Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 61



"Bukan aku, tapi istri kecil mu Kak," jawab Levi. "Apa yang lakukan di ponselku Kakak ipar?" tanya Levi.


"Kenapa?" tanya Dika.


"Kakak ipar kemarin memegang ponselku dan mengatakan bahwa fans nya mengikuti akunku. Setelah itu aku tidak tau apa yang dilakukan Kakak ipar," jawab Levi.


Kedua pria itu ditambah paman Vill menatap ke arah Ros seakan menunggu jawaban. "Itu, aku hanya membalas pesannya saja," jawab Ros enteng.


"Dia meminta mengikuti Levi, trus aku ikuti balik. Kemudian dia bilang, one night. Aku membalasnya. Yes, of course. Tidak salah bukan berkenalan satu malam. Terus dia mengirim pesan kembali." Ros menceritakan itu dengan senang karena bisa berkomunikasi dengan artis kesukaannya meskipun online.


"Kamu akan terpuaskan. Sure jawabku. Where dia bilang. My mansion. Hanya itu. Apa salah nya jika berteman semalam dan bertemu, tidak salah bukan? Lagi pula dia artis internasional yang sudah konser dan menjelajah dimana-mana."


Mendengar itu Dika menghela napas. Si istri polosnya ini tidak tau tujuan sang artis mengatakan one night. Levi juga tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya melanjutkan makannya. Yang terpenting bukan dia biang permasalahannya kali ini.


"Beritahu Odion untuk membereskan masalah itu. Jangan sampai berita itu tersebar lebih luas lagi," perintah Dika pada paman Vill. Kepala pelayan itu mengangguk dan undur diri. Ros abai saja, jika itu menjadi masalah lain kali dia tidak akan mengulanginya.


Proses makan menggunakan tangan itu pun selesai meskipun sempat terganggu. "Aku ingin bertemu temanku Clasy. Bolehkah?" tanya Ros pada suaminya.


"Mmm, siap ini kita akan kesana."


"Aku ikut," seru Levi. "But, aku tidak melihat Max sejak tadi. Dimana dia?" tanya Levi kembali.


"Dia tidak mengangkat teleponnya adik ipar," jawab Ros. "Tidak biasanya, batin Levi.


Setelah acara sarapan pagi itu selesai ketiga orang itu bersama para pengawal bersiap untuk ke rumah sakit menjenguk teman nyonya pemilik rumah ini.


Di sebuah ruangan VIP rumah sakit, seorang pria terlihat sedang meracik makanan untuk wanita didepannya. Dengan sabar pria itu itu mulai mengaduk-aduk makanan yang sudah diraciknya.


Meskipun tetap dengan kebiasaan lamanya itu, wajah dingin seperti es batu yang tidak pernah mencair, wanita yang ada di brankar itu tersenyum melihat seorang yang biasanya hanya membentaknya kini sedang melayani nya.


Di tengah jalan ketika melihat penjual buah Ros mengatakan berhenti kepada suaminya. Dia berada di belakang dan hanya sendiri. Dika mengatakan ada yang ingin dibahas bersama Levi.


Ditengah percakapan bahasa yang tidak diketahui oleh wanita yang sedang duduk itu. Dia maju ke depan dan buka suara. "Tuan-tuan bahasa Spanyol, bisa kalian hentikan sebentar percakapan kalian yang tidak masuk akal itu? Aku ingin membeli buah," ucap Ros.


"esta bien señora," jawab Levi. ( Baik Nyonya) Tentu saja Ros tidak mengerti bahasa itu dan hanya menatap kesal ke arah Levi.


Ros turun diikuti oleh suaminya. Dika mengamati sekitar, insting tajamnya mulai mendeteksi ada sesuatu yang berada disekitarnya. Adiknya Levi turun dari mobil dan melihat tatapan kakak nya.


"Kakak ipar, aku lupa ada janji temu dengan lawan mainku di MMA yang akan datang. Aku akan menyusul nanti," seru Levi.


"Kenapa harus sekarang? Baiklah, hati-hati ya!" seru Ros. Levi tersenyum karena kembali ada seseorang yang mengkhawatirkan nya. "Mmm, siap Nyonya," jawab Levi. Ros tersenyum dan meninggalkan Levi.


Setelah melihat kepergian dua orang yang sangat disayangi Levi, dia langsung bergerak dan berlari ke sebuah tempat dimana disana ada seseorang yang di targetkannya atas insiden di gedung itu. Levi bersama dengan dua orang pengikutnya.


Tempat itu adalah sebuah gang dimana tempat itu adalah salah satu komplotan preman jalanan yang bersenjata. Dia tadi benar-benar melihat targetnya.


Para preman yang melihat ada seorang bocah yang datang ke tempat mereka tersenyum. Mereka melihat pakaian Levi bersama dengan temannya, barang mahal, yang melekat di tubuh orang itu begitu menggiurkan. Itulah hal yang dipikirkan oleh para preman tersebut.


Levi memasang wajah datar. Dia mengamati sekitar dan melihat ada sebuah rumah di balik gang itu, rumah yang termasuk lumayan besar.


"Apa barusan ada pria tua yang lewat dari sini?" tanya Levi datar. Para preman itu tertawa terbahak-bahak mendengar suara lantang dan datar Levi.


Bukan tipe Levi bermain-main tanpa mendapatkan info. "Buang-buang waktu saja."


Levi menembak salah satu preman itu di kakinya. Namun tidak terdengar nyaring karena itu adalah senjata peredam yang tidak menghasilkan suara.


Serempak para preman itu mengacungkan senjata mereka kepada Levi. Preman yang ditembak itu sudah duduk di lantai jalanan sambil menekan lukanya agar darah tidak keluar terlalu banyak.


Begitu juga dua anggota Levi langsung mengeluarkan senjata mereka. "Apa kalian ingin mencari masalah dengan klan Black Sky?" tanya Levi enteng tanpa takut pada senjata milik lawannya.


Para preman itu terkejut bukan main. Siapapun tau klan Black Sky, salah satu klan paling ditakuti oleh negara Spanyol. Bahkan pemerintah negara ini juga tidak akan bisa menggangu kegiatan mereka kecuali terlibat dalam urusan pemerintah.


"Tunjukkan identitas kalian," seru salah satu preman itu. Satu pengawal Levi maju dan berbalik membuka kerah leher belakangnya. Disana terukir dengan jelas ada awan hitam lambang anggota Black Sky.


Setelah melihat itu mereka langsung menurunkan senjata dan berlutut. Mereka juga pernah mendengar bahwa pemimpin Black Sky adalah seorang pria muda berumur belasan tahun dengan wajah Asia.


"Kami minta maaf Tuan, kami tidak mengetahui siapa Anda sebelumnya," seru salah satu preman yang bertanya tentang identitas kelompok Levi barusan.


"Jawab saja pertanyaan ku yang tadi. Aku punya urusan lain yang harus kuselesaikan." Levi tambah datar saja wajah nya.


"Benar Tuan, tadi ada seorang pria tua yang masuk ke atas dan seperti nya meminta bantuan pada ketua kami." jawab para preman itu.


"Hubungi ketuamu, aku akan mendatangi tempat nya sekarang. Tapi jangan diketahui oleh pria tua yang meminta bantuan itu!"


Preman tadi langsung menghubungi ketuanya. "Sudah Tuan, anda akan di persilahkan masuk," jawab preman itu sambil menunduk.


Levi bersama dua pengawal masuk ke dalam rumah tempat komplotan itu bersarang. Seluruh penjaga yang berada di setiap sudut tidak berani menatap Levi karena mata tajamnya.


Anggota dari pria tua itu juga sudah di todong senjata oleh preman yang penghuni tempat ini. Jelas, mereka tidak ingin tempat mereka menjadi salah satu tempat pertumpahan darah dari orang besar dan orang-orang berstatus kecil yang ingin meminta bantuan pada preman jalanan ini.


Sebenarnya Dika, Levi dan Max, sebelumnya sudah mendapatkan informasi bahwa ada seseorang yang berusaha mencari seorang wanita di Afrika, salah satu tempat perbudakan untuk wanita yang melewati batas dalam menyinggung orang penting klan Black Sky.


Orang besar di klan Black Sky itu sudah mengetahui siapa yang sedang bergerak mencari wanita itu. Informasi itu juga langsung di beritahu kan oleh orang-orang Max yang ada disana.


Setelah mencari informasi siapa identitas pria tua itu, anak buah Max mengirim informasi perjalanan pria itu bahwa dia sudah di negara Spanyol.


Benar saja, sesuai dugaan setelah melihat siapa pria yang ada diruangan itu, Levi tersenyum. Ketua preman yang ada disana yang tidak ingin terkena masalah dengan klan Black Sky mengangkat senjata dan mengarah kan pistolnya pada kepala orang yang ingin meminta bantuannya tepat ketika pria tua itu ingin mengambil senjatanya.


Levi tersenyum iblis. "Mafia lokal London, kau salah mengusik keluarga ku," seru Levi mendekat dan memutar-mutar pistol yang ada ditangannya.


**


Dirumah sakit, Ros terlihat sedang tertawa sambil dipeluk oleh suaminya posesif. Seakan pinggangnya akan berjalan jauh jika tidak dipegang.


Tangan kiri Dika memeluk erat pinggang istri dan tangan kanannya memegang buah yang sudah dibeli oleh Ros untuk teman nya.


Ros bersama suaminya berjalan ke arah ruang rawat Clasy. Ros langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Kedua orang yang disana tidak sadar ada orang yang sedang melihat aktivitas mereka.


Dika yang ingin masuk sejak tadi terhalang ketika melihat istrinya tidak bergerak. Ros menatap tak percaya pada pria sekaligus asisten suaminya yang sedang disana bersama dengan teman sekaligus pelayan dan pengawal pribadinya.


Sedangkan Dika menatap punggung Max datar. "Asisten s*ialan ini, di telepon tidak diangkat, ternyata sedang bersama wanita ini," batin Dika, namun wajahnya tetap datar.


Jangan lupa likenya 😊👍👍


Horas👐