupan. Aku yakin ada doa kalian yang membuatku bisa melanjutkan hidupku dengan baik" jelas Aruna panjang lebar.
"Iya aku paham, kalau aku jadi kamu aku mungkin melakukan hal yang sama. Tidak mungkin kita hidup tenang ditempat yang dipimpin oleh Ayah dari orang yang tidak menyukai kita. Tapi setidaknya kamu beritahu kamu agar kami tidak cemas" kini Yuanda yang angkat bicara. Tidak ada raut kesal di wajah Yuanda hanya saja cara bicaranya yang penuh penekanan membuat Aruna begitu malu. Malu karena sudah membuat cemas semua orang.
"Maaf" cicit Aruna pelan.
"Sudahlah, yang penting kan Aruna sudah baik-baik saja. Itu sudah cukup kan?" Baron tidak ingin memperpanjang masalah. Buatnya yang penting Aruna sudah baik-baik saja.
Arsenio dari tadi tidak berkomentar apapun. Tapi dia menyimak dengan baik. Bahkan Harmony yang membisu ditempatnya pun tak lepas dari perhatiannya.
Aruna yang menyadari kalau Harmony mendiaminya kemudian bangkit dari duduknya dan bersimpuh di kaki Harmony.
Reflek saja Harmony memundurkan tubuhnya karena tidak menyangka mendapat perlakuan seperti ini dari Aruna.
"Harmony aku tau kamu marah sama aku. Aku minta maaf" Aruna berkata sambil mengatupkan tangan di depan dada . Memohon pengampunan dari Harmony.
"Jangan begini" bukan Harmony yang menjawab, tapi Baron yang datang dan membangunkan Aruna dari duduknya.
Harmony memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin Aruna melihat dia yang sebenarnya ingin menangis.
Bersambung...