
"Bagaimana Darren, apakah sesuai?" tanya Dika kepada Darren yang telah selesai melakukan tes darah tersebut.
"Benar, ini benar golongan darah MN. Tapi apa kau benar-benar akan menyerahkan hak kuasa atas klan dan perusahaan mu?" Darren menatap dalam ke arah Levi. "Ini lah sifat seseorang jika sudah jatuh cinta," batinnya.
Dika abai dan berjalan menuju arah pintu.
"Dengarkan aba-aba saat aku memberikan mu kode. Persiapkan anggota lain untuk mengantisipasi kecurangan atau kejadian yang memungkinkan bahaya nanti. Pastikan kau mendapatkan kantong darah itu. Bila perlu babat habis," seru Dika.
Darren tentu saja bingung, bukankah kesepakatan sudah deal? Tapi pria itu hanya diam dan mengangguk saja. Dia harus lebih pintar dan lebih banyak diam saat ini.
"Apa dokumennya sudah siap Max?"
"Sudah Tuan," jawab Max. "Aku ingin izin pada istri ku, kalian tunggu saja di sini."
Dika berjalan ke arah ruang inap istrinya dimana ada Clasy yang sedang membersihkan telapak tangan sang istri. Melihat tuannya datang, Clasy menghentikan kegiatannya dan memberikan jarak pada sepasang suami istri itu.
Levi juga disana sedang duduk sambil membaca buku berisi grafik perusahaan. Dia sudah mendapatkan perintah agar menjalankan sementara perusahaan. Mau tidak mau dia harus belajar tentang matematika, grafik dan bunga-bunga saham perusahaan agar bisa menjalankan tugas sementaranya.
Apakah posisinya saat ini untuk menolak perintah dari kakak nya? Tentu saja tidak, dia sekarang harus siap sedia untuk perintah kakak nya saat ini. Jika tidak, pastinya dia akan ditendang bahkan di kirim ke pelosok n Geri. Siapa yang mau? Tentu saja itu bukan Levi.
Bahkan dia sekarang tau diri, bahwa dia lah yang kurang hati-hati hingga menyebabkan kecelakaan itu.
"Baby, aku pergi sebentar hmm," ucap Dika mengelus rambut istrinya. Beberapa selang memenuhi tubuh sang istri yang saat ini sedang diambang kematian.
"Bertahanlah, sebentar saja. Aku sedang berusaha mendapatkan obat untuk kembali membuat wajah cantik mu ini seperti semula, agar lebih berwarna."
Dika mendekatkan bibirnya ke arah bibir tipis pucat sang istri. Dia menikmati sebentar bibir tipis yang biasanya lembut dan manis, kini berubah seperti jerami yang menusuk dimana-mana. Bibir pecah-pecah dan mengelupas istrinya tidak menjadikan Dika menjauh.
Setelah menikmati bibir istrinya, Dika mengambil ponsel dan mengetik sesuatu di ponselnya. Levi yang melihat gerakan Kakaknya merasa sedikit aneh, kemudian dia mendengar sebuah notifikasi di ponselnya.
Levi mengernyitkan alisnya ketika mendapat sebuah pesan dari kakaknya. "Tinggal bicara saja. Untuk apa melakukan hal rumit seperti ini," batin Levi. Kemudian dengan malas Levi membuka ponselnya dan menatap heran isi pesan yang diterimanya sebelumnya.
"Aku pergi dulu, jaga Kakak ipar mu," perintah Dika
"Kak, apa aku benar-benar tidak perlu ikut?"
"Urus saja lukamu hingga sembuh total," seru Dika lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana Max, apa mereka sudah memberikan posisi mereka saat ini?"
"Sudah Tuan."
"Dimana?"
"Pegunungan Serra de Tramuntara di daerah Majorca. Mereka memberikan titik lokasi disana Tuan. Tempat itu sangat strategis, medan yang akan kita tempuh nantinya akan lebih sulit."
"Baiklah, ingat kan pada anggota lainnya."
"Baik Tuan," jawab Max. "Apa kau sudah melacak posisi pria pengecut itu?"
"Sudah Tuan. Posisi pria itu berada disana."
"Bagus. Akan lebih mudah," Dika menyeringai begitu juga dengan Max yang ada dibelakang Rhadika.
**
"Bagaimana? Apa kau sudah melakukan transaksi tentang perpindahan kekuasaan itu?"
"Belum Dad. Tapi kami akan bertemu dengan Rhadika malam ini dan akan melakukan transaksi perpindahan kekuasan atas nama klan dan perusahaannya."
"Bagus, tapi ingat. Kau harus berhati-hati dengan bocah licik itu. Jangan gegabah." perintah pria tua disana.
"Baik Dad. Satu lagi, apa aku boleh bertanya Dad?" tanya nya. "Darimana Dady mendapatkan golongan darah seperti itu. Bukankah itu sangat jarang ditemukan dan sangat langka?"
"Bukan urusanmu. Lakukan saja tugasmu hingga tuntas. Lakukan sebaik mungkin. Tidak usah berpikir tentang hal lain kecuali pemindahan kekuasaan itu. Fokus saja!"
"Baik Dad," jawab pria bertopeng dan menutup teleponnya. Dia mengernyitkan dahinya. "Aku yakin, dady menyembunyikan sesuatu," batin pria bertopeng itu.
"Siapa sebenarnya identitas istri Rhadika itu. Kenapa golongan darah itu muncul kembali?" batin pria tua diseberang sana.
**
Para pengawal itu sudah mendapatkan kurang lebih tiga buah alat kecil yang disembunyikan. Para pengawal terus memeriksa setiap sudut ruangan.
Dibawah televisi, dibawah meja, di bawah ranjang Rosaline. Sangat banyak, "sialan, si pengecut itu selalu bertindak sebagai seorang pengecut yang menjijikkan," batin Levi sambil melihat rekaman CCTV.
Ada seorang pria nampak masuk ke dalam ruangan Rosaline. Pria itu nampak menumpang ikut ketika perawat pribadi Rosaline masuk. Saat itu pria yang menyamar sebagai dokter sangat sulit dideteksi wajahnya karena memakai masker sebagai penutup wajahnya.
Berlangsung selama tiga puluh menit, Kedua pengawal itu menemukan setidaknya sepuluh alat penyadap beserta kamera tersembunyi. Kemudian dengan cepat mereka menonaktifkannya.
"Bagaimana jika kita bermain sesuatu?" batin Levi. Pria yang masih belum pulih secara sempurna itu buka suara.
"Hancurkan yang berkaitan dengan kamera dan bawa yang berkaitan dengan penyadap ke ruangan dokter Darren!" Dengan sigap kedua pengawal itu bergerak cepat.
Levi diikuti dengan dua orang dibelakangnya keluar dari ruangan Darren. "Jika ada orang yang ingin masuk, pastikan identitas mereka apakah benar-benar anggota rumah sakit ini!" Serempak pengawal di pintu masuk ruangan Rosaline mengangguk kan kepalanya.
Levi meninggalkan ruangan itu dan pergi ke ruangan Darren. Belum sampai di pintu, Levi mendengar suara-aneh yang familiar. Levi mendekat karena semakin penasaran.
"Ouchh, mmmm ...sssshh... kau sangat nikmat honey." Itu adalah suara Darren yang didengar oleh Levi.
"Bren*gsek kau Darren sialan," teriak Levi menendang keras pintu ruangan Darren. Mendengar suara teriakan dan suara dentuman keras pintu Darren segera menutup resletingnya dan bersikap so cool. Lawan main dokter muda itu adalah asisten perawat Darren sendiri.
Wanita itu tidak malu sedikit pun pada pria yang baru saja datang. Dia menggunakan cepat pakaian putihnya dan segera keluar dari ruangan itu.
"Sialan kau Lev, tidak bisa kah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? Setidaknya sampai aku merasakan tubuhku bergetar di dalam milik wanita itu?" kesal Darren.
"Apa otakmu ini sedang bermasalah? Kau tidak tau waktu Darren. Kau tau masalah sekarang bukan? Dan kau masih menyempatkan diri untuk bermain bersama wanita-wanita mu."
"Come on, itu kebutuhan ku setiap hari. Stamina dasar untuk memulai dan melanjutkan pekerjaan. Aku juga selalu memantau keadaan Kakak ipar," jawab Darren.
"Terserah, dasar penggila bawah pusar," ujar Levi. Darren hanya mengedipkan bahunya.
"Untuk apa kau datang kesini. Kau juga membawa dua pengawal."
"Letakkan!" Kedua pengawal metakkan alat penyadap kecil itu ke meja kerja Darren. "Ini adalah alat penyadap yang kita dapatkan dari ruangan Kakak ipar. Pria pengecut itu mengirim anggota nya untuk menyamar di tempat ini."
"Sebenarnya aku penasaran dengan pria itu. Aku sudah meminta Rhadika untuk membawaku, tapi dia tidak mengizinkan dan mengatakan bahwa aku lebih baik mengurus Kakak ipar," seru Darren sambil mengamati alat penyadap itu
"Jadi apa yang akan kita lakukan dengan ini?" tanya Darren. "Kita akan membuat drama dengan menyalakan kembali penyadap ini. Ceritanya adalah seolah-olah Kakak ipar dalam kondisi kritis tak tertolong. Tapi kita harus mengabari Kakak dulu. Just for information," seru Levi.
TING
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Darren. "Babat habis semua anggota Ghost Lion yang datang kesana," seru Darren membaca isi pesan itu. Kemudian dia menatap ke arah Levi.
"Angin segar. Sudah lama aku ingin membunuh orang," seru Darren tersenyum dan berdiri dari duduknya.
"Kau tidak perlu ikut, duduk saja dan temani Kakak ipar. Susun saja strategi, aku yang akan mengendalikan prosesnya nanti," ucap Darren.
Levi mengangguk, dia juga harus siap siaga didepan kakak iparnya. Mereka tidak tau kemungkinan bukan, jika ada rencana licik lawan nantinya.
Ditengah pembicaraan mereka terdengar ada yang mengetuk pintu. Salah satu pengawal membuka pintu dan melihat seorang pria berhoodi hitam di pintu.
Levi dan Darren yang melihat orang tersebut langsung siaga dan menatap tajam ke arah orang itu.
"Tuan Darren, ini pesanan anda." Darren mengernyitkan dahinya. "Aku tidak pernah memesan apapun," jawab Darren.
Pria itu langsung masuk tanpa permisi, membuat orang-orang yang disana semakin waspada.
Pria itu meletakkan bingkisan yang ada ditangannya. "Silahkan periksa Tuan," pinta pria beehoodi itu dengan sopan.
"Jangan dibuka, jangan-jangan itu adalah sebuah bom," ucap Darren berdiri dan menjauh dari bingkisan itu.
"Lemah," ejek Levi. Dia membuka bingkisan itu. Matanya membola sempurna, dia begitu terkejut melihat isi bingkisan itu.
Darren yang melihat ekspresi Levi bergerak mendekat. Meskipun dia rada-rada takut, tapi dia menguatkan mentalnya. Levi yang merasa jijik melihat tingkah Darren ingin menendang pria mesum itu.
Namun Levi kalah cepat karena luka nya yang masih belum sembuh total. Darren bisa menghindar dari tendangan Levi
"Siapa yang lemah sebenarnya," Darren tersenyum tipis. Darren mendekat dan melihat isi bingkisan itu.
"Licik," ucapnya ketika melihat isi bingkasan itu. Ini adalah sesuatu yang sangat mereka butuhkan sekarang.