
"Apa yang kau lakukan disini," tanya pria yang sedang memegang samurai itu. Jantung nya berdetak cepat, begitu juga dengan Levi dan Max.
"Bagaimana tadi jika samurai ini mengenai mu hah?" tanya pria itu kembali dengan meletakkan sembarang senjata yang sedang dipegangnya.
Yang ditanya malah menangis dan memeluk erat si pengawal. "Lepaskan dia. Untuk apa kau memelukku nya!" perintah pemilik mansion ini.
Wanita yang diperintahkan hanya diam dan berbalik melihat suaminya dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata.
"Hiks... hiks dia sudah kehilangan adiknya. Dia juga tidak sengaja memberikan ponselnya. Itu namanya bukan penghianat," seru Ros menatap lekat suaminya.
"Kasihan dia, sudah tidak memiliki keluarga," seru Ros. Dia berbalik menghadap pengawal yang sudah babak belur itu.
"Hiks.. hiks..., aku tidak punya uang untuk kamu usaha yang baru, tapi nanti aku akan meminjam uang dari suamiku. Tetap lah bertahan hidup apapun yang terjadi, meskipun masalah yang kau hadapi seakan ingin mencabut nyawamu. Kadang hidup berusaha pun kadang tidak diakui" seru Ros menepuk bahu pengawal itu.
"Kembali kekamar!" perintah Dika. Mendengar itu Ros berbalik dan langsung memeluk suaminya. Dia seperti anak kecil yang ingin di gendong depan memanjat-manjat kepelukan suaminya.
Dengan kesal Dika mengangkat istri kecilnya ke dalam pelukannya.
"Jangan marah," seru Ros menelusup kan kepalanya kedada bidang pria kejam yang ternyata adalah suaminya. Tatapan tajam yang dilayangkan oleh suaminya membuat tubuhnya bergetar didalam pelukan hangat Dika. Tentu saja pria itu bisa merasakan getaran ketakutan wanita dipelukannya.
"Tadi aku tidak bisa tidur karena tidak ada yang memeluk. Jadi aku datang mengikuti mu sampai ke sini," seru Ros dengan tubuh bergetar.
Dika yang merasakan tubuh bergetar istrinya mengusap lembut rambut istrinya. "Orang penakut menyelamatkan orang yang sedang ketakutan," bisiknya di telinga sang istri. Sedangkan Ros memeluk erat sang suami.
"Aku akan melepaskan dia Baby, tapi itu semua tidak gratis. Ada harga yang harus kamu bayar," bisik Dika kembali. Mendengar itu Ros menjadi masam wajahnya.
"Dasar mesum," seru Ros memukul dada bidang suaminya. Tidak ada lagi raut wajah sedih yang terlihat di wajahnya.
"Bebaskan dia, dan beri kompensasi padanya. Tapi ingat kau bukan lagi bagian dari pengawal dirumah ini," seru Dika dan kemudian berbalik berjalan keluar dimana wanitanya digendong ala koala.
Ros melambaikan tangannya pada sang pengawal. "Semoga cepat sembuh," seru Ros dengan senyum manisnya. Pengawal yang melihat itu merasa terharu dengan perlakuan nyonya muda dirumah ini.
Pengawal itu menunduk berkali-kali sebagai ucapan terimakasihnya. "Suatu saat aku akan membalas kebaikan mu ini Nyonya. Akan kuanggap ini sebagai hutang budiku," batin si pengawal.
"Cih, jangan tersenyum kepada pria lain selain diriku!" seru Dika tak terima jika senyum istrinya dibagi untuk banyak orang. Mereka sekarang sudah menuju kamar utama mereka.
Mendengar itu Ros menatap suaminya. "Sayang, memangnya kenapa kalau aku tersenyum pada orang lain?"
"Intinya jangan tersenyum pada orang lain, mengerti?" Ros merasa tidak terima.
Ros menggelengkan kepalanya. "Kau tau Sayang, dinegara ku itu harus selalu tersenyum. Maksudku, jika kita bertemu dengan siapapun kita harus saling menyapa meskipun tidak kenal.
Harus ramah dimana pun dan kapanpun, kecuali waktu kita ribut, hehe. Tapi disini seperti tidak mengenal orang lain saja. Tidak pernah menyapa satu sama lain. Bahkan tidak mengetahui siapa tetangga mereka. Seperti aku dulu waktu kuliah" seru Ros sambil memikirkan sikap orang-orang disini yang sama sekali jauh dari kata ramah seperti negara merah putih nya.
"Terserah," jawab Dika kesal. Dia bingung dengan negara bagian Asia satu itu. Tidak mengenal tapi saling menyapa. Dia merasa aneh dengan pernyataan tak logis itu.
"Ck, wanita mesum ini. Tapi aku suka pikiran liar mu yang ini Baby," seru Dika dan langsung memeluk istrinya. "Tidurlah, selama sebulan ini aku akan di mansion bersamamu. Kita akan melakukan latihan menembak dan bela diri. Itu harga yang harus kamu bayar."
Ros yang mendengar itu senang bukan main. "Benarkah? Yes, aku akan tau bela diri. Aku tidak sabar menunggu hari esok," seru wanita itu.
"Hmmm, tidur lah," serunya kembali memeluk sang istri. Kebiasaan Ros tetap muncul, kakinya selau dinaikkan ke arah perut sang suami.
"Kamu belum tau seperti apa latihan bela diri Baby," batin Dika mulai menutup mata.
**
Disebuah gubuk kecil yang jauh dari perkotaan seorang gadis kecil berumur sekitar 12 tahunan sedang menatap beberapa foto yang baru saja ditemukan oleh anak buahnya.
Diumur yang masih tergolong muda, gadis kecil itu sudah memiliki sebuah klan mafia kecil. Tapi jangan diragukan kekuatan kecil yang dimiliki oleh klan kecil itu.
Bisa dilihat dari kemampuan anak buahnya untuk mencari siapa daddynya. Bahkan dia tau sekarang ini bahwa daddynya memiliki seorang istri.
"Ohh, jadi ini Daddy," serunya manggut-manggut. "Sangat tampan, kaya dan ples CEO dari mafia sadis. Tapi aku lebih suka pria satu ini," seru wanita itu mengambil foto satu lagi.
"Aku lebih suka uncle Levi. Tampan, muda, masih bisa dibilang cocok denganku." Pengawal yang mendengar itu hanya diam tak memberi respon.
"Aku akan menikah dengan uncle Levi dikemudian hari." Dia meletakkan foto itu kembali dan melihat foto seorang wanita wajah Asia.
"Mommy Rosaline juga cantik. Tapi kenapa Daddy lebih memilih wajah Asia," serunya kembali sambil memikirkan bagaimana jika ia bertemu dengan mommy barunya. Reaksi apa yang akan ditunjukkan oleh mommy muda itu.
"Aunti Felice juga cantik. Tapi belum memiliki kekasih diumurnya yang sekarang. Miris," serunya kembali.
Setelah melihat satu persatu foto didepannya wajah aslinya kembali keluar.
"Apakah mommy meminta ku untuk pulang?" tanyanya pada sang asisten. "Benar Nona. Ibu anda meminta kita kembali sekitar 3 bulan lagi," jawab sang asisten yang sudah berumur.
"Ulur waktu nya. Aku belum siap berhadapan dengan daddy. Aku juga tidak ingin menyakiti wanita yang dicintai oleh daddyku," seru wanita itu dengan mata tajam khas anak kecil.
"Dan aku ingin informasi lebih lengkap tentang uncle Levi,' serunya kembali. Perintah itu hanya diangguki oleh sang asisten dan berlalu undur diri.
"You Will be mine uncle Levi. No matter if you have a girl friend." Gadis kecil itu berbicara pada dirinya sendiri sambil menatap foto priaq yang mulai disukainya meskipun hanya menatap dalam bentuk foto.(Kau akan menjadi milik ku paman Levi. Tidak peduli jika kau memiliki kekasih).
Hay semua😊
Terimakasih sudah mampir di novelku😊. Sejauh ini readers yang mampir dinovelku baik semua, meskipun ada nyenggol sedikit but i'm okay and really thank full for you all 🙏🙏
Horas