Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 44



Disebuah rumah yang terlihat tua ditengah hutan, seorang pria tua sedang marah melalui telepon.


"Bodoh! Apa sekali saja kau tidak bisa menang darinya," marah pria itu melalui sambungan telepon.


"Maaf Dad, akan kuperbaiki Dad. Aku sudah punya rencana yang lebih baik. Aku berjanji, rencana yang kususun kali ini benar-benar akan berjalan lancar," jawab pria diseberang sana.


"Jangan pernah kau sebut aku sebagai Dad mu jika belum bisa mengalahkan anak itu. Jika kau belum membuatnya menderita seperti yang kualami."


"Baik Tuan," pria itu mengubah nama panggilannya. Setelah telepon itu tertutup, sebuah ponsel terlempar kasar kearah ding-ding.


"Aku akan benar-benar membunuh wanita mu Rhadika Browns. Sudah cukup hidup ku selalu dibanding-bandingkan denganmu. Aku muak dengan semua ini. Bahkan Daddy ku tidak mengakui diriku hanya karena kau lebih tinggi dariku. Tunggulah saatnya," ucap pria itu pada dirinya sendiri.


**


Didalam sebuah mobil, merasakan dekapan suaminya semakin erat, dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya.


"Sayang, pendarahannya sudah berhenti? Apakah tidak sakit lagi? Tapi kau bilang tadi darahmu hampir habis," seru wanita itu didekapan suaminya.


"Tapi tidak ada darah yang baru, kenapa bisa begitu? Apa darahnya tadi masuk kembali yah?" Pelukan itu terurai, Ros menggaruk kepalanya meskipun tidak gatal.


Dika tertawa dalam hati. "Bagaimana istri dari seorang king mafia bisa sepolos ini?" monolog nya dalam hati.


"Kita sudah sampai, Darren sudah didalam menunggu." Tiba-tiba Levi buka suara dan menghentikan percakapan sepasang suami-istri itu.


Dika diletakkan dalam brankar dan didorong kedalam rumah. Satu hal yang menarik perhatian Ros setelah memasuki mansion. Dia tidak pernah melihat semua pelayan yang berjejer di depan pintu, Clasy juga tidak ada disana.


Sedangkan Clasy yang ada disudut menghela napas lega. "Ternyata nyonya baik-baik saja, aku lega," ucapnya berlalu pergi ke mansion paling belakang.


Pikiran Ros teralihkan dengan keadaan suaminya, bukan pelayan atau Clasy yang terpenting sekarang, tapi suaminya yang terkena peluru panas. Setelah sampai dikamar pribadi mereka, Darren terlihat santai disana sambil memakan cemilan.


Melihat itu Ros menjadi marah. "Darren, apa yang kau lakukan? Cepat bantu suamiku, dia sedang sekarat."


"Sekarat? Cih, aktingnya memang lumayan," cibir Darren dalam hati.


Setelah Dika diletakkan di atas ranjang, dia buka suara. "Keluar!" perintahnya. Semua pengawal bersama dengan Levi ikut keluar. Namun tidak Ros dengan Darren.


"Kamu juga keluar! Aku ingin fokus diobati," lirik Dika kearah istrinya.


"Tapi Sayang..., aku ingin menemani..."


"Aku bilang keluar!"


"Kenapa? Apa kau tidak membutuhkan ku lagi?" tanya Ros dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


"Wanita ini kenapa pikirannya selalu terbang kemana-mana," batin Dika.


Dika diam tidak lagi menanggapi istrinya. Ros terpaksa keluar dengan tersedu-sedu.


Setelah melihat istrinya keluar, Dika membuka jas beserta kamejanya. Dipakaian terdalam ada sebuah peluru yang hampir menembus kulit punggungnya. Ia juga melepaskan pakaian anti peluru itu.


"Kau terlalu jauh membohongi istri mu. Bahkan dia menangis dari pesta sampai rumah. Bahkan kau mengusirnya tadi," ucap Darren melanjutkan kegiatan mengemilnya.


"Bukan urusanmu, lakukan saja pekerjaanmu sesuai Kemampuan mu yang tak seberapa itu!" Setiap perkataan Dika selalu saja menyinggung kemampuan pria berjas putih disana.


"Ck, orang yang meminta bantuan sebaiknya tangan berada dibawah," Darren mengeluarkan alat bedahnya dengan berdecak kesal.


"Aku menggajimu dan menjadikanmu budakku. Untuk apa aku meminta bantuan mu dan meletakkan tanganku dibawah, bukan tipeku," ucap Dika sambil berbaring telungkup.


Sedangkan diruang keluarga, seorang wanita terisak didalam pelukan adik iparnya. "Aku hanya ingin melihat nya diobati. Aku tidak akan mengganggu nya, tapi dia mengusirku. Bahkan saat aku pergi dia tidak menahanku," adu Ros kepada adik iparnya.


"Kakak ipar tenanglah! Kakak menyuruh kakak ipar pergi karena itu memang aturannya," jelas Levi.


"Aturan?" tanya Ros melerai pelukannya dan menatap lekat kearah Levi.


"Apa Kakak ipar tidak pernah mendengar prosedur pengobatan dokter? Jika sedang mengobati seseorang diharapkan semua orang yang ada di orang diruangan itu keluar terutama keluarga nya, kecuali orang-orang medis," jelas Levi panjang lebar.


"Benarkah seperti itu aturannya?" tanya Ros sambil mengusap air matanya. Tangisnya sudah semakin reda.


"Benar Kakak ipar. Untuk apa aku membohongi mu?" Levi merasa lega karena Kakak iparnya sudah tidak menangis lagi.


Ditengah percakapan kedua orang itu terlihat Darren menuruni tangga. Ros langsung bangkit dari duduknya dan menyusul Darren dengan tergesa-gesa.


"Bagaiman keadaan suamiku? Apakah baik-baik saja? tanya Ros tergesa-gesa ke Darren.


"Sudah, aku sudah mengambil pelurunya. Tidak terlalu dalam, jadi tidak perlu dikhwatirkan. Dalam sebulan ini jika tidak melakukan kegiatan berat dipastikan sudah sembuh total," jawab Darren.


Ros mengangguk pertanda mengerti.


"Terimakasih Darren," ucap Ros. Setelah itu langsung pergi naik menaiki tangga menuju kamar dimana suaminya berada.


Darren menunju Levi yang duduk tenang di sofa sana. "Ternyata kamu bisa menjadi seorang aktor. Ekspresi mu cocok, perkataan mu lancar, sampai bisa menyakinkan kakak ipar. Sebaiknya kau berubah profesi," seru Levi sambil memakan stroberi nya.


"Aku terpaksa. Jika bukan diancam akan dikirim kepedalaman, aku tidak akan membohongi kakak ipar. Dia juga mengancam akan meratakan rumah sakit daddy ku," seru Darren menyandarkan punggungnya ke sofa. Levi manggut-manggut disana.


Max tiba-tiba datang bersama Odion dan menjatuhkan diri kasar kesofa panjang. "S*ial, kami kalah jumlah," ucap Max menghela napas kasar.


"Kakak juga tidak menyuruh mu untuk menangkap nya Max, hanya untuk memastikan apakah dia memang ketua Ghost Lion yang baru. Kamu terlalu rakus berburu musuh Max," sahut Levi.


"Tapi permainan tadi sangat seru Lev. Baru kali ini aku bisa bermain bersama Max, dan itu menyenangkan," seru Odion dengan menepuk bahu Max. Sedangkan pria yang dibicarakan ha ya acuh saja.


"Bagaimana? Apakah power yang dimiliki ketua Ghost Lion besar, atau hanya sebatas keset kaki saja?" tanya Darren mulai ikut dalam percakapan serius itu. Darren memang bagian dari Black Sky, tapi hanya dalam misi besar saja. Jasanya sangat dibutuhkan dirumah sakit sehingga membatasi kegiatannya di klan Black Sky.


"Lumayan, tapi sepertinya mereka sudah memiliki banyak anak buah. Senjata mereka juga senjata modern terbaru," jelas Odion.


"Sepertinya mereka lawan yang seimbang," seru Levi. "Apa kamu melihat wajahnya Max," tanya Levi lagi.


Max terlihat menutup mata dan memijit keningnya. "Permainan sepertinya baru dimulai," seru Max tidak menanggapi pertanyaan Levi.


Paman Vill terlihat menyiapkan kopi untuk tamu tuan rumah ini.


"Paman Vill, suruh semua pelayan keruang belakang! Jangan ada yang tinggal satu orang pun, termasuk pelayanan pribadi nyonya," perintah Max.


Mendengar perintah Max, paman Vill hanya mengangguk. Levi tersenyum, "habislah kau penghianat, ajalmu semakin dekat," batin Levi.


**


Dikamar sepasang suami istri yang sedang diselimuti drama.


"Sayang, apakah sudah mulai baikan," tanya Ros.


"Lebih baik dari sebelumnya Baby," jawab Dika santai sambil bermain ponsel. Ros menatap curiga kearah suaminya. Hening sebentar, Ros menuju suaminya, dan ingin membuka punggung suaminya dengan tiba-tiba.


Dika terkejut dan langsung meletakkan ponselnya dan menahan tangan istrinya. "Baby, tidak usah dibuka. Nanti, lukanya terbuka," ucap Dika tetap memegang tangan istri kecilnya.


Wajah Ros terlihat semakin penasaran. "Lepaskan tanganmu Sayang! Atau aku akan tidur dikamar Levi selama sebulan dan kau tidak akan mendapatkan jatah selama sebulan itu," ancam Ros.


Dika pasrah dan dan melepaskan tangan istri kecilnya. Bagaiman nanti dia bisa tahan jika tidak mendapatkan jatah selama sebulan. Bisa-bisa nanti Dika junior lama tumbuh dirahim istrinya.