Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 54



Setelah mendapat perintah dari sang tuan. Para anggota dari wanita itu bergerak. Semua mengambil tugas masing-masing.


Sedangkan Ros sedang bercanda tawa bersama dengan Clasy didalam mobil. Odion menjadi seorang supir bagi kedua wanita itu.


Ditengah jalan menuju perusahaan sang suami, mobil yang dikendarai oleh Ros berhenti. Disana terjadi sebuah kecelakaan beruntun. Itulah info yang didapatkan oleh Odion.


"Nyonya, ada kecelakaan beruntun didepan sana. Sekarang menunggu truk derek. Harap bersabar Nyonya," ucap Max dari kaca mobil.


Selam 30 menit beberapa mobil yang terbentang ditengah jalan itu tak kunjung digeser karena truk derek belum datang. Ros keluar dari mobil begitu juga para pengawal yang ada mobil paling depan dan belakang.


Pengawal itu berjumlah 10 orang termasuk Odion dan Clasy. Ros melihat sekeliling dan melihat tukang es krim, tapi dia tidak memiliki uang.


"Odion, mmm, boleh tidak aku meminjam uangmu. Aku lupa meminta uang dari suamiku," seru Ros.


"Seorang istri dari bos mafia miliarder tidak memiliki uang," batin Odion sambil mengeluarkan dompetnya.


"Mari Nyonya," ajak Odion berjalan ke arah tukang es krim jalanan. Tiba-tiba insting Odion menjadi tajam.


Mata tajamnya tidak sengaja melihat seorang pria yang memantau pergerakan mereka dari belakang pohon. Odion berhenti dan memperhatikan suasana di sekitar tempat itu.


Tidak terlalu ramai, namun ada yang mencurigakan. "Odion ayo beli es kri...,"


Dor Dor Dor


Ucapan Ros terhenti ketika terdengar suara tembakan dari arah yang berbeda. Dengan sigap Odion langsung melindungi sang nyonya begitu juga para pengawal lainnya. Mereka membentuk formasi perlindungan.


Odion langsung berlari membawawa Ros kebelakang mobil. "Nyonya, tolong diam ditempat anda. Kami akan mengurus nya," seru Odion berusaha membuat suasana tidak semakin tegang.


"Berikan aku senjata," seru Ros. Meskipun takut tapi dia sudah mengetahui sedikit tentang kekerasan di dunia mafia suaminya.


"Berikan juga padaku. Aku akan berusaha melindungi Nyonya," tambah Clasy.


Tepat diatas gedung didepan mereka ada seorang pria yang memegang pistol hendak turun menggunakan tali untuk turun dari atas gedung.


Dor


Clasy menembak pria itu dan jatuh mati mengenaskan dari tali itu. "Lindungi aku," perintah Clasy.


"Apa yang kau lakukan," seru Odion. "Jangan bermain-main di waktu menegangkan seperti ini," bentak Odion.


Tanpa pikir panjang Clasy berlari menuju mayat itu. Tidak ada pilihan lain, Odion harus melindungi Clasy.


"Pelayan sialan itu," batin Odion mengikuti Clasy dari belakang sambil memuntahkan timah panasnya kearah lawan. Sesampainya di mayat tersebut, Clasy mengambil senjata sang pria. Sekilas dia melirik pergelangan tangan si pria.


"I know what should i do," batin Clasy tersenyum smirk. (Aku tau apa yang harus kulakukan)


"Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin mengantar kan nyawamu secara cuma-cuma," seru Odion menahan amarah ketika sudah berlindung di balik tembok.


"Aku hanya ingin mengambil senjata mereka. Lebih besar dan aku menyukainya," jawab Clasy datar.


"Jika kau menyukai senjata seperti tinggal minta saja, tidak usah bertindak bodoh," seru Odion.


"Aku harus bersama nyonya," seru Clasy abai langsung menunduk dan berguling ke area terbuka dengan tiba-tiba dan menembaki musuh yang sedang lengah.


Sedangkan Ros dibelakang mobil juga sedang berjuang. Dia sudah ikut andil dalam penyerangan ini.


Meskipun tangannya masih gemetar, tapi dia berhasil melumpuhkan lawan. Mereka seakan terdesak. Clasy bersama Odion langsung menuju orang penting yang harus mereka lindungi.


"Odion, Kita kalah jumlah. Mereka bahkan lima kali lipat lebih dari kita" seru Ros setelah melihat Odion berada disampingnya. Ros sudah bisa memantau perkembangan situasi saat ini.


Odion mengambil ponselnya dari saku dan ingin menelepon sang tuan. Tiba-tiba musuh berjumlah banyak dan mengarahkan senjata kearah mereka. Ponsel Odion terjatuh.


"S*hit, Clasy bawa nyonya bersamamu kearah gedung itu. Aku akan melindungi kalian," seru Odion ditengah bisingnya suara tembakan itu.


Para pengawal tetap mempertahankan formasi untuk melindungi sang nyonya. Mereka belum ada yang lumpuh karena mereka adalah anggota Black Sky, mafia paling kuat.


Clasy dan Ros bergegas ke dalam gedung dibantu oleh Odion dari belakang. Tanpa sepengetahuan mereka ada seorang penembak jitu dari atas gedung itu.


DOR


Satu timah panas mengenai pria diatas sana. Ros sejak tadi sudah melihat pria itu, namun belum menemukan waktu dan posisi yang tepat.


Ros tersenyum tipis. "I'm Strong Woman," batin Ros sambil berlari mengikuti langkah cepat Clasy.


Sedangkan Odion diluar berusaha mencari ponselnya yang terjatuh. Namun tidak bisa karena sudah dikerumuni lawan yang jumlahnya tak sepadan dengan dirinya yang hanya satu orang saja di pintu gedung itu.


Dia akhirnya menekan tombol merah yang berada di jam tangannya. "Semoga tuan melihat kode yang kuberikan," ucapnya berharap. Karena dia mengetahui sang tuan sekarang sedang melakukan meeting proyek besar.


Sebenarnya, bukannya dia tidak mampu, namun musuh semakin mendekat bahkan lebih banyak dari sebelumnya dan akan berbahaya jika nyonya mereka terluka. Dia tidak ingin mengambil resiko tentang nyonya muda mereka.


Clasy dan Ros yang sudah berada didalam gedung itu menghela napas lega. Namun itu hanya berlangsung selama sesaat saja. Ketika Ros ingin mengambil ponsel didalam tasnya, mereka mendengar langkah kaki yang turun dari tangga lantai satu gedung itu.


"S*ial, ada tamu tak diundang lagi Nyonya," seru Clasy. "Peluru kita juga tidak ada lagi," tambah Clasy.


"Tenang Clasy, aku juga sudah bisa bela diri. Slowly," ucap Ros santai. Dua orang pria berbadan besar bertato terlihat menuruni tangga.


Ros langsung memeluk lengan Clasy. "Clasy, bagaimana ini. Mereka Ternyata adalah komplotan raksasa," bisik Ros. Sedangkan Clasy tersenyum melihat salah satu pria besar itu.


"Nyonya, apa anda tidak melihat darah di perut pria sebelah kanan?" seru Clasy. "Kita menang satu langkah Nyonya," jawab Clasy.


"Sepertinya mereka ingin menangkap nyonya hidup-hidup," batin Clasy.


"Cih, ternyata kita disuruh hanya untuk menangkap wanita kecil dan lemah seperti mereka," ucap pria besar yang terluka. Dia maju kedepan.


"Tidak semudah itu," seru Clasy. "Nyonya," ucap Clasy sambil menatap kearah Ros. Ros tersenyum dan maju kehadapan si pria yang terluka.


Satu pukulan hampir mengenai wajah Ros. Dengan sigap, Ros menghindar dan mendorong salah satu kakinya ke tembok dengan kuat sebagai tumpuan dasar.


Dia melompat dan meninju wajah si pria. Clasy yang sudah melihat waktunya dia bergerak, dengan sigap menendang keras perut yang sedang berdarah milik pria itu.


BUG


Si pria badan besar tersungkur jatuh kelantai. Darah dari perut pria itu berembes lebih deras. Wajahnya langsung pucat, tanpa ampun Clasy menekan perut pria itu dengan keras.


"Kau salah lawan pria besar tak berguna," seru Clasy menghentakkan kuat kakinya diatas perut pria itu hingga beberapa kali.


Setelah Ros sudah mengambil bagian, secara pelan dan diam dia bergerak ke balik tembok. Tinggal Clasy disana bersama dengan satu pria yang sudah kehabisan darah dan satu pria yang berdiri tegap dengan keadaan marah.


Fokus pria yang bertato yang satu itu adalah Clasy. Lawan yang sedang berada dibawah kaki Clasy sudah mulai kehabisan darah, sudah lemah tapi ditambah mati oleh Clasy.


"Bagaimana? Apakah kau masih mengatakan aku wanita lemah. Cih, badan saja yang besar, tapi tidak berguna." Clasy memancing emosi si pria besar yang masih berdiri tegap.


Pria itu mulai berjalan cepat ke arah Clasy. Sedangkan wanita itu tersenyum licik. Hampir didepan Clasy, "I'm coming," seru salah satu wanita yang sedang berlari mengambil ancang-ancang.


BRAK


Sebuah kursi mengenai kepala si pria. Pria itu terhuyung namun masih bisa berdiri tegap. Clasy bergabung bersama dengan Ros.


"Hati-hati Nyonya. Ini tidak seperti lawan kita sebelumnya. Dia kuat dan tidak terluka sedikitpun," seru Clasy berusaha mengingatkan Ros.


Ros mengingat salah satu pesan suaminya saat latihan. "Harus tenang dalam menghadapi musuh. Jangan terpancing emosi. You have to control your emotion," batin Ros.


Kedua wanita itu mulai maju dan serempak menyerang si pria. Ros mengincar sayap kiri dan Clasy sayap kanan.


Ros meninju perut bawah pria itu begitu juga dengan Clasy. Dengan gerakan cepat si pria tubuh besar bisa menghindar dan mengangkat tubuh Ros.


BRUK


Ros di lempar kearah tubuh Clasy. Kedua wanita itu jatuh kelantai dengan kasar dan tidak etis. Tentu yang merasa sangat sakit adalah Clasy karena dia dibagian bawah.


"Pria s*ialan," umpat Clasy bangun dibantu oleh Ros. Mereka berdua kembali bangun dan menyerang si pria.


Mereka secara serentak memegang kaki si pria dan perkiraan mereka tentang tangan si pria akan meninju mereka benar.


Mereka menangkap tangan si pria dan langsung berbalik mengangkat tubuh si pria kebelakang secara serentak.


BUG


Pria tubuh besar itu berhasil dibanting keras karena teknik yang sempurna. "Ternyata ini namanya dibanting," batin Ros mengingat perkataan suaminya karena mendengar suara betapa kerasnya pria itu jatuh ke lantai.


Namun lagi-lagi pria itu bangun dan bisa berdiri meskipun tidak setegap sebelumnya. Dengan ganas pria itu menyerang kedua wanita didepannya dengan brutal. Karena ajaran ketua mafia dan asisten mafia itu, kedua wanita yang sudah keringat dan sedang berjuang itu sudah sedikit lihai.


Ketikan Clasy melompat dan ingin memukul kepala sang pria, tangan Clasy ditangkap dan dilemparkan ke arah ding-ding dengan kuat.


Clasy merasakan sesuatu yang basah keluar dari dahinya. Melihat itu Ros merasa marah dan berlari kencang kearah lawannya.


Dia melompat kedada si pria dan melakukan gerakan memutar memelintir leher si pria dan membuat pria itu hilang keseimbangan dan terjatuh . "I'm mafia boss litle wife," batin Ros.


BUG


Pria itu jatuh dan langsung di susul oleh Clasy yang membawa sebuah kursi dan memukul keras ke wajah si pria. Lawan sudah pingsan dan terlihat darah keluar dari dahi, mulut dan hidungnya.


BRAK


Kursi itu hancur dan tidak berbentuk lagi. Pria itu masih membuka mata, karena emosi sudah menguasai pikiran Ros.


Dia melompat tinggi dan jatuh menyiku perut si pria. Bug, darah segar keluar dari mulut pria itu.


Dengan napas yang masih terengah-engah, Ros bangkit berdiri dan mengahadap Clasy. "Clasy, kamu berdarah banyak," seru Ros. "Saya sudah biasa Nyonya," jawab Clasy.


"Biasa? Maksudmu?" tanya Ros. Ros menatap lekat kearah Clasy.


DOR


Tiba-tiba satu tembakan mengenai perut Clasy. Dia tersungkur jatuh dan melihat beberapa pria mulai mendekat.


"Nyo..nya, ce..pat ka..bur," ucap Clasy terbata-bata. Ros menangis melihat keadaan Clasy. Clasy sudah dia anggap sebagai adik nya.


Bug


Tiba-tiba ada yang memukul keras kepala bagian belakang Ros. Secara perlahan Ros merasakan dunia menghitam dan ambruk terjatuh.


Sesuai janji, Author akan usahakan update 2 bab perhari oke dibulan ini, tapi harap maklum waktunya yah👌.


Jangan lupa like dan komennya 😊