Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 87



Setelah melihat suaminya sudah datang, Ros pura-pura tidur agar suaminya tidak mengetahui kelakuannya tadi.


Ros merasakan suaminya sudah menaiki ranjang, dia di angkat dan dibawa kedalam dekapan suaminya. Ros merasa aneh, sebenarnya ada apa dengan suaminya. Ditengah pikirannya yang bergelut tanpa sadar wanita itu sudah tidur dan masuk menyelaami alam mimpi.


Pagi harinya saat Ros bangun dia sudah tidak mendapati suaminya di ranjang. Ranjang itu sudah dingin menandakan bahwa suaminya sudah lama beranjak dari sana. Wanita itu terlihat menghela napas dan bangun dari baringnya.


Sekarang dia harus bangun cepat untuk membantu menyiapkan sarapan untuk Levi adik iparnya. Setidaknya jika dia tidak bisa menjadi supporter, dia harus membuat adik iparnya sehat sejati dan bisa mengalahkan lawan nantinya di ring.


Namun saat ingin turun dari tangga untuk menuju dapur, Ros mendengar percakapan tiga orang pria yang sedang duduk di bawah sana.


"Felice akan pulang sekitar satu minggu lagi. Max persiapkan untuk penyambutan Felice. Meskipun anak itu tidak suka pesta penyambutan, setidaknya kita buat acara kecil," seru Dika.


"Baik Tuan," jawab Max. Ros yang mendengar itu tentu saja merasa heran sekaligus tersinggung. Lagi-lagi nama wanita itu selalu mengganggu pikiran Ros.


"Apakah dia wanitanya? Bahkan dia akan membuat penyambutan untuk wanita itu. Jadi bagaimana dengan ku nantinya?" Ros bertanya pada dirinya sendiri.


Sesuatu tiba-tiba terlintas di pikiran Rosaline. Surat perjanjian itu, isi surat perjanjian itu bahwa dia harus mengabdi seumur hidup. Ros menghela napas.


"Jangan terlalu menganggap diri mu terlalu tinggi Rosaline. Lucu sekali, kenapa aku bermimpi terlalu tinggi selama ini," batin Ros.


Kemudian dia menguatkan hatinya, dia tidak boleh lemah dan menangis seperti dulu. Janji yang ia buat dan pegang sendiri adalah bahwa dia harus bisa menjalani dan menerima takdir yang mempermainkannya.


"Come on Rosaline, kau bisa. Setidaknya kau harus bisa membalas budi mereka sebelum kau di buang bukan?"


Wanita itu tampak berusaha menetralkan wajahnya. Dia sengaja membuat suara di langkah kakinya agar bisa menghentikan percakapan diam-diam orang yang berada di sana.


"Kakak ipar, kenapa pagi sekali? Tidak biasanya," tanya Levi. Ros tersenyum dibalik wajahnya yang sakit. "Aku ingin membantu pelayan memasak agar kau nanti bisa menang," jawab Ros. Dia sama sekali tidak melihat ke arah suaminya.


Dika yang melihat itu sadar ada sesuatu yang janggal dari istrinya. Namun dia lebih memilih diam untuk saat ini. Dia tidak ingin setiap permasalahan rumah tangga mereka diketahui oleh orang-orang di sekitar mereka.


Ros berjalan menuju ke arah dapur di ikuti oleh Levi. "Apa kakak ipar benar-benar tau cara memasak. Kakak ipar sangat kreatif jika berkaitan dengan masak memasak," tanya Levi antusias sambil berjalan mengikuti langkah kecil kakak iparnya.


"Ck, tentu saja," jawab Ros. "Wow, Kakak ipar adalah wanita yang paling perfect," seru Levi mengangkat kedua jarinya.


"Tentu saja, tentu saja aku tidak bisa memasak. Aku hanya memberikan klu pada koki dapur dan mereka lah yang memasaknya. Jika kau bertanya apa aku bisa memasak, of course not," jawab Ros santai. Kini rasa sakitnya terobati sedikit meskipun pria didepannya juga menyembunyikan sesuatu.


Dengan perlahan Levi menurunkan jari yang memuji Kakak iparnya tadi. "Cih, sebelum-sebelumnya Kakak ipar begitu angkuh ketika para pelayan menyajikan makanan khas asal Indonesia, ternyata Kakak ipar juga tidak mengetahui apapun," sindir Levi.


"Tapi setidaknya aku tau merequest dan bisa memberikan inspirasi untuk mereka," jawab Ros santai dan tidak peduli dengan ejekan adik iparnya.


Setelah Ros memberikan request pada koki di dapur, Ros bersama adik iparnya keluar dari ruang dapur. Ros melihat ke arah tempat duduk suaminya sebelumnya. Tidak ada orang lagi di sana, hati wanita itu terasa kosong namun berusaha tetap bertahan.


"Kakak ipar, pertandingan ku nanti akan di tayangkan di televisi siaran X, jangan lupa watching me okay!" seru Levi. Ros yang awalnya hatinya terasa lebih berat kini harus berusaha bertahan untuk tetap kuat dan ceria.


"Baik, tapi aku tidak bisa janji. Aku takut melihat kau nanti terluka," jawab Ros mendongak ke atas untuk melihat adik iparnya karena tinggi mereka terlalu jauh.


"Baiklah, aku akan pergi. Aku harus melihat persiapan di markas MMA." "Hmmm, hati-hati," seru Ros menatap kepergian adik iparnya dan dibalas senyuman cerah adik iparnya.


Ros kembali merasakan sendiri dalam hidupnya. Ternyata semua orang yang saat ini berada di sisinya adalah orang yang penuh kepura-puraan dan kebohongan. Dengan lemas dan tidak ada tanda kebahagiaan, Ros terlihat menaiki kamar pribadi mereka.


Dia melihat sebuah pesan dari sahabatnya Felice. Mereka bertukar pesan hingga Felice tiba-tiba meneleponnya.


Pria yang sedang kantornya sejak tadi memperhatikan kelakuan istri kecilnya merasa sangat bersalah. Tadi pagi saat ke kantor dia sama sekali tidak berpamitan atau hanya sekedar melakukan drama pagi biasanya.


Dia juga melihat isi pesan Felice dan Rosaline sebentar dan meletakkan ponselnya itu. Dia kembali melakukan pekerjaannya dan setelah ini akan fokus pada kesembuhan rahim istrinya.


"Ros, apa benar kau baru saja mengalami kecelakaan?" tanya Felice langsung dengan oktaf tinggi dan tidak sabaran. Hal itu tentu saja membuat wanita yang diajaknya bicara merasa sangat terusik.


"Bisakah suara mu yang cempreng itu dikecilkan sedikit? Kau seperti ibu-ibu di kampung ku yang baru saja memanggil anaknya untuk pulang," seru Ros kesal dengan suara Felice.


"Hehehe, aku hanya panik saja," jawab Felice di seberang sana sambil terkekeh.


"Hmmm, bukan baru saja, tapi sudah lama."


"Jadi sekarang apa kau sudah bisa berbicara, sudah bisa berjalan, sudah bisa makan?" Atau kau sekarang cacat?" Pertanyaan Felice terdengar seperti harapan Felica untuk wanita di seberang sana.


"Sepertinya kau berharap seperti itu," jawab Ros. Wanita itu tambah kesal. Belum masalah pagi ini, belum lagi masalah besok yang tidak diketahui entah apa di tambah lagi perkataan Felice yang ngawur.


"Baguslah. Oh iya, dalam waktu dekat ini aku akan datang kenegara mu saat ini. Kita bisa bertemu bukan?" seru Felice dengan senang. Ternyata dia bisa bertemu kembali dengan sahabatnya itu.


"Benarkah?" Kau tidak berbohong bukan?" Ros juga terdengar antusias disana.


"Yah, aku harus pulang. Aku baru-baru ini mendapat kabar kakak ipar ku mengalami kecelakaan. Wait, kenapa bisa samaan seperti ini?" tanya Felice baru sadar.


"Tapi itu tidak penting. Tapi aku mendengar suaramu seperti terbebani, kau sepertinya tidak baik-baik saja," tebak Felice. Dia sudah tau betul sifat dari sahabatnya itu.


Ros terdengar menghela napas. "Yah, aku sedang tidak baik-baik saja sekarang. Sepertinya suami ku selingkuh," seru Ros dengan lesu. Tentu saja wanita di seberang sana marah karena sahabatnya di perlakukan seperti itu.


"Sh*it, aku benar-benar ingin membunuh suami mu. Lihat, jika aku pulang, aku benar-benar akan membunuh pria sialan itu," seru Felica dengan kesal dan penuh amarah.


Melvin yang berada disana terlonjak kaget ketika Felice tiba-tiba berdiri dan menendang meja didepannya. Bahkan lebih terkejut lagi ketika mendengar kata membunuh dari mulut wanita itu. Melvin melihat ke arah Felice yang saat ini berada didepannya.


"Sahabat ku," ujar Felice seakan mengerti dengan tatapan Melvin. Pria itu hanya mengangguk dan memperbaiki meja didepannya. "Aku tidak bertanya," batin Melvin.


"Bagaimana dengan wanita itu, apakah kau tidak ingin melakukannya seperti sebelumnya?" Felice lah yang terlihat lebih marah disini. Dia mengingat betul ketika Ros berbicara tentang Maura yang digamparnya habis-habisan.


"Aku belum menemukan identitas wanita itu karena mereka semua menyembunyikan nya dari ku. Bahkan asisten dan adiknya juga menyembunyikan identitas wanita itu. Aku sudah mendengar nama wanita itu sejak lama, namun aku belum bisa menemukan siapa dia sebenarnya," jawab Ros dengan lesu.


"Bisa ku tebak, pasti dia orang kaya. Maka dari itu identitasnya sangat tersembunyi."


"Sepertinya. Dan dalam waktu dekat ini sepertinya dia akan kembali."


BUG


Felice kembali menendang meja yang sudah di beres kan oleh Max sebelumnya.


"What the hell. Kira-kira berapa hari lagi dia akan pulang, aku akan ikut membantu mu membasmi wanita itu jika masih sempat," seru Clasy. Melvin yang kembali melihat berkasnya berserakan menatap tidak suka ke arah wanita yang selalu dijaganya.


"Suami sahabat ku selingkuh," kawah Felice beralih sebentar menatap Melvin. "Take a deep breath," batin Melvin sambil menarik napas kembali. Dia dengan hati yang tabah memperbaiki berkasnya yang berserakan.


"Aku mendengar sekitar satu atau dua Minggu lagi," jawab Ros. "Jadi bagaimana dengan suami mu, apa kau sudah berbicara dengan nya? Apa kau tidak menendang burungnya agar dia jera?" Melvin yang mendengar itu menatap heran pada wanita disampingnya.


"Kenapa wanita ini tiba-tiba tidak terkendali seperti ini?" batin Melvin.


"Tidak, aku tidak berani. Itu adalah pilihannya dan dia lah orang yang penuh kuasa atas diri ku. Jadi aku tidak boleh protes," jawab Ros di seberang sana.


"Sial, jiak saja aku sudah di sana aku akan dengan mudah mencari tau identitas wanita itu sekaligus mendepak suami mu," umpat Felice.


"Dan sepertinya dia akan diundang ke mansion. Suami ku bersama asisten dan adiknya membuat persiapan untuk penyambutan atas kepulangan wanita itu," curhat wanita yang sedang di Landa kesedihan itu.


"Bren*gsek, pria sialan itu," seru Felice kembali menendang meja didepannya


Dia adalah orang yang paling merasakan bagaimana sakitnya sahabatnya itu disana. Melvin yang ingin menandatangani berkas, meja didepannya kembali melayang.


Melvin berdiri dan ikut emosi. Dia menendang meja itu hingga hancur tidak berbentuk.


"Sekalian saja bar ini kau hancurkan," serunya kesal dan keluar dari ruangan itu. "Jika ingin marah-marah tidak perlu menghancurkan barang-barang," seru pria itu.


Felice yang awalnya kaget tidak memperdulikan meja yang sudah hancur itu dan dia lebih memilih mendengarkan curhatan sahabatnya.


"Aku hanya bisa memberikan solusi pada mu. Jika wanita itu datang kau tidak boleh terlihat lemah. Kau adalah istri sahnya. Jangan lemah seperti biasanya. Kau harus kuat jika ingin bertahan disisi suami mu," nasehat Felice panjang lebar.


Dia tidak sadar bahwa dia saja belum menikah dan sudah menasehati orang yang sudah menikah.


"Baiklah, aku akan mendengar saran mu," jawab Ros. "Jangan lupa untuk mengabari ku. Sebisa mungkin aku akan membantu mu," ucap Felice.


Sambungan telepon itu pun berakhir. Ros menatap ponselnya sebentar ingin melihat video-video yang sering di tontonnya. Namun ada satu yang menarik perhatiannya.


Ada satu pesan notifikasi. "Maura?" seru Ros.


Jangan lupa likenya 😊👍👍


Horas 👐