Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 99



Saat ini Rosaline sedang berada di sebuah mobil tidak di kenal. Dia tidak tau entah ke mana arah tujuannya saat ini, dia tidak tau apakah bisa melanjutkan hidup jika seperti ini.


Wanita kecil itu menangis dalam diam di dalam mobil. Dada rapuhnya menjadi sasaran pelampiasan saat ini, tiba-tiba Ros merasakan mobil itu sudah berhenti.


Tangisnya tidak berhenti dan membuat si pemilik mobil sadar ada seseorang di dalam mobilnya. Dengan cepat orang itu langsung bergerak dan membuka pintu dengan waspada dan hati-hati.


Saat pintu di buka, Ros langsung keluar. Air mata tadi sudah tidak mengalir di pipinya. Wanita yang baru saja kabur dari pandangan suaminya terlihat langsung menunduk.


"Maaf Tuan, saya salah masuk mobil tadi," ucap Rosaline. Namun isakan tangis itu belum reda dan masih jelas di dengar oleh si pemilik mobil.


"Rosaline? Hei, kenapa kau menangis?" tanya pria itu mendekat dan langsung memeluk Rosaline. Wanita itu tampak tidak menghindar sedikit pun. Dia malah tambah menangis dan menumpahkan air matanya sebagai tanda rasa pelampiasan.


Ros yang mengenal suara itu tidak lagi mendongak melihat siapa pria itu. Yah pria itu adalah Leon. Cinta pertama Rosaline.


Sekitar lima belas menit Ros menumpahkan rasa sedihnya di pelukan pria yang adalah mantan kekasihnya, Ros menghindar dari pelukan Leon


"Kenapa, apa suami mu menyakiti mu?" tanya Leon menatap ke arah wanita yang masih sesenggukan itu.


Ros menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau nama suaminya rusak di depan orang lain. Dia sudah begitu mencintai suaminya, bahkan di saat seperti ini dia menjaga nama baik suaminya di depan orang-orang.


"Tidak, aku hanya kecewa saja," jawab Ros. Tatapan Rosaline beralih ke arah lapangan luas di belakang Leon dimana banyak pria berseragam angkatan di sana sedang berpesta.


"Apa di sana ada pesta?" tanya Rosaline dan di angguki oleh Leon. Ros bergegas ke arah pesta itu. Dia melihat tumpukan botol yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Leon dengan sigap berada di belakang Ros.


Meskipun dia tidak dianggap, dia juga harus melindungi orang yang di cintanya bukan? Wanita kecil tadi terlihat mengambil satu botol minuman beralkohol dan langsung meminumnya.


"Apa yang kau lakukan Rosaline?" ucap Leon lalu berusaha merebut botol yang sedang di pegang oleh Ros.


Ros menghindar dan tampak menjauh dari raihan tangan Leon. "Tidak, tidak. Biarkan aku sekali ini saja menikmati minuman pahit ini. Siapa tau rasa sakitnya bisa hilang," ucap Rosaline kemudian meminum alkohol itu kembali.


Anggota tentara terlihat heran melihat siapa wanita yang bersama dengan sahabat dari komandan mereka. Leon datang ke sini karena mendapat undangan dari sahabatnya untuk merayakan peringatan ulang tahun sahabatnya itu.


Belum saja satu botol itu di habiskan oleh Rosaline, dia langsung oleng dan di tangkap oleh Leon.


Dia terlihat langsung membopong Rosaline ke dalam kamar yang di sediakan untuknya sebelumnya. Wanita itu terdengar mengigau tidak jelas dalam dekapan Leon.


"Pria si bren*gsek sia*lan itu," batin Leon ketika mendengar keluh kesah Rosaline. Sesampainya di kamar, Leon meletakkan Rosaline di atas ranjang.


Tanpa di duga Ros terlihat memeluk leher Leon secara tiba-tiba. Dan tanpa di duga kembali, Ros langsung mencium bibir Leon.


Pria mana yang menolak ketika orang yang di cintanya memberikan respon? Sebentar Leon tidak sadar dan membalas ciuman wanita yang di cintainya.


Namun dia kemudian sadar bahwa sudah bermain dengan orang yang sudah memiliki suami.


" Rosaline, kau tidak boleh seperti ini," ucap Leon melepaskan pangutannya. Namun Ros tetap bersikukuh.


"Kenapa, aku tidak menarik lagi untuk mu. Apakah kekasih pertama mu itu lebih unggul dari ku? Apa dia lebih liar dari ku?"


Ros membalikkan keadaan dan sekarang sudah berada dia atas perut Leon. Dia terlihat bermain dia tas tubuh pria itu.


"Rosaline, kau berhalusinasi. Aku bukan suami mu," ucap Leon. Suaranya sudah mulai serak karena Ros sudah bergerak tak terkendali diatasnya.


Pria mana yang bisa menolak jika sudah di bangkitkan gair*ahnya oleh orang yang di cintainya. Namun ucapan itu hanya dianggap angin lalu saja oleh Rosaline. Dia terus terlihat melakukan aksinya.


"Baiklah!" Kau yang memintanya," ucap Leon membalas secara perlahan aksi dari wanita dia atasnya.


**


"Sudah ku katakan sebelumnya kak, beritahu saja kakak ipar. Tapi kau selalu mengatakan waktu yang tepat, dan ini lah waktu yang tapatnya. Nikmati lah hari mu tanpa kehadiran kakak ipar," ucap Levi keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu.


Saat keluar dari ruangan itu pun menuju kamarnya, emosinya tambah naik ketika melihat gadis yang bernama Aurora itu sedang duduk di salah satu sofa di ruang keluarga.


"Kakak, aku sudah lama mengenal Kakak ipar Rosaline. Dia itu bukan wanita lemah, tapi ketika dia memutuskan untuk mengalah dengan keadaan itu artinya batas pertahanan dirinya untuk menghadapi keadaan sudah di ambang batasnya. Aku kecewa pada mu kak," ucap Clasy kemudian keluar dari ruangan itu.


Dika mengusap wajahnya frustasi. Dia lah yang menjadi sasaran pelampiasan semua orang.


"Ya, akulah yang salah," ucap Rhadika melempar semua benda yang ada di sekitarnya.


Setelah pulang dari restoran itu, Dika mencari keberadaan istrinya di sekitar mansion, namun tidak menemukan jejaknya. Dia baru melihat Kamera CCTV di sekitar mansion dan dia melihat istrinya melompat dari pagar belakang.


Tidak semua orang mengetahui letak CCTV tersebut karena itu di desain khusus untuk area belakang agar tidak mudah di ketahui oleh penyusup. Dia mengikuti arah perjalanan istrinya melalui alat pelacak yang ada di cincin pernikahan sang istri.


Dan dia bisa melihat kejadian apa yang menyebabkan istrinya pergi. Dia mencoba kembali untuk melacak posisi istri kecilnya, namun nihil setelah sampai di titik posisi terakhir, dia menemukan cincin itu terjatuh di sana.


Selama satu malam penuh Rhadika tidak bisa tidur, dia mencari-cari keberadaan sang istri dengan mengandalkan segala koneksi yang di milikinya, namun nihil dia tidak mendapatkan jejak.


Kantung mata hitam itu begitu tercetak jelas di lingkaran mata Rhadika. Namun dia tetap berusaha untuk mengetahui keberadaan sang istri.


**


Pagi hari menyingsing membuat seorang wanita terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa pusing menahan sesuatu yang begitu berat. Perlahan ketika kelopak matanya terbuka, wanita itu tampak menelusuri bangunan yang sedang dia tempati.


Tatapannya berhenti ketika melihat seorang pria bertelanjang dada sedang tidur seranjang dengannya. Wanita itu terlihat syok. Dia melihat kedalam selimut, dia juga hanya menggunakan pakaian dalaman.


"Breng*sek, Leon sialan, apa yang kau lakukan pada ku?" teriak Ros menendang Leon yang ada di sampingnya.


Leon yang merasakan tubuhnya terjatuh mulus ke arah lantai langsung bangun karena merasakan tubuhnya sakit.


Dia melihat siapa yang berani menendangnya. Pria ith melihat wanita yang sedang di ranjang sudah menangis tersedu-sedu.


"Maaf, semalam aku tidak bisa menahannya," seru Leon menunduk.


"Baj*ingan, sialan kau Leon," teriak Ros sekuat mungkin. "Aku jijik, aku jijik dengan tubuh murahan ku," ucap Ros sambil menarik rambutnya. Leon bergerak cepat dan menahan tangan Rosaline.


Wanita itu mendorong kuat tubuh Leon. Ros terlihat bangkit dari ranjang dan memungut pakaiannya yang berserakan, dia menggunakan seluruh pakaiannya. "Kau mau ke mana?" tanya Leon.


"Diam kau sialan, kau sama saja baj*ingannya dengan pria sialan itu." Entah kemana perginya sifat lembut Ros selama ini, entah dipaksa karena keadaan yang menimpanya, atau dipaksa rasa sakit dihatinya untuk menjadi kejam seperti ini.


"Aku dengar suami mu sudah mencari mu seperti orang gila di luaran sana. Rhadika mencari mu? Apa kau benar-benar ingin pulang?"


Leon sudah mengetahui siapa sebenarnya suami dari wanita yang di cintai. Dia saat ini juga sudah bergelut di dunia militer, jadi dia tau siapa orang-orang berkuasa di Spanyol.


Ros yang mendengar nama laki-laki yang sudah mempermainkan hidupnya mencarinya langsung terjatuh duduk di lantai. "Aku mohon, jangan menyebut namanya." pinta Ros dibalik air matanya yang ingin jatuh. Lagi-lagi dia memukul dadanya yang terasa sesak.


Jangan lupa like๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿ‘


Horas๐Ÿ‘