Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 58



Setelah sampai didepan hotel yang disambut oleh manajer dan para staff hotel, Dika langsung membawa istrinya masuk ke dalam tanpa mempedulikan orang-orang yang ada disana.


Para pria diwajibkan kepala nya menunduk agar tak melihat wanita di gendongan sang pemilik hotel. Hotel ini adalah salah satu aset milik Browns, meskipun yang membeli hotel ini adalah Levi.


Namun bagi pria muda itu, dia tidak akan menjadi seperti saat ini jika bukan campur tangan sang kakak, hingga dia memasukkan aset ini menjadi salah satu properti keluarga Browns.


"Max, pasti kan tidak ada yang mengikuti kita," perintah Dika dengan tegas sambil berjalan ke arah lift.


"Baik Tuan," jawab Max berbalik dan bergabung bersama anggota lain.


Dika bersama istrinya yang sudah menggeliat didalam dekapan itu sudah mulai tidak terkendali kan. Bahkan Dika juga sudah kewalahan menahan tubuh sang istri agar tidak jatuh dari pelukannya.


"Mmm, panas," ucap wanita itu. Lift sudah sampai di lantai empat puluh. Dika bergegas membawa sang istri ke dalam kamar presiden suite.


Meletakkan dengan lembut sang istri bak barang antik paling mahal di dunia. Dengan cepat Dika membuka seluruh pakaian sang istri dan juga pakaiannya. Dia tau kebutuhan istrinya saat ini sudah di puncak luar kesadaran, dan jika tidak dipenuhi akan merusak saraf otak.


Belum selesai Dika membuka bawahan nya, Ros langsung menyerang sang suami. Akhirnya dalam beberapa ronde dengan waktu yang cukup lama Ros terpuaskan. Obat didalam tubuhnya tidak membuat nya lagi dalam bahaya.


Meskipun mereka melakukan itu tidak dengan nyaman dan ada kesedihan yang tertanam dalam hati masing-masing terutama Rhadika.


Tubuh istrinya tidak sepanas sebelumnya dan wanita itu sudah bisa tidur dengan nyenyak dalam dekapan kesukaan wanita itu.


Dika sebenarnya juga lelah mengimbangi keliaran sang istri malam ini. Keliaran nya saat itu melebihi batas normal seorang Rosaline yang sebelumnya. Setelah beristirahat sejenak dia bangun dan membopong sang istri ke dalam kamar mandi.


Lagi-lagi dia lah yang membersihkan tubuh sang istri bekas percintaan mereka. Dika awalnya tersenyum melihat karyanya merata di seluruh tubuh sang istri. Namun kegiatannya terhenti ketika ada luka yang sudah mengering di telapak tangan wanita yang merupakan arah tujuan hidupnya saat ini.


Rahangnya mengeras melihat luka sang wanita nya. "Wanita s*ialan," umpat Dika dalam hati. Dia mempercepat aktivitas nya di kamar mandi itu. Dengan cepat dia juga membersihkan dirinya sendiri.


Setelah keluar dari walk in closet, Dika meletakkan sang istri dengan lembut ke atas ranjang. Menyelimuti dengan dengan tenang tanpa menggangu tidur sang istri.


Dika bersiap ke markas untuk memberikan pelajaran pada wanita yang dengan beraninya ingin melukai sang istri. Dia mengambil ponsel beserta kunci mobil yang akan dibawanya.


Sebelum pergi Dika mencium lembu kening sang istri dan mengusap pelan wajah wanitanya.


Baru melangkah satu langkah saja, Dika merasakan tangannya di genggam oleh seseorang.


Dika berbalik dan melihat tubuh sang istri gelisah dan gemetaran. Melihat itu Dika langsung duduk dan memeluk Ros dengan erat. Dia menepuk pelan tubuh wanita yang sedang gemetaran itu.


Perlahan tubuh Ros mulai diam dan tidak gemetaran. Dika tidak tega meninggalkan wanita nya saat ini. Bagaimana nanti jika pujaan hatinya kembali mengingat momen mengerikan bagi seorang wanita yang ingin di jamah tubuhnya oleh para pria beren*gsek tadi.


"Tidurlah Baby, aku akan disini bersama mu," ucap Dika sambil menepuk pelan punggung sang istri. Akhirnya sepasang suami istri itu tidur bersama dalam hening sepi malam meskipun ada hati yang tidak tenang mengkhawatirkan sesuatu.


**


Dimansion Browns, Levi menarik napas dalam ketika tidak melihat kakak iparnya disana begitu juga asisten dingin bersama kakak paling menyebalkan itu.


"Paman Vill, apa benar belum ada kabar sama sekali dari Max atau Kakak?" tanya Levi.


"Maaf Tuan, tuan Rhadika belum mengabari apapun pada saya," jawab Paman Vill. Levi menghempaskan kasar bokongnya ke sofa.


"Mereka pikir hanya mereka saja yang khwatir. Apa aku ini juga tidak manusia yang tidak bisa merasakan khwatir? Memang kedua orang itu bukanlah manusia yang jelas," umpat Levi. Paman Vill hanya menunduk saja mendengar keluhan sang tuan.


Dia terpaksa harus menunggu kapan harus dikabari tentang keadaan kakak iparnya. Sebenarnya dia tau jika dia tidak dikabari berarti ada sesuatu yang terdesak tapi tidak perlu membutuhkan bantuan nya sekarang.


Levi naik ke kamar nya dengan hati yang masih tidak tenang. Untuk menenangkan pikirannya, Levi bersandar di tempat tidur dan membuka ponselnya dan beralih ke Instagram.


Layar beranda yang pertama kali dia lihat adalah adik perempuan mereka sendiri. "Kamu sudah seperti wanita dewasa saja," ujarnya tersenyum dan kembali menggeser layar ponsel itu.


Tiba-tiba Levi menajamkan matanya ketika seorang pria merangkul pinggang sang adik.


Levi mengalihkan ponselnya ke menu telepon. "Apa yang kerjakan disana hah? Menjaga satu wanita saja kau tidak becus!"


Levi langsung mengatakan pria di seberang sana tidak becus dalam pekerjaannya. Bahkan tanpa sapaan atau basa basi, Levi langsung marah tak jelas pada orang yang ditelepon nya.


Pria yang ditelepon Levi bingung harus menjawab apa. Belum berbicara sedikit pun tapi sudah dikatakan tak becus.


"Maaf Tuan. Apa saya melakukan kesalahan dalam tugas saya?" tanya pria itu.


"Kamu masih bertanya apa kau membuat kesalahan. Jangan sampai aku ke sana dan menghabisi mu Melvin." Suara Levi seperti ingin memakan anak buahnya itu jika berada di depannya.


"Maaf Tuan. Saya meminta maaf jika melakukan kesalahan dalam tugas saya. Tapi saya benar-benar tidak mengerti dimana letak kesalahan saya."


Melvin sudah berpikir sepanjang jalan dunia tentang kesalahannya, namun tidak menemukan jawaban apapun. Jadi dia bisa apa, bos lah yang selalu benar.


"Kamu pikir dengan meminta maaf masalah akan selesai? Cepat singkirkan pria itu dari sisi Felice!"


Melvin langsung connect dan sadar apa dan yang bagian mana kesalahan nya.


"Baik Tuan, tapi dia adalah teman baru nona Felica Tuan. Seperti yang anda ketahui nona Felice tidak pernah ingin di ganggu privasinya. Jika kami mendekat, kami juga yang akan di tendang," jelas Melvin panjang lebar.


Levi murung wajahnya, memang benar Felice tidak pernah mau di ganggu privasinya. "Jika begitu, awasi terus jangan terlalu dekat dengan pria itu. Kita tidak tau dia berbahaya atau tidak!" ketus Levi.


"Baik Tuan." Melvin heran dengan sifat posesif tuan kedua nya yang tiba-tiba. Biasanya Levi hanya akan menanyakan kabar Felice hanya sesekali saja dan itu cukup hanya menanyakan kabar saja tidak dengan kehidupan asmara atau pun pribadi Felice.


"Apa aku yang over thinking saja," seru Melvin sambil menatap ke arah Felice yang bermain dengan teman barunya. Bukan hanya Felice dan pria itu disana, namun banyak wanita juga. Hanya saja foto yang di post adik bos mafia itu tepat hanya dengan pria itu saja.


Levi mengusap rambutnya dengan kasar. Jika mengingat perasaannya pada Felice, pikirannya juga akan melayang pada orang tuanya.


Sebenarnya Levi sangat benci jika mengingat orang tuanya. Dia benci ketika dia mendengar cerita sang kakak bahwa dia ditemukan di tempat sampah. Dia benci ketika sepanjang perjalanan hidupnya tidak ada kata Mommy dan Daddy yang keluar dari mulutnya. Dia benci ketika sepanjang perjalanan hidupnya tidak ada keluarga kandungan nya yang mencarinya.


Sekarang Levi memang sudah memiliki kakak dan kakak iparnya yang dia anggap sebagai orang tuanya. Tapi, jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam dia benar-benar menginginkan pelukan seorang ibu dan ayah.


Dia sekarang sangat sulit untuk mengungkapkan perasaan pada Felice. Statusnya sebagai anak buangan sangat jauh dengan status Felice sebagai anak sah dan garis keturunan dari Browns.


Dika juga sudah menyarankan pada Levi agar mencari keluarga nya. Bahkan saat di umur nya yang 12 tahun Dika sudah ingin bergerak untuk mencari orang tuanya, pasti nya menggunakan klan Black Sky dan jaringan AX Company, tapi Levi terus menolaknya secara mentah-mentah hingga saat ini juga.


"Cih, untuk apa aku mencari keluarga s*ialan itu," Levi berbicara sendiri. "Aku tidak membutuhkan mereka lagi, untuk apa? Aku sudah memiliki segalanya sekarang," seru Levi sambil tiduran di ranjang.


"I hate my family, jika mereka benar-benar ada," batin Levi. (Aku membenci keluarga ku).


**


"Bagaimana? Apakah pria tua itu masih bisa bertahan hidup? tanya seorang pria pada anak buahnya.


"Tidak Tuan, pertumbuhan sel kanker tidak bisa lagi di cegah. Sudah menyerang semua inti sel dan menggerogoti selnya."


"Perkiraan hidup?"


"Tidak ada lagi Tuan, sekarang saja dia sudah hampir tiada."


"Bawa dia ke tempat pemulasaraan! Pastikan jika dia sudah mati, mayatnya awet sampai pada waktunya."


"Bagaimana proses penguburan mayatnya Tuan?" "Aku sudah ada rencana, lakukan saja yang baru ku katakan," jawap pria itu.


Jangan lupa like dan favoritnya ๐Ÿ˜Š


Horas๐Ÿ‘