
"Tuan, bukankah wanita itu adalah istri dari pemilik Ax Company, yang saat itu anda kunjungi," tanya asisten Ars.
"Benar. Semakin menarik."
"Saya rasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh wanita itu," ujar sang asisten.
"Bukan, bukan wanita itu. Melainkan dua orang pria yang ada di sisi wanita itu. Apa kamu belum menemukan info tentang identitas asli wanita itu?" tanya Ars.
"Belum Tuan, sangat sulit menemukan identitas wanita itu. Kami sudah melakukan peretasan dengan kode berbeda-beda, namun belum bisa menemukan identitas nona Line."
"Sepertinya ada seseorang yang menyembunyikan rapat identitas wanita itu." "Bagaimana dengan perusahaan Ax Company. Apakah kau sudah menyerang perusahaan itu?"
"Sudah Tuan, meskipun sulit, namun tim IT kita tetap berusaha."
"Lanjutkan, pria itu sudah berani mengatakan bahwa wanita yang kusukai sebagai istrinya."
"Tapi Tuan? Bukankah nanti kita akan melawan dua kubu paling kuat. Rhadika adalah pemimpin Ax Company dan pria muda tadi adalah pemimpin klan Mafia Black Sky," tanya sang asisten. Dia juga meragukan kemampuan mereka jika dibandingkan dengan dua kubu terkenal itu.
"Kita akan bermain Slowly," jawab Ars tersenyum licik.
**
"Apa permasalahan kali ini Max?" tanya Dika yang sudah duduk di kursi kebesarannya di gedung pencakar langit Ax Company.
Max memberikan sebuah dokumen ke depan Dika. "Silahkan anda baca Tuan," jawab Max.
"Hanya permasalahan kecil seperti ini saja, kau melapor padaku?" tanya Dika menatap tak suka dengan cara kerja Max.
"Ini memang permasalahan kecil Tuan. Tapi saya ingin menjelaskan pada anda identitas dari perusahaan yang ingin melakukan kecurangan pada perusahaan kita. Pemimpin perusahaan itu adalah Arsenio. Pria yang pernah datang ke kantor kita untuk menawarkan sebuah kerjasama pada kita. Bukankah pria itu sempat tertarik dengan Nyonya Tuan. Saya pikir ini ada kaitannya dengan masalah ini," jelas Max panjang lebar.
Dika mulai mengerti mengapa Max melaporkan hal sekecil ini padanya. Dika tau Max tidak akan berani mengambil resiko jika berkaitan dengan istri kecilnya.
"Baiklah, kirim data pribadi pria itu ke email ku. Aku akan memeriksanya nanti. Aku harus menyelesaikan urusan ku saat ini. Ada yang harus kulakukan di rumah nanti. Aku ada janji pada istri ku tadi."
"Baik Tuan," jawab Max berlalu undur diri.
Direstoran los montes de galicia, Levi memukul meja dengan keras hingga menarik perhatian orang-orang yang sedang berada disana.
"Levi duduk! Kau membuat ku malu," bisik Ros sambil mengelus tangan adik iparnya. Levi duduk dan menatap tajam ke arah Kaylen.
"Sekali lagi mulut kotormu itu berkata seperti tadi, aku tidak akan segan-seganm membunuh mu," seru Levi.
Kaylen diam tanpa ekspresi mendengar ucapan pria yang disukainya pada pandangan pertama. Dia terkejut ketika Levi memukul meja yang ada didepannya.
"Kak, apa kau hanya menganggap ku sebagai barang yang bisa di jual. Yang hanya dijadikan jaminan hutang seperti yang kalian lakukan sebelumnya?" tanya Ros. Wajah wanita kecil itu juga sudah mulai memerah.
"Benar, setidaknya kau harus berguna untuk ayah dan ibu," jawab Kaylen tanpa rasa bersalah.
"Jadi, bagaimana denganmu?" tanya Ros.
"Apa maksudmu?" Wajah Kaylen sudah menampakkan awan gelap.
"Beraninya kau." Kaylen berdiri dan hendak melayangkan tangannya ke arah wajah Ros. Namun wanita itu bukan lagi wanita lemah seperti dulu. Dengan santai Ros menangkap tangan kakaknya.
Mata bulat Ros menatap nyalang ke arah Kaylen. "Kenapa Kakak marah? Bukan kah aku hanya bertanya seperti yang kakak tanyakan padaku?" seru Rosaline.
Levi yang duduk di samping Ros meminum wine yang sudah dipesannya sejak tadi. "Hebat," batin Levi tersenyum kemudian menyesap kembali winenya.
"Setidaknya aku sudah pernah menjadi jaminan hutang untuk mengamankan perusahaan ayah agar tetap berdiri. Tapi dengan mudahnya hancur karena ulah kalian," ucap Ros menghempaskan kasar tangan Kakak nya.
"Aku pikir Kakak datang ke sini untuk menemui ku sebagai adikmu. Tapi ternyata menjelajah seperti manusia yang tidak mngenal alamnya sendiri," seru Ros duduk dengan santai.
"Cih, apa kamu sombong karena sudah bersanding dengan orang kaya?" cibir Kaylen sambil duduk.
Tidak ada lagi keramahan diantara kedua wanita yang selama delapan belas tahun tinggal bersama.
"Of course not. Aku hanya berbicara apa adanya. Kakak menyinggung tentang orang berguna. Aku hanya berpikir. Apakah kakak pernah berguna untuk kedua orang tua kita. Aku bahkan sekolah tidak pernah meminta uang sepeser ,pun pada orang tua kita.
Apa kabar dengan mu Kak yang selalu menghambur kan uang. Hanya sebatas uang saku ke sekolah saja kau selalu meminta mau pada ayah. Aku tau perusahaan Ayah banyak hutang karena ulah mu dengan kehidupan glamor yang tidak bisa kau cukupi sendiri."
Ros menumpahkan segala bentuk rasa kesalnya pada orang didepannya.
"Bahkan aku tau, sekarang kakak menggunakan pakaian yang kau katakan mahal itu tidak dengan cara yang baik." Ros tetap bertahan dengan wajah imut tanpa ekspresinya.
Kaylen diam tidak bisa menjawab pernyataan adik kecil didepannya. "S*ial, sejak kapan wanita kecil ini menjadi berani seperti ini," batin Kaylen. Dia sangat malu melihat pria didepannya yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.
"Tapi setidaknya aku pernah menemani ayah dan ibu saat mereka jatuh," jawab Kaylen berusaha mencari celah lain yang tidak memberatkan dirinya.
"Menemani saat jatuh? Jadia apakah Kakak sudah pernah mengalami yang namanya banting tulang? Aku tau itu bukan tipe wanita seperti kakak. Jadi aku sebagai adikmu yang seharusnya menerima nasehat dari mu, akan memberikan tips hidup yang lebih baik," ucap Ros tersenyum tipis.
Dia tidak peduli lagi jika kakaknya sakit hati. Ini semua demi kebaikan kakaknya itu.
"Jadilah wanita yang hidup dengan baik. Peras keringatmu dengan mengerjakan sesuatu hal yang baik dan bermanfaat, bekerja keras lah. Jangan hanya mengandalkan orang tua kita yang sudah tidak mempunyai apa-apa.
Aku tau alasan Kakak datang kesini, Kakak tidak mau hidup miskin bukan?" Ros bisa menebak sifat kakak glamornya ini.
"Diam, aku tidak butuh nasehat darimu," sahut Kaylen marah.
"Cih, sebagai seorang kakak kau seharusnya malu melihat seorang adik yang bersifat lebih bijak dan dewasa darimu," ejek Levi dengan santai.
Kaylen kalah telak. Dua orang melawan satu orang. Dia mengalah. Tiba-tiba ponsel Kaylen yang diletakkan di atas meja berbunyi.
Ros berdiri dan langsung merebut ponsel Kaylen. "Berikan Ros!" perintah Kaylen dengan marah. Mereka menjadi pusat perhatian di restoran itu.
"Tahan dia!" perintah Ros. Levi langsung bergerak dan menahan tangan Kaylen yang ingin mengambil ponselnya dari Kakak iparnya. Ros menekan tombol hijau yang berada di ponsel kakaknya.
"Hola carino (Halo Sayang)," suara pria diseberang sana. Ros langsung mematikan sambungan telepon itu. Kaylen dengan kesal merebut ponselnya dari tangan Ros.
"Siapa dia Kak?" tanya Ros. "Bukan urusanmu," sahut Kaylen mengambil tasnya dan berlalu pergi meninggalkan restoran itu.
Dia bahkan lupa dengan tujuan awalnya datang ke tempat ini. "Aneh, bukankah Kakak baru datang ke Spanyol. Kenapa dia sudah memiliki kekasih?" batin Ros melihat kepergian kakak satu-satunya itu.