
Dika yang melihat istrinya terjatuh di lantai langsung mengangkatnya. "Baby, are you okay?" tanya Dika.
Wajah khawatirnya tercetak begitu jelas di sana. "Levi, panggil Darren! Secepatnya!" ucap Rhadika sambil berjalan membopong istri kecilnya.
"I'm so sorry Baby," batin Dika. Dia bergerak cepat naik ke arah kamar mereka. Darren yang sudah sebelumnya dihubungi segera naik ke kamar Rhadika.
Disana ia dapat melihat siapa pasien pentingnya kali ini. "Cepat periksa istri ku!" perintah Dika.
Darren yang biasanya banyak bicara tidak berani buka suara saat ini. Dia awalnya heran melihat wanita yang sedang tidur di ranjang. Sebelumnya pria berjas putih itu sudah mendapatkan informasi bahwa wanita itu sudah menghilang selama satu minggu.
Darren memeriksa dengan seksama keadaan wanita yang sedang tidur di ranjang. Sama sekali tidak ada tanda-tanda penyakit. Kemudian dia meneliti bagian-bagian inti dari tubuh Rosaline yang biasanya bisa memberikan petunjuk.
Darren tiba-tiba tersentak ketika memeriksa denyut nadi Rosaline. Dia tidak langsung berhenti setelah sekali memeriksa. Namun dia berulang kali memeriksa denyut nadi Rosaline. Hal itu membuat semua orang yang di sana melihat seksama ke arah Darren.
"Apa sesulit itu Darren untuk memperkirakan apa yang terjadi pada kakak ipar ku?" tanya Felice karena sudah bosan melihat Darren yang berulang kali melakukan hal yang sama.
Darren tidak menyahutnya dan terus berulang kali melakukan hal itu. "Sial," batin Darren. Dia meletakkan tangan Ros dan membereskan perlengkapan khas dokternya.
"Apa yang terjadi?" tanya Rhadika. Darren terlihat menarik napas. Bertepatan dengan Darren dan Dika yang saling menatap satu sama lain, wanita yang ada di ranjang mulai sadar. Felice yang berada di sana langsung mendekat ke arah Rosaline.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Felice. Ros diam tidak menanggapi pertanyaan dari Felice.
"Jangan membuat ku untuk mengulangi perkataan ku untuk yang ke dua kalinya," seru Dika menatap tajam ke arah Darren.
"Ini hanya perkiraan ku saja. Sebaiknya untuk lebih detail kalian pergi ke rumah sakit." Darren terlihat tidak berani mengatakan apa yang dia ketahui.
"Katakan dengan jelas Darren!" seru Levi.
"Aku tidak membutuhkan omong kosong mu sialan, jawab saja yang kau ketahui!" Dika sudah terlihat mengeras wajahnya.
Mendengar tekanan dari dua pria menyeramkan itu, Darren tidak punya pilihan lain. "Baik, menurut hasil pemeriksaan ku, gejala yang di alami oleh kakak ipar adalah gejala awal kehamilan."
DEG
Ros disana tersentak kaget. Secara otomatis tangannya bergerak mengelus perutnya. Dia tersenyum masam mendengar kabar dari Darren. "Seharusnya kabar bahagia ini akan sangat menyenangkan. Tapi justru kebalikannya, miris," batin Ros tersenyum pahit. Hal itu tidak lepas dari pandangan Rhadika.
"Perkiraan kehamilan?" tanya Dika. Levi dan Felice yang awalnya tersenyum ketika mendengar mereka akan memiliki keponakan tiba-tiba menatap tak percaya pada kakaknya.
"Kak, apa yang kau katakan?" tanya Felice. Di pendengaran mereka, pertanyaan Rhadika seakan memberikan tanda tanya untuk berita kehamilan ini.
"Perkiraan ku, baru menjalani satu minggu," jawab Darren. Dia lebih mencari aman untuk saat ini. "Tapi, untuk lebih pastinya kalian ke rumah sak.."
PRANG
"Keluar!" ucap Dika dengan dingin. Dia melemparkan vas bunga yang ada di depannya sebelumnya.
Orang-orang di sana terlihat begitu kaget ketika melihat aksi Rhadika. Mereka masih diam dalam keterkejutannya hingga tidak menghiraukan ucapan Rhadika.
Felice, Levi, Darren segera bergegas keluar dari ruangan itu. Namun sebelum keluar, Darren menepuk bahu Rhadika sebentar. "Jangan biarkan emosi mengontrol diri mu . Sudah ku katakan itu hanya perkiraan saja," seru Darren kemudian berlalu dari sana.
"Anak siapa?" tanya Dika setelah melihat semua orang yang ada di sana sudah keluar kecuali Rosaline. Yang di tanya menatap tidak percaya pada sang suami.
"Aku tanya itu anak siapa Rosaline Browns," seru Dika kembali. Dia terlihat mendekat dan menatap tajam ke arah suaminya.
"Anak ku," jawab Ros acuh. Rhadika yang berada di sana tambah geram. "Dengan siapa," tanya Dika. Dia menekan setiap kata yang keluar dari mulut mu.
Ros yang mendengar itu tertawa hambar dalam situasi menegangkan itu. "Kau bertanya, ini anak siapa? Apa kau meragukan status anak yang ku kandung bahwa itu bukanlah anak mu?" tanya Ros.
Tatapannya bukan lah tatapan seorang wanita lemah seperti pada umumnya. Dia juga menatap tajam ke arah suaminya. Dia bukanlah yang seperti sebelumnya yang selalu lembut dan dengan hati yang lemah menghadapi suaminya.
Dika terlihat berdiri dan bergegas keluar dari kamar tersebut. Beberapa saat kemudian dia kembali keruangan di mana Istrinya berada.
Dia melemparkan foto-foto itu ke arah Ros. "Jelaskan apa maksud dari foto itu, terutama bagian ini!" tunjuk Dika pada salah satu foto di mana di sana terlihat foto Ros dan Leon terlihat memasuki sebuah kamar.
"Apa aku salah jika menanyakan siapa ayah dari anak yang kau kandung?" tanya Rhadika. Namun dia tidak memiliki keberanian untuk berbalik dan menatap langsung ke arah istrinya. Hati kecilnya tidak tega melihat istrinya yang sudah di banjiri air mata.
"I'm trying to be the best wife for you Rhadika (aku mencoba menjadi istri yang terbaik untuk mu), tapi ini lah balasan rasa cinta ku pada mu selama ini. Bahkan secara terang-terangan kau membawa putri mu dari wanita itu ke rumah ini"
Ros terlihat menghapus air matanya dengan kasar. Lalu dia tersenyum tipis. "Baiklah. Jika kau sudah mengetahui ini bukan anak mu, untuk apa kau bertanya?" seru Rosaline. Saat ini keadaannya bukanlah berada di bawah melainkan sebagai penantang suaminya.
Dika yang mendengar pernyataan istrinya, hatinya serasa di lemparkan jatuh begitu saja. "Apa semudah itu kau menghianati pernikahan kita?" tanya Rhadika. Kini ia melihat mata yang dulu jernih penuh kelembutan itu sudah tidak ada lagi rasa sayang untuknya.
"Menghianati? Benar, aku lah penghianatnya di sini. Aku adalah orang yang merusak hubungan kalian bukan? Maka dari itu, aku meminta cerai. Kamu bisa bebas tinggal di tempat ini bersama dengan wanita mu dan juga putri kecil mu yang sangat kau sayangi.
Aku adalah alat pelampiasan mu saja bukan? ketika kekasih atau istri mu itu tidak ada di sisi mu. Yah benar, aku adalah salah satu dari sekian ******* mu bukan?" Wanita itu terlihat mencurahkan seluruh isi hatinya.
"Cukup, Cukup Rosaline. Sampai mati pun, bahkan jika kau memohon pada ku, kau tidak akan pernah ku lepaskan. Masalah anak itu, aku sendiri yang akan mengatasinya. Mau atau tidak kau harus menggugurkan bayi itu," seru Dika dengan suara tegasnya.
Sontak Ros terkejut mendengarnya. Sebelumnya dia sudah di di diagnosa akan susah untuk memiliki keturunan, namun dengan mudahnya pria di depannya ini mengatakan menggugurkan?
"Sedikit saja kau menyentuh bayi ku, aku sendiri yang akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri," teriak Rosaline.
"Aku tidak butuh tanggapan dari mu. Apapun yang kau lakukan, bayi itu tidak akan tumbuh di rahim mu. Aku tidak ingin ada keturunan orang lain di dalam rumah ku," seru Dika
Kemudian dia berjalan keluar meninggalkan Rosaline yang ada di sana. Ros menjatuhkan dirinya ke atas ranjang. "Tenanglah Baby, mommy akan mempertahankan mu. Apapun akan mommy lakukan untuk mu," seru Ros dengan Isak tangisnya.
Dika yang berada di balik pintu mendengar suara istrinya, hatinya semakin sakit. Dia mengambil ponsel dari sakunya. "Berapa lama aku harus menunggu rekaman itu sialan," seru Dika.
Setelah mendapatkan jawaban, dia terlihat bergegas menuruni tangga dan keluar dari mansion itu menggunakan mobilnya.
Jangan lupa like nya 😊👍👍
Horas ✋