
"Jaga nyonya baik-baik, ingat kau tidak hanya menjaga satu orang saja, yang harus kau jaga ada dua orang dan salah satunya adalah penerus kerajaan Browns," jelas Max dengan serius.
"Lakukan pekerjaan mu dengan benar, aku tidak ingin ada kesalahan," tambah Max lagi.
"Tanpa kau suruh pun akan ku lakukan. Apa Tuan Max pikir aku ini pikun," jawab Clasy dengan kesal. Peringatan yang di berikan oleh Max selalu saja seakan mengatakan bahwa Clasy tidak pernah becus akan pekerjaannya.
"Kau membantah ku?" tanya Max, matanya mulai menatap tajam ke arah Clasy. Wanita di depan Max yang sudah biasa mendapatkan tatapan tajam dari Max hanya biasa saja.
"Baik Tuan Max, saya akan melakukan seperti yang anda katakan. Saya izin undur diri Tuan," jawab Clasy tersenyum manis sebentar dan kemudian berlalu pergi di sana.
Max menghela napas melihat kelakuan wanita itu. "Kenapa Wanita selalu banyak bertingkah, memang semua wanita selalu keras kepala," batin Max sambil berjalan memasuki ruangan Rhadika.
Clasy yang ingin memasuki mobil di hentikan dengan notifikasi yang berbunyi dari ponselnya. Dia berhenti sebentar dan melihat isi pesan itu.
"Bawa istri Rhadika ke gedung X!" itulah pesan yang di terima oleh Clasy. Dia tidak jadi masuk ke dalam mobil.
"Thomas sialan!" seru Clasy.
Clasy tampak melihat ke arah depan dan bagian atas gedung, dia memperkirakan apakah dia akan di deteksi oleh Max. Setelah melihat keadaan aman, dia segera menekan nomor yang barusan mengirim pesan ke pada nya.
"Apa maksud dari pesan mu, hah. Apa kau ingin menyakiti nyonya lagi?" tanya Clasy dengan suara marah.
"Ini adalah tugas terakhir mu, aku akan memberi klu pada mu kapan waktunya. Dan tenang saja, aku tidak akan menyakiti istri Rhadika, aku hanya ingin menunjukkan sebuah game pada nya," seru Thomas.
"Pegang kata-kata mu Thomas. Ini adalah tugas terakhir ku. Kau juga harus mengembalikan ayah ku!" seru Clasy.
"Baik. Tidak hanya ayah mu, aku juga akan memberikan uang pada mu setelah misi mu berhasil, kau hanya perlu membawa wanita itu, selebihnya anak buah ku yang akan mengurusnya."
"Aku tidak butuh uang mu, lakukan saja seperti yang kau katakan," ujar Clasy langsung menutup teleponnya.
Di mansion Rhadika, Aurora terlihat berada di depan pintu kamar Rosaline sejak tadi. Dia sudah lelah mengetuk pintu sejak tadi. Terhitung sejak tiga puluh menit dia sudah berada di depan pintu itu sambil mengetuk pintu namun tidak ada sahutan.
Dia berbalik hendak pergi dari tempat itu, namun tiba-tiba pintu terbuka menampakkan wajah Rosaline yang tidak ceria sama sekali. Aurora langsung menunduk tidak berani menatap wajah Mommy Rosaline.
Ros menatap Aurora yang berada di depannya. "Ada apa?" tanya Rosaline begitu datar dan dingin membuat Aurora semakin tak berkutik dan bersalah. Dia masih ingat wajah bahagia berseri dan bahagia Ros ketika di wahana permainan pada waktu itu. Sangat jauh berbeda dari saat ini. Bahkan suara itu seakan enggan di keluarkan untuk bicara dengannya.
"Mom..mommy Rosaline, maaf. Karena kehadiran ku, mommy jadi tidak bicara pada daddy," seru Aurora menatap sebentar ke arah wanita dewasa di depannya.
"Aurora akan pergi setelah Daddy pulang," seru gadis remaja itu. "Siapa yang mengatakan aku marah pada daddy mu karena kehadiran mu. Apa kau sudah sarapan?" tanya Ros tiba-tiba mengalihkan arah pembicaraan mereka.
Aurora begitu terkejut ketika wanita yang baru terdengar kabar ke hamilannya itu akan mau bicara padanya. Bahkan menanyakan apakah dia sudah makan atau tidak.
"Ayo makan, mommy sudah lapar," seru Ros sambil memegang bahu kecil Aurora. Ros awalnya berpikir, bagaimana pun juga dia tidak akan menerima anak ini. Tapi, dia yang sudah sejak dulu di abaikan oleh orang tuanya tau bagaimana kondisi anak di depannya ini.
Awalnya wanita hamil muda itu seperti pernah mendengar suara gadis ini. Ros berpikir di mana dia pernah mendengar itu, dan tepat sekali dia mengingat di tempat wahana saat itu. Anak ini sendirian dan sempat memanggilnya mommy. Dia juga tidak bisa egois bukan, semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan gadis ini.
Dika yang melihat rekaman CCTV itu begitu terharu. "Terbuat dari apa hati mu Baby?" batin Dika.
"Mommy, apa kau tidak marah pada ku?" tanya Aurora menatap Ros. "Kenapa mommy harus marah pada mu, hmm." Ros terlihat tersenyum menanggapi pertanyaan ank itu.
Clasy yang baru saja memasuki mansion terlihat terharu melihat nyonya mudanya. "Nyonya, apa anda sudah makan?" tanya Clasy.
"Tidak, aku belum makan."
Semuanya tentang sayur-sayuran serba bernutrisi. Namun satu yang tidak bisa di pisahkan dari semua itu yaitu nasi.
"Clasy, kenapa semuanya sayur-sayuran, apa tidak ada lagi makanan lain?" tanya Ros karena sama sekali tidak selera melihat makanan itu.
Clasy tersenyum dalam hati. Meskipun sedang perang dingin dari sang suami, ada pihak lain di antara rumah tangga mereka, Nyonya mudanya tetap bertahan dan menyayangi anak tirinya.
"Nyonya, anda sedang hamil. Saya menjalankan perintah sesuai dengan perintah tuan Rhadika," jawab Clasy tersenyum sambil menyediakan makanan Rosaline.
"Cih, apa dia sudah terbuka otaknya?" batin Ros.
"Mommy, kau hamil?" Spontan Aurora berbicara dengan keras membuat Clasy kaget. "Nona kecil, tolong pelankan suara anda," seru Clasy.
Aurora sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya pada Clasy dan menatap lekat mommynya. "Benar," jawab Ros heran melihat tingkah gadis itu.
"Yes... yes, aku akan punya adik," seru Aurora bersorak gembira di tempatnya. "Seharusnya anak ini marah karena daddynya akan memiliki anak dengan orang lain," itulah isi hati dari ke dua wanita itu.
"Mommy, aku mau adik ku seorang boy agar aku bisa bermain dengannya. Aku tidak mau adik ku a girl karena nanti akan menyaingi kecantikan ku," seru Aurora dengan berani. Dia tidak sadar bahwa dirinya berlebihan di sana.
Setelah diam beberapa saat, Aurora sadar dan melihat mommy dan pelayan Clasy yang menatapnya. "Mommy, maksud ku... aku hanya senang mommy punya dedek bayi," seru Aurora sambil menunduk.
"Ternyata seperti ini jika memiliki seorang anak," batin Ros sambil tersenyum. "Ayo makan," ucap Ros.
Di perusahaan Rhadika, Levi yang sedang berkutat dengan laptopnya hampir mendapatkan identitas orang yang secara beruntun menyerang perusahaan mereka. Tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk melalui kode tersebut.
Max dan Levi menatap satu sama lain begitu juga dengan Clasy. Sedangkan Dika dia masih setia dengan ponselnya yang menunjukkan kedekatan putri dan istrinya.
"Halo Levi, bagaimana? Apakah terlalu sulit untuk menembus pertahanan ku?" tanya pria di seberang sana.
Dika yang mendengar suara orang yang selalu mengganggu kehidupannya langsung menutup ponselnya dan beralih ke depan laptop yang sekarang berada di tangan Levi.
"Hoho, Rhadika. Bagaimana kabar mu. Ah salah, bagaimana keadaan istri mu. Apakah anak yang di kandungan nya adalah anak mu?" tanya pria itu.
"Thomas, sepertinya kau melangkah terlalu jauh," jawab Dika santai. Dia meletakkan laptop itu di meja di depannya, lalu menatap tajam ke layar laptop tersebut.
"Why, ini belum tujuan akhir ku Rhadika." jawab Thomas tersenyum mengejek.
"Sebelum aku menguasai semua yang kau miliki sekarang, mungkin aku akan melangkah semakin jauh, mungkin bisa sampai pada istri mu tercinta" tambah Thomas lagi.
Dika langsung mematikan sambungan telepon itu. "Levi, lacak posisi Thomas! Max, perketat penjagaan istri ku. Dan satu lagi susun strategi, kita akan menuntaskan masalah ini!" seru Dika.
Dika sudah berpikir matang-matang akan menuntaskan masalah ini terlebih dahulu, setelah ini dia akan memperbaiki keadaan rumah tangganya.
Setelah Thomas sudah selesai memanas-manasi musuhnya, dia kembali mengalihkan sambungan teleponnya pada seorang wanita.
"Aku harap kerjasama kita berhasil, kau akan menghancurkan Rhadika dan aku akan bisa bersamanya," seru wanita di seberang sana.
jangan lupa like nya😊👍👍
Horas ✋