Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 71



"Kita pulang Levi, aku sudah malas disini," ucap Ros berdiri dari duduknya. Levi menurut saja dan mengikuti kemauan kakak iparnya.


Saat akan masuk ke dalam mobil, tidak sengaja ekor mata Levi melihat sesuatu yang aneh. Ada beberapa mobil Van yang terparkir jauh di sana.


"Siapa mereka?" batin Levi. Namun dia tetap memasuki mobil dan tidak memberi tahu kakak iparnya. Dia takut jika kakak iparnya nanti tiba-tiba menjadi over thinking.


Levi harus memastikan terlebih dahulu apakah mobil-mobil itu memang benar menargetkan mereka.


Levi mengemudikan mobil, sedangkan Ros fokus pada ponselnya. "Kakak ipar pakai sabuk pengaman mu!" perintah Levi.


Setelah mengamati beberapa saat ternyata benar, mobil itu mengikuti pergerakan mereka. "Kakak ipar, ada yang mengikuti kita. Ambil pistol dari dasbor!"


Ros yang sebelumnya sangat santai, mendengar perkataan Levi, wajahnya tiba-tiba memucat dan dengan tangan gemetar mengambil dua pistol dari dashboard mobil. Kejadian saat diculik oleh Maura masih tertanam di dalam hatinya.


"Tidak usah takut. Aku bersama mu Kakak ipar. Aku juga sudah meminta bantuan pada suami Kakak. Jadi tidak usah takut."


Mendengar penjelasan Levi, Ros sedikit lebih tenang. "Kakak ipar, kau ada seorang istri bos mafia. Kakak ipar sudah biasa merasakan hal-hal seperti ini. Hal seperti ini akan biasa Kakak ipar hadapi, bahkan lebih. Jadi jangan terlalu takut and be strong," jelas Levi berusaha menenangkan kakak iparnya.


Ros menarik napas dalam. "Benar, aku sudah biasa mengalami hal seperti ini. Untuk apa takut? Bahkan aku sudah bisa memegang pistol," batin Ros.


**


Di ruangan rapat, Dika sedang melakukan meeting penting, dimana Max disana sebagai speaker dalam menjelaskan detail-detail kerjasama yang akan dilaksanakan. Begitu juga dengan aturan-aturan yang akan mereka sepekati dan juga keuntungan yang akan didapatkan oleh kedua perusahaan.


Saat ini keduanya fokus, karena ini membawa nama perusahaan. Ponsel dalam mode silent hingga tidak bisa mendengar notifikasi yang masuk ke dalam ponsel mereka.


**


Levi mengemudikan mobil secara perlahan. Dia ingin mengetahui siapa yang mengikuti mereka saat ini. Dengan sengaja pria muda itu mengemudikan mobil sport nya ke jalan raya agar mereka lebih aman, setidaknya sampai bantuan datang.


Beberapa mobil mendekat ke arah mobil mereka. Mencoba mendekat dengan membanting mobil mereka ke mobil sport yang ditumpangi oleh Ros.


Namun berkat ada mobil didepan mereka, Levi langsung maju dan membatalkan aksi mobil Van itu. Namun akibatnya, mobil yang brada di bagian depan langsung terbalik dan menyebabkan kecelakaan terhadap beberapa mobil yang melawan arah.


Bukan tipe Levi membuat orang lain menjadi korban dalam perangnya. Kemudia dia mengemudikan mobil ke arah tempat yang lebih sepi agar tidak menyebabkan kecelakaan dan mengorbankan nyawa orang lain.


"Levi berputar di arah pertigaan disana," tunjuk Ros. Jiwa seorang istri mafia mulai terlihat keluar dari diri Ros.


"Apa yang ingin kau lakukan kakak ipar," seru Levi. Bagaimana tidak khwatir, musuh sudah mulai mengeluarkan timah panasnya dengan mengeluarkan kepala mereka dari jendela mobil mereka.


Untungnya, mobil mereka adalah desain anti peluru. Jika tidak, sudah dipastikan mobil mereka akan bolong dimana-mana.


"Lakukan saja yang kukatakan, mereka sudah semakin dekat. Setidaknya kita harus bisa mengurangi jumlah mereka sampai bantuan datang," seru Ros dengan wajah serius. Tangan satunya memegang pelatuk pistol dan satu lagi memegang tombol kaca mobil.


"Baik, terserah Kakak ipar," seru Levi mempercepat laju mobilnya. Tepat di perempatan Levi memutar setir mobil dan membuat mobil berputar secara otomatis.


Tepat saat perputaran mobil, Ros membuka kaca mobilnya dan mengeluarkan timah panasnya.


DOR


Satu mobil yang hampir menabrak mereka tadi tumbang dan berguling-guling di jalanan. Mobil itu tampak berguling dan akhirnya meledak. Ros sudah memperkirakan perputaran itu dan peluru Ros tepat mengenai dahi si pengemudi.


"What the hell. Savege. Kau sangat keren Kakak ipar," seru Levi kembali mengemudikan mobil. Musuh mereka hanya tumbang satu sedangkan jumlah mereka makin bertambah. Jejak bantuan pun belum menunjukkan batang hidungnya.


Sedangkan di ruangan CEO, Dika baru membuka ponselnya. Disana ada juga Max yang mendapatkan notifikasi yang sama seperti tuannya. Ada notifikasi peringatan bahwa yang memberikan kode dalam bahaya. Ada juga beberapa panggilan masuk kedalam teleponnya dengan identitas baru. Dika menatap dalam ke arah ponselnya.


Sekali lagi ponselnya kembali berdering. Dika menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Halo Rhadika Browns," seru pria di seberang sana.


Pria itu menggunakan speaker suara sehingga sulit ditebak suara siapa itu. "Who are you?" tanya Dika datar.


Max langsung bergerak memanggil tim IT untuk melacak keberadaan pria itu. "Bukankah kau adalah seorang bos mafia? Ayolah, apa kau tidak mengenal suara ku? Ah aku lupa, aku menggunakan speaker," pria itu tertawa disana.


"Apa yang kau inginkan," tanya Dika datar. "Wait, sebelum aku memberitahu mu, aku ingin memberikan nasehat padamu. Tidak perlu melacak ku. Aku akan memberitahukan posisi ku sekarang. Mmm, aku berada di belakang mobil istri tercintamu dan adik mu yang dengan sialnya berani menembak ku."


"S*ial, Max kita kesana." "ouhh, jangan terburu-buru. Aku belum memberi tahukan maksud dan tujuanku." Pria itu menjeda ucapannya sebentar.


Dika yang sudah berada di lobi perusahaan langsung bergegas masuk ke dalam mobil. dengan Max sebagai drivernya.


"Apa yang kau inginkan," tanya Dika sekali lagi. Dia bersikap tenang meskipun hatinya sudah mulai khawatir.


"Berikan perusahaan mu padaku. Tidak hanya itu, aku juga menginginkan klan mu. Jika kau memberikan itu semua, dengan senang hati aku tidak akan pernah muncul dihadapan mu ataupun mengganggu istri mu," seru pria diseberang sana.


Dika tersenyum tipis. "Bermimpilah," jawab Dika langsung mematikan sambungan telepon.


"Apakah anggota dari markas sudah bergerak Max?" "Sudah Tuan, setelah mereka menerima kode, mereka langsung bergerak."


Dika kembali memegang ponsel nya dan menelepon sanga istri. Namun tidak ada jawaban sama sekali


"S**hit," umpat Dika meremas ponselnya. Entah mengapa jika menyangkut istrinya dia sangat sensitif dan tidak terkendali. Ada dua nyawa yang sedang berjuang disana, keduanya adalah bagian penting dalam hidup Dika. Siapa yang tidak khwatir jika dihadapkan dengan masalah serumit ini.


Dika kembali membuka ponselnya. Dia baru ingat cincin yang diberikannya pada istri kecilnya yang berisi alat pelacak.


"Kita ke jalan XX Max, mereka ada disana." Dika kembali memegang ponselnya dan mengabari Odion agar memberitahukan pada anggota lain untuk menuju jalan XX.


**


"Levi, bagaimana ini? Jumlah mereka bertambah banyak," ucap Ros. Namun dia tetap berusaha untuk tenang.


"Kita kan mengecoh mereka sampai bantuan datang kakak ipar. Tapi kita harus bisa menahan mereka. Kita harus mengeluarkan tenaga, setidaknya kita harus bisa bertahan."


"Baiklah." Ros mengeluarkan dua pistol memegang pistol tersebut di kedua tangannya.


"Saatnya bertahan di atas berburu mangsa," seru Ros.


Dia mengeluarkan kepala setelah melihat kaca spion mobil.


"Hati-hati Kakak ipar," seru Levi. Ros mengangguk dan mengeluarkan timah panasnya. Sasarannya saat ini adalah ban mobil musuh.


Tepat sekali, Ros menembak tepat ke arah ban mobil lawan. Mobil yang sedang melaju cepat itu langsung berguling-guling dan masuk ke dalam jurang.


"Menarik," seru seorang pria bertopeng yang melihat aksi seorang wanita yang sejak tadi diperhatikan nya melalui sebuah teropong kecil.


Kepala Ros kembali masuk ke dalam mobil. "Satu mobil mendekat, apa yang harus kita lakukan?"


BRUK


Mobil sport mewah itu ditabrak di bagian belakang. Ros hampir terpental ke depan, Namun dia masih bisa mempertahankan posisinya saat ini.


Levi memperlambat laju mobil. Dengan cepat mobil di sampingnya maju dan bersampingan dengan mobil Levi. "Got you," seru Levi ketika mobil disampingnya kembali ingin bermain dari arah samping mobil mereka.


Dengan cepat, saat melihat mobil disamping mengarahkan mobilnya ke arah mereka, Levi mempercepat laju mobil dengan menginjak gas full.


Mobil yang mendapatkan ruang kosong langsung melaju menabrak sebuah pohon. Levi tersenyum ketika melihat itu. Ros menoleh ke arah kaca spion mobil.


Ada jumlah banyak mobil yang datang. Itulah yang dilihat oleh Ros. "Levi ada beberapa mobil lagi yang datang," seru Ros menatap ke arah adik iparnya.


Levi menatap sebentar ke arah kaca spion lalu tersenyum smirk. "Perhatikan sekali lagi Kakak ipar," seru Levi.


Ros merasa aneh dengan ekspresi adik iparnya. Ros melihat seorang pria sedang memegang senjata laras panjang dan beberapa anak buah lainnya.


Dengan lihai terlihat pria itu dengan mudah menumbangkan beberapa mobil dalam sekali keluar dari kaca mobilnya.


"Wow, he is my husband," ucap Ros tersenyum manis. "Cih, ketika Kakak menampakkan wajahnya baru tersenyum. Tadi saja seperti pembunuh bayaran saja," cibir Levi.


Ros hanya tersenyum dan kembali melihat aksi cool suaminya. "Look, my husband so cool," ucap Ros bertepuk tangan seperti anak kecil.


"Aku juga bisa seperti itu," seru Levi juga ingin di puji. Ros hanya memutar matanya malas. Dia kembali melihat spion mobil.


"Levi, ada satu mobil yang mendekat tapi tidak menyerang kita sama sekali." Levi memperlambat laju mobilnya. Dan benar saja, mobil itu tidak melakukan apapun. Hanya melaju lebih cepat melewati mobil mereka.


Namun anehnya, saat mobil itu melintas, terlihat pria yang ada didalam mobil menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum smirk.


Tentu saja Ros dan Levi tidak mengerti arti senyuman pria itu. Levi ingin mengejar pria itu, namun dia membawa Kakak iparnya. Jika hanya sendiri, Levi akan dengan semangat empat lima untuk mengejar pria itu.


Levi memperlambat mobilnya dan memutar arah. Sudah tidak ada lagi mobil musuh yang terlihat. Jalanan itu menjadi berantakan. Puing-puing mobil berserakan dimana-mana.


Dika juga sudah keluar dari mobilnya dan menyandarkan dirinya di depan mobil menunggu sang istri datang. Dia melepaskan pistol yang berada di tangannya.


Ros yang masih jauh disana mengeluarkan kepala dan melambai-lambaikan tangannya ke arah suaminya yang jauh disana.


Dika tersenyum melihat tingkah istri kecilnya yang seperti anak-anak saja. Tiba-tiba ada sebuah truk yang melaju dengan kencang dengan cahaya yang begitu terang. Truk itu melaju kencang ke arah mobil yang dikendarai oleh Levi.


BAM


Mobil itu bertabrakan dengan begitu kuat. Mobil yang dikendarai oleh Levi berguling-guling hingga menabrak pembatas jalan dengan keras.


Jantung Dika berpacu dengan cepat melihat kejadian mengerikan didepan matanya. Ini adalah hal biasa yang sering terjadi didepannya, bahkan lebih parah dari ini.


Namun, didalam mobil yang sedang hancur disana ada dua orang penting yang ingin di selamatkannya. Kejadian saat dia remaja kembali terulang.


jangan lupa like nya😊👍👍👍


Horas