
Ros merasa was-was, jika nanti suaminya kembali mencabik-cabik dirinya. "Sayang, nanti kita terlambat kepesta," ucap Ros berharap bisa menghentikan aksi suaminya yang sedang bermain didada kembarnya yang sedang terekspos.
Dika yang mendengar mulut istrinya mengoceh langsung membungkam bibir istrinya. Ros pasrah dan hanya membalas ciuman suaminya. Dika melepaskan tangan dan kungkungannya. Mengangkat tubuh istri kecilnya, namun ciuman itu tidak terlepas sekalipun. Sedangkan wanita yang diangkat tubuhnya mengalungkan kedua tangannya keleher suaminya.
Aktivitas keduanya terhenti ketika mendengar suara teriakan seorang bocah besar.
"Oh my God, mataku ternoda," ucapnya berbalik badan. Ros yang melihat itu merasa malu bukan main. Sedangkan pria satu didepannya santai saja. Ros diturunkan dengan lembut.
"Jangan terlalu sering mengujiku Baby, atau kau akan kuhabisi sampai lemas tak berdaya," bisik Dika ditelinga istrinya. Mendengar itu, Ros mengangguk berkali-kali. Pria mesum yang ternyata Dika yang melihat itu tersenyum tipis.
"Dilemarimu ada dress yang lebih tertutup. Aku menunggumu dimobil. Jangan terlalu lebih lama Baby, atau aku sendiri yang akan menjemput mu dan...," pria itu menggigit sensual telinga istrinya. "Dan kau akan berakhir tidak berpakaian lebih dari in."
Ros mendorong kecil dada bidang suaminya dan berlari sekencang mungkin. "Awas jatuh Baby," teriak pria itu sambil terkekeh kecil.
Disebuah gedung seseorang sedang siap mempersiapkan peralatan tempurnya.
"Ready!" ucapnya.
Para pelayan, koki, dan beberapa temannya banyak yang telah beralih profesi dipesta itu. Ada seseorang dibalik tirai yang sudah mulai bosan menunggu kedatangan mangsanya. Memakai topeng untuk menutupi wajahnya.
Dimansion Browns, seorang wanita masih terengah-engah karena sehabis berlari dari tangga paling bawah. Sejenak dia menarik napas dalam langsung berlari kearah walk in closet.
"Wow, dress ini cantik. Meskipun masih dibilang terbuka, tapi lumayanlah dari dress tidak etis ini," ucapnya melempar asal dress kurang bahan itu.
Ros memakai dress itu dan berkaca didepan cermin. Make-up nya sudah berantakan akibat ulah suminya. Tidak ingin berlama-lama Ros hanya memperbaiki make up nya.
Wanita itu tidak bisa meraih resleting belakang dress-nya, mengambil salah satu jas kebesaran suaminya dan berlari keluar.
Sesampainya dimobil, Ros mengetuk kaca depan dimana Levi ada disana. Levi keluar sedangkan pria yang duduk dikursi belakang mengernyitkan alisnya.
"Levi, cepat kancingakn dressku!" ucap Ros sambil melirik suaminya, berharap suaminya tidak ikut keluar.
"Kan ada kakak, kenapa harus aku," kesal Levi. "Cepat kubilang bocah besar," ucap Ros melotot. Levi malah terkekeh melihat wajah imut kakak iparnya. Ros membelakangi mobil.
Ros merasa Levi sangat lama mengancingkan dressnya. Malah merasakan kulit punggungnya dijelajahi oleh tangan besar dan hangat.
Ros berbalik dan kaget melihat siapa yang menjamah punggungnya. Pria itu langsung menarik tangan wanita kecil didepannya dan masuk kedalam mobil. Pria yang dengan berani menjamah dirinya adalah pria singa yang selalu membuatnya lemas tak berdaya.
Dika mendudukkan istrinya dipangkuannya. "Kenapa harus Levi Baby, ucapnya mengancing lembut dress istrinya namun bibirnya menempel sensual di bahu Ros.
"Sayang, ada Levi dan Max didepan," ucapnya. Max yang mendengar itu langsung menekan tombol hitam diponselnya. Sekat hitam pembatas langsung keluar membatasi tempat duduk depan dan belakang.
"Bagaimana jika Levi dan Max tidak melihat kita lagi Baby," ucap Dika tersenyum smirk. Ros kalah telak, apa dia akan selamat?
"Berpikirlah otak bijak, jadilah jenius. Untuk saat ini saja, aku mohon. Bekerja sama lah," batin Ros.
"Aku lapar, tidak makan dari siang sampai sekarang," ucap Ros. Seakan dunia sedang berpihak padanya, terdengar suara dari perut wanita yang sedang duduk dipangkuan prianya.
Ros memasang wajah lesu. "Baiklah," jawab pria itu menghela napas. "Sebentar lagi kita kan sampai, sabarlah," seru pria itu mengelus perut istrinya.
"Berhasil," monolog Ros.
Sesampainya di gerbang pintu gedung perayaan pesta, terlihat seorang wanita seksi kurang bahan sedang berdiri disana. Ros yang melihat itu mengernyitkan alisnya. "Wanita berdada besar palsu," monolognya kesal.
Setelah mobil berhenti Levi langsung keluar dan membukakan pintu untuk kakak iparnya. Tangannya langsung menjaga kepala kakak iparnya agar tidak terantuk atasan mobil.
Levi langsung memegang tangan kakak iparnya dan menggandeng masuk kedalam aula. Para hadirin yang melihat itu merasa takjub melihat sepasang tamu VVIP sedang berjalan ke aula.
Para petinggi dan pebisnis di pesta ini tau siapa yang datang. Pemimpin klan Black Sky. Klan mafia yang paling ditakuti. Para kolega perusahaan langsung mendekat dan berusaha menjilat Levi.
Tentu Ros merasa tidak nyaman. Pandangannya dari tadi sudah jatuh pada kue stroberi yang ada dimeja. Rasa laparnya mengalihkan seluruh perhatian yang dimilikinya. Levi bisa melihat arah pandangan kakak iparnya.
"Urus para anjing penjilat ini. Aku bosan jika harus membahas bisnis tak berguna itu." Levi memang tidak suka dengan bisnis yang berbau dengan grafik dan perhitungan keuangan perusahaan.
"Levi, aku lapar," bisik Ros ditelinga Levi yang sedang menunduk. Para tamu undangan yang melihat kedekatan sepasang itu ingin berteriak histeris karena iri. Terutama para wanita putri dari pebisnis tinggi. Namun mereka tidak berani karena takut menyinggung pria disana.
Pria yang sedang di rooftop gedung buka suara. "Mengenali target!" ucapnya melalui earphone.
Levi langsung membawa kakak iparnya kearah meja yang selalu diperhatikan oleh kakak iparnya sejak tadi. Mata Ros berbinar, adik iparnya langsung memotong kue itu dengan porsi kecil.
"Aku mau banyak," bisik Ros.
"Kakak ipar, kau itu sangat rakus. Giliran stroberi saja," Levi menjeda ucapannya dan membuat para pengawal mengelilingi mereka berdua.
Posisi pengawal adalah menghadap mereka. Levi langsung memotong besar dan Ros dengan senang hati melahapnya tanpa image seorang istri orang kaya. Para pengawal heran melihat wanita bos mereka.
Ros sadar ada banyak pasang mata yang sedang menatapnya. Ros malu namun langsung menegakkan kepala. "Kalian mau," ucapnya dengan wajah polos sambil menyodorkan potongan kue kecil.
Sedangkan di gerbang gedung, setelah melihat istrinya pergi selama 15 menit baru keluar dari mobil. Wanita berdada besar disana langsung berlari dan memeluk pria tampan didepannya.
"Bersikaplah normal," perintah pria itu mutlak dan membuat Maura yang berdada besar itu langsung kembali normal.
Mereka berdua kembali menjadi sorotan dan menarik perhatian para tamu undangan. Namun ingat, tidak ada satupun pemburu berita disana. Seorang Rhadika Browns pemilik pencakar langit RA Company, jika diundang pantang ada kamera. Jika ada, itu namanya menantang seorang pria terkaya dari jajaran Eropa.
Levi yang dikerumuni oleh anak buahnya sangat kesal. Bagaiman tidak? Anak buahnya menjadi banci, tertawa tidak jelas meskipun tetap tegak ketika bersama wanita didepannya. Ros memotong satu persatu untuk pengawalnya.
"Tapi sedikit yah, aku sudah memakannya banyak tadi," ucapnya tersenyum manis. Bibirnya sedah belepotan oleh kue stroberi.
Levi terus mengusap bibir kakak iparnya dengan kesal.
Setelah satu meja itu sudah habis kuenya barulah kerumunan yang diciptakan kakak iparnya bubar.
Terlihat wajah Ros yang senang tadi menjadi buram ketika melihat suaminya menggandeng seorang wanita. "Nenek lampir berdada besar palsu," batinnya.
Alunan lagu "Beautiful In White" yang terdengar seakan ikut mengikuti suasana hatinya. Para tamu undangan mulai berdansa dipanggung sana.
Dika berhenti sebentar ketika pemilik acara ini mengajaknya bicara. Sedangkan Maura berjalan dengan anggun kearah pasangan muda disana.
Maura tersenyum mengejek ke wanita kecil didepannya. "Lihat, kamu hanyalah ******* kecil hiasan disisi Rhadika," ucapnya terang-terangan didepan dua orang yang menurutnya bocah itu.
Ros menatap garang kearah Maura. Dika yang sudah selesai langsung menuju istrinya. Pusat perhatian para tamu undangan berada pada kedua pasangan itu.
Hadirin tersebut dibuat kaget karena melihat tamu VVIP paling dinantikan di pesta ini tiba tiba-tiba menunduk dan mengajak wanita cantik disana berdansa.
"Nona, maukah anda berdansa dengan saya?" Tentu Ros linglung. "Tapi aku tidak bisa berdansa," ucapnya spontan dengan wajah bingungnya. Memang benar Ros tidak tau cara berdansa.
Hadirin itu semua kembali kaget melihat seorang wanita menolak ajakan seorang Browns. Namun tiba-tiba, secara tak terduga wanita itu menerima uluran tangan suaminya. Terlihat nenek lampir berdada palsu disana memerah wajahnya karena marah.
"Istri sah ingin berdansa dengan suaminya. Senggol dong, yang dijadikan sebagai pasangan topeng saja," ucap Ros berbisik ditelinga Maura.
Ros bersama suaminya mulai naik keatas lantai dansa. Otomatis para pedansa lain langsung turun pertanda mengalah tidak akan bisa menyaingi pasangan yang baru naik kepanggung itu.
Pria di rooftop bersiap menghabisi targetnya. "Sasaran dikunci," ucapnya melalui earphone.
Sedangkan Ros dipanggung dansa hanya tau permulaan dansa saja. Pinggang kecilnya dipegang erat oleh sang suami, sedangkan tangan satu mereka berpegangan diudara.
Ros berhasil mengikuti ritme dansa suaminya. Wanita kecil itu turun dari panggung dan menuju Levi yang sedang tersenyum manis disana. Namun pria dipanggung sana melihat cahaya merah lurus dari sebuah gedung mengarah ke istri kecilnya yang sedang berjalan ke arah adiknya.
Dia berlari cepat.
"No please. Please," ucapnya dalam hati.