
Ros yang merasakan ada yang memeluknya dengan tiba-tiba dan sangat erat kaget bukan main. Ternyata sang suami lah yang memeluknya.
Awalnya Ros tersenyum dalam dekapan suaminya dan balas memeluk. Namun dia merasakan ada cairan yang tembus dari pakaian dipunggung suaminya. Lambat laun suaminya semakin lemah dan terjatuh dalam pelukannya.
Suara tembakan kemudian terdengar dimana-mana. Ros memeluk erat suaminya, berharap tidak akan ada tembakan yang mengenai pria yang sudah berlumuran darah di dekapan nya. Ros tidak memperhatikan dari bagian mana darah itu berasal.
Beberapa pelayan dan pengawal klan Black Sky beradu tempur ditengah pesta. Para tamu undangan berhamburan tak tentu arah. Pria yang dibalik tirai yang mengamati keadaan itu pun keluar dikawal oleh beberapa anak buahnya.
Max yang sudah memantau sejak tadi melihat pergerakan musuh, langsung mengejarnya. Mereka menuju belakang gedung. Sepertinya insiden ini memang sudah matang direncanakan dari jauh hari. Sedangkan Levi langsung menolong kakaknya.
Max sedang memburu ketua dari musuhnya. Mengapa Max tau betul bahwa pria yang baru keluar dari balik tirai adalah bos dari musuhnya disini? Jelas, hanya pria itu yang dikawal oleh banyak pengawal.
Terlihat pria itu sudah memasuki sebuah mobil. "S*ial, mereka ingin kabur." Namun keuntungan kali ini berpihak pada Max.
Odion datang membawa salah satu mobil tercanggih mereka dimarkas yang dilengkapi oleh beberapa senjata otomatis. Satu mobil melawan puluhan mobil yang didalamnya tidak tau berapa jumlah musuh.
Sedangkan didalam salah satu mobil yang menuju mansion Browns, terlihat seorang wanita menangis histeris melihat sang suami berlumuran darah.
"Sakit, sakit sekali," ucap pria itu seakan ingin mati. Membuat wanita didepannya semakin menangis histeris.
Levi yang mendengar kata-kata kakaknya mencibir. "Ck, bahkan ketika lima peluru menembus tubuhnya tidak pernak mengeluh," batin Levi. Bukannya merasa kasihan tapi Levi malah mencibir sifat kekanak-kanakan kakaknya sendiri.
"Hiks... Aku mohon hiks... bertahanlah," ucap Ros tersedu-sedu.
"Tapi aku memang tidak bisa bertahan lagi. Untuk kata terakhir ku, aku ingin bertanya, apakah kau mencintaiku?" tanya Dika seakan ingin menemui ajalnya.
"Jangan begini, aku mohon. Aku tau kamu kuat," ucap Ros dibanjiri air mata. "Aku tidak ingin menjadi janda diusia mudaku."
"Pftt." Levi tanpa sengaja tertawa mendengar ucapan kakak iparnya. Tatapan tajam dilayangkan oleh wanita yang sedang menangis itu sehingga membuat pria yang masih muda itu terdiam seketika.
"Aku ada disini untukmu, aku mendekapmu. Kenapa kau ingin pergi dariku. Aku mohon tetaplah disisiku. Aku berprinsip satu kali menikah, dan jika kau pergi meninggalkan kan aku, itu artinya aku akan menjadi janda seumur hidup. Jadi jangan pergi," ucap Ros panjang lebar dengan air mata.
Dika yang mendengar itu menghela napas. Ia berpikir akan menerima jawaban yang seharusnya. "Tapi aku butuh jawaban. Apa kau mencintaiku?" tanya Dika kembali. Ros menunduk sambil menatap lekat manik mata suaminya.
Sedangkan Max disana sedang bertempur melawan anak buah dari targetnya. "Odion, keluarkan senjata otomatis!" Odion langsung menekan tombol senjata otomatis sambil mengendalikan setir mobil.
Dari atap mobil keluar beberapa senapan. Para musuh yang melihat itu yang tadinya mengeluarkan kepala langsung masuk kedalam mobil dan melindungi diri.
Max menekan tombol PLAY dan benar saja senapan otomatis itu memburu mobil didepannya. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Max untuk menembak ban mobil musuh secara bergilir.
Satu persatu mobil tumbang, satu lagi mobil didepan pengawal didepan sangat lihai. Senapan otomatis juga sudah mulai kehabisan peluru. Max dan Odion hanya memiliki pistol manual.
"Sial, kita kehabisan amunisi." Odion tetap melanjukan mobil. "Jadi apa yang harus kita lakukan Max?" tanya Odion.
"Kita mundur. Mobil musuh datang lebih banyak. Bantuan juga masih on the way. Jika kita maju, sama saja kita menyerahkan diri untuk mati sia-sia."
Odion mengurangi laju kendaraan dan berbelok kearah samping. Odion yang ingin langsung berputar tadi terhenti ketika melihat sekumpulan mobil musuh juga berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Max melihat Odion.
"Lihat, para kucing itu juga berhenti." Max mengalihkan pandangannya.
Seorang pria bertopeng keluar dari mobil itu. Memperhatikan Max dan Odion dari jauh. Pria bertopeng itu mengangkat jari jempolnya dan menurunkan kebawah. Seakan-akan dia mengatakan Max lemah.
Max tersenyum smirk. "Dia pikir, dia bisa memprovokasiku. You are wrong," batin Max sambil mengeluarkan tangan kirinya dan menaikkan tinggi jari tengahnya. "F*uck," ucap Max dengan mobil yang sedang melaju.
Max terlihat berpikir sebentar. "Sepertinya aku familiar dengan postur tubuh itu, tapi siapa?" batin Max.
**
Mobil yang membawa Rhadika hampir sampai mansion. "Kenapa ke mansion? Kita harus kerumah sakit Levi bodoh," teriak Ros. "Tidak usah, kemansion saja," jawab Dika.
"Kenapa kamu keras kepala?" teriak Ros.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Setidaknya jika aku pergi selamanya aku bisa merasakan bagaimana rasanya dicintai istri sendiri, agar aku...," ucapan itu terhenti ketika mendengar suara istrinya.
"Aku mencintaimu," ucap Ros pelan.
"Apa? Coba ulangi, aku tidak mendengarnya tadi," seru Dika kembali berharap yang didengarnya salah. Ros diam tidak buka mulut.
"Ah, sepertinya aku mulai kehabisan darah," seru Dika berhasil membuat istrinya buka suara. "Aku mencintaimu Rhadika Browns," teriak Ros.
Dika langsung bangun dari pangkuan istrinya dan memeluk erat wanita kecilnya. Tentu wanita yang dipeluk terkejut. Bukankah tadi suaminya hampir mati kehabisan darah?
Horas👐