Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 88



Genap satu minggu hubungan sepasang suami istri itu tidak ada perubahan. Sama seperti biasa, malam hari Ros akan tidur terlebih dahulu sebelum suaminya pulang dari kantor, begitu juga pagi hari, wanita itu akan pura-pura tidur saat suaminya masih di rumah.


Di tengah malam, wanita itu akan menyiapkan perlengkapan kerja sang suami untuk pagi hari agar tidak bertatap muka dengan pria yang saat ini ada diranjangnya dengan posisi itu membelakangi sang suami.


Hari ini adalah hari libur, jadi Dika bangun dengan terlambat. Dia sejak tadi sudah bangun dan menatap lekat ke arah punggung istri kecilnya.


Sebelumnya dia sudah ke rumah sakit dan menanyakan Darren tentang keadaan sang istri. Darren diam-diam dibawa ke mansion saat setelah Ros menyiapkan setelan kerja sang suami.


Dika mengetahui kegiatan malam istrinya, tepat pukul istrinya bangun dan tidur kembali. Bahkan dia tau saat sebelum tidur istrinya itu memeluk dia sebentar dan mengec*up singkat bibirnya.


Darren sudah mengatakan bahwa Dika sudah bebas melakukan apapun pada istrinya asalkan hati-hati dan pelan. Dika pura-pura tidur saat istrinya sudah bangun.


Ros menatap lekat ke arah suaminya. Seperti biasa wanita itu akan mengecup sebentar bibir seksi suaminya. Dengan sigap Dika yang pura-pura tidur langsung menahan tengkuk istri kecilnya yang diam-diam melakukan kemesuman pagi hari.


Bola mata Ros membola ketika melihat reaksi suaminya yang sebelumnya tidur. "Bukankah kau tadi tidur?" tanya Ros setelah ciuman itu berakhir.


"Kenapa, apa kau tekejut. Bahkan aku tau kau sering mencium ku setiap malam." Ros merasa malu karena kedapatan bersikap mesum pada suaminya.


"Baby, aku menginginkan mu," suara Dika terdengar sudah mulai serak dan berat. Yah, dia sudah menahan hasratnya sebagai laki-laki.


Ros awalnya bingung mendengar permintaan suaminya. Bukankah Ros sudah berusaha sebelumnya untuk memancing suaminya, namun nihil tidak ada hasil. Sekarang justru suaminya lah yang merasa tersiksa dan paling menderita di sini.


Tentu saja Ros menghindar. Dia bukanlah wanita yang mudah dibawa pria ke atas ranjang meskipun itu adalah suaminya.


"Apakah semurahan itu aku untuk mu?" tanya Ros menatap lekat manik mata suaminya. Posisi Ros saat ini adalah berada dibawah tubuh suaminya. "What do you mean?" tanya Dika.


"Apa perlu aku menjelaskan sifat dan perilaku mu satu minggu ini?" jelas Ros. Dika hampir lupa tentang kejadian Minggu ini.


"Akan kujelaskan Baby, kau hanya salah paham. Aku semakin sesak Baby," seru Dika. Suaranya sudah seberat mungkin menahan sesuatu yang harus dituntaskannya bersama sang istri.


"Aku tidak peduli, aku ada janji dengan paman Vill untuk acara pemberangkatan Levi." Ros langsung beranjak dan mendorong tubuh suaminya. Dika tentu saja tidak setuju.


"Kau bisa berbicara dengan Darren nanti, dia akan menjelaskan detail kenapa aku berusaha menjauh dari mu satu minggu ini, Baby please," mohon Dika. Dia tidak akan memaksa istrinya itu.


Ros terlihat berpikir. "Darren? Apa karena kecelakaan itu," batin Ros. Kemudian tatapannya beralih ke arah suaminya. Wajah pria itu sudah terlihat memerah karena menahan sesuatu.


Dika sudah tidak tahan lagi dan meraup bibir seksi Istrinya. Dia sudah tidak bisa menahan gejolak yang semakin menuntut di birahinya.


Awalnya wanita yang berada di bawahnya diam dan tidak merespon, namun lama kelamaan Ros membalas sentuhan Demin sentuhan sang suami.


Bahkan Ros terlihat semakin agresif dari biasanya. Sepasang suami istri itu seperti akhirnya melakukan pergumulan panas yang sama-sama dirindukan oleh kedua orang itu. Bahkan tanpa malu Ros mengeluarkan suara merdunya yang memicu semangat pria yang sedang bekerja memeras keringat dia atasnya.


**


Acara dibawah sana sudah disiapkan sebaik mungkin. Pemberangkatan Levi akan dilaksanakan pagi ini. Pertandingan itu tertunda kembali karan ada masalah teknisi di markas MMA. Acra ini diusulkan oleh Kakak iparnya, namun sejak tadi wanita itu tidak lama mo menampakkan diri sama sekali, begitu juga dengan kakaknya.


"Dimana kakak ipar ku," tanya Levi kepada pelayan pribadi kakak iparnya. Biasanya belakangan ini, wanita itu akan membantu para pelayan untuk membuat sarapan jika disinggung dengan pertandingannya. Namun entah kenapa hari ini sepasang suami istri itu tidak menampakkan diri.


Levi juga mengetahui bahwa sedang ada masalah antara kakak iparnya dan kakaknya. Bisa dilihat bagaimana keseharian kakak iparnya yang tidak pernah mengantar kepergian kakaknya ketika bekerja.


Dia berlari sudah seperti yang di kejar orang gila saja. Sesampainya di depan pintu, dia langsung menggedor-gedor pintu.


"Kakak ipar, apa kau baik-baik saja?" teriak Levi.


Semua para pelayan mendengar teriakan pria itu, namun tidak ada yang berani mendekat. Perjanjian di rumah ini adalah mereka harus menutup mata, telinga dan mulut jika mereka melihat atau mendengar permasalahan di rumah ini.


Dika yang sedang ingin memacu lebih cepat pinggangnya diatas song istri langsung di tendang hingga terjungkal dari tempat tidur.


"Cepat buka, nanti Levi masuk," seru Ros dengan panik.


"Sial, sialan kau Levi. Kenapa aku lupa menggunakan peredam suara." batin Dika. "Aku rasa kau tidak perlu menendang ku seperti ini,' seru Dika sambil berdiri. Seketika gairah berci*ntanya hilang seketika.


"Aku lupa sekarang acara pemberangkatan Levi. Mungkin dia sed PPang marah dan menggedor pintu karena sudah lama menunggu. Tenangkan dia dulu dan beriakan alasan yang lembut. Aku akan segera mandi dan mengikuti acaranya," seru Ros langsung pergi dan menyeret selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Tidak perlu ditutup-tutupi, aku sudah menjelajahi semua bahkan setiap inci tubuh mu," seru Dika namun diabaikan oleh Ros.


"Menenangkan Levi? Sebenarnya yang harus ditenangkan itu siapa," kesal Dika berbicara pada dirinya sendiri. Dia kemudian mengambil handuk kecil dan menutupi bagian bawahnya.


Dia menuju ke arah pintu, hatinya sedang panas dan ingin membunuh pria yang ternyata adalah pria yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya.


BUG


Dika langsung menendang perut Levi. Melihat kemarahan kakaknya pria muda itu semakin yakin bahwa awal kemarahan itu berasal dari pertengkaran antara kakak dan kakak iparnya.


Levi terlihat bangun cepat dan menerobos pria yang sedang bertelanjang dada itu. Pria muda yang masih termasuk golongan remaja itu tidak terpikir untuk melihat bagaimana kondisi pria yang sedang diterobosnya.


"Dimana kakak ipar, apa Kakak memukulnya? seru Levi sambil berkeliling kamar, melihat dibawah tempat tidur, berjalan ke arah balkon dan melihat ke bawah, masuk ke walk in closet, membongkar semua lemari. Hal itu membuat Dika muak.


"Bodoh, apa yang kau lakukan? Kau pikir aku akan membunuh Istri ku melalui balkon?" marah Dika ketika kamar pribadi mereka di acak-acak oleh adiknya. "Dimana kakak ipar Kak?" tanya Levi. Dia sekarang sudah berada di dekat ranjang.


Sedangkan wanita di kamar mandi berusaha cepat membersihkan diri. Dia lupa jika dia mengadakan pesta kecil-kecilan dalam acara pemberangkatan adik iparnya untuk beradu otot di ring MMA. Dia sama sekali tidak tau sama sekali perdebatan di dalam kamarnya.


Tiga manusia sekaligus saat ini sedang dalam khawatir tidak jelas, yang satu kesal karena malam kegiatan yang sudah amat dinantikannya tertunda, dan satu lagi berusaha cepat untuk menyelesaikan acara mandinya karena lupa ada acara.


Di kamar Rhadika, Levi melihat beberapa baju berserakan di lantai. Otaknya loading sebentar, "Sh*it, aku salah tebak," batin Levi menatap kakaknya. "Sial, ternyata aku mengganggu mereka yang sedang mencetak ponakan ku, habislah aku." Levi sudah bersiap dengan ancang-ancangnya.


"Kak, apa mungkin kakak ipar di kamar mandi?" Levi terlihat berjalan pelan ke arah kamar mandi.Dia masih pura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi. Dika yang melihat itu ingin segera menangkap adiknya yang lak*nat itu.


Namun tidak tertangkap, ancang-ancang pria muda itu berhasil ketika Dika mengira adiknya itu akan memeriksa ke kamar mandi. Levi memang awalnya berjalan menuju arah kamar mandi, dan dengan sekuat tenaga dia berlari memutar dengan cepat ke arah pintu kamar.


Dika salah sasaran. Yang di lawannya adalah anak kemarin sore yang penuh dengan taktik kekanak-kanakannya. "Bocah sialan, setidaknya kau bereskan kekacauan yang kau buat," bentak Dika pada adiknya.


"Maaf Tuan, kesalahan saya. Saya akan menyuruh pelayan khusus untuk membersihkan kamar kalian," jawab Levi menunduk ala-ala prajurit yang sangat setia ke pada tuannya. Kemudian dengan cepat Levi menghilang dari hadapan kakak iblisnya itu sebelum dijadikan tumbal.


Jangan lupa likenya πŸ˜ŠπŸ‘πŸ‘


HorasπŸ‘