Mafia Boss Little Wife

Mafia Boss Little Wife
Part 66



"Kakak ipar, kau terlalu banyak memberikan waktu pada wanita itu," seru Levi datang tiba-tiba menghentikan ucapan Maura.


"untuk aku datang tepat waktu," batin Levi. Maura masih terbatuk karena batu tadi tepat mengenai tenggorokannya. Wanita itu merasa benda yang dilemparkan Levi begitu kuat.


"Rahasia apa yang ingin kau katakan?" Ros benar-benar penasaran dengan rahasia yang dikatakan oleh Maura.


Ros menatap intens ke arah Maura. Wanita itu masih terbatuk belum bisa mengatakan apapun.


"Kakak ipar apa kau masih ingin mendengar omong kosong dari wanita ini. Dia hanya berusaha ingin menjatuhkan hubungan kalian," jelas Levi berharap kakak iparnya tidak mudah terhasut dengan ucapan Maura.


"Levi aku ingin bertemu kembaran Mocca. Aku tidak mood melihat wajah nenek lampir ini," jawab Ros. Namun jauh didalam lubuk hatinya dia benar-benar ingin mengetahui rahasia yang dikatakan oleh Maura.


Tapi dia juga bimbang, jika nantinya ada kesempatan bertemu Maura lagi, apa nanti dia harus mempercayai atau tidak perkataan wanita itu? Entahlah, tapi Ros benar-benar bingung tentang ini.


Tepat saat ingin keluar dari ruang penyiksaan, Dika datang bersama Max dan melihat ekspresi tak menyenangkan dari istrinya. Dia langsung mendekat dan mengelus rambut istrinya.


"Kenapa Baby? Kenapa wajahmu seperti ini?" tanya Dika sambil mengusap lembut rambut istrinya. Ros langsung memeluk suaminya untuk menenangkan hatinya yang sedang bimbang.


Dika menatap ke arah Levi seakan bertanya kenapa dengan istriku. Levi memberikan kode akan diceritakan nanti saja. Dia tidak ingin membicarakan ini di depan kakak iparnya karena bisa dipastikan masalah ini akan membesar nantinya.


"Kami ingin melihat Mocci kembaran Mocca," jawab Ros masih bermanja-manja di pelukan suaminya. "Apa kalian ada urusan sebelumnya?" tanya Ros.


"Tidak ada, setelah kalian selesai baru aku akan menyelesaikan urusan ku bersama Levi."


"No, no. Aku bisa sendiri. Levi, kau bersama suamiku saja. Aku juga ingin berkeliling markas. Bukankah pengawal berada di setiap sudut markas ini?"


Dika mengangguk. "Hati-hati Baby, Mocci tidak sep..."


"Tenang saja Sayang, aku ini sudah kuat. Mocca saja langsung mengenalku. Apa bedanya dengan Mocci?" Ros langsung memotong pembicaraan suaminya. Kebiasaan buruknya sudah mulai muncul.


"Itu karena Tuan ada disan...."


"Stop Max, aku sudah mengatakan bahwa aku kuat dan bisa mengatasinya." Lagi-lagi Ros memotong pembicaraan orang yang sedang berusaha menasehatinya.


"Kakak ipar dengar dulu. Mocci itu ukurannya lebih besar dan lebih ga..."


"Ssstt, aku tidak perlu nasehatmu bocah besar. Mau lebih ganas, lebih besar, lebih kecil, lebih seram. Aku bisa mengatasinya. Kau bocah besar tidak tau urusan orang dewasa. Lakukan saja tugasmu!"


Ros menempelkan jari telunjuknya di bibir adik iparnya dan mengatakan bahwa Levi tidak mengerti apapun. "Terserah," kesal Levi.


"Yang terpenting aku sudah mengingatkan mu kakak ipar," batin Levi dan berlalu dengan kesal.


"Baiklah, hati-hati Baby. Kami akan meeting disana saja," tunjuk Dika pada ruang transparan didepan pintu mansion.


Ros mengangguk mengiyakan tanda peringatan suaminya. Dika pergi bersama Max, sedangkan Levi sudah pergi duluan karena saking kesalnya pada kakak iparnya itu.


Ros mulai berjalan melihat-lihat mansion. Para pengawal yang sudah di berikan peringatan sudah mengetahui siapa wanita yang sedang menjelajahi markas besar ini.


Mansion itu terlihat seperti taman bunga saja yang dihiasi pohon-pohon besar, terutama bunga lily. Ros berhenti dan berpikir sebentar.


"Kenapa selalu ada bunga Lily? Kemaren juga di mansion ada bunga lily. Bahkan disini jauh lebih banyak. Apa Levi menyukai bunga Lily, atau Max. Jika suamiku tentu tidak, dia tidak pernah tertarik dengan bunga lily." Ros berbicara dan bertanya pada dirinya sendiri


"Atau mungkin hanya sebagai hiasan saja." Ros abai dengan bunga Lily itu dan melanjutkan aktivitasnya untuk mengelilingi markas.


Kadang dia bercakap sebentar pada pengawal disana. Kadang langsung di sapa oleh para pengawal dan dibalas senyuman hangat oleh Ros. Para pengawal merasa senang melihat sikap Nyonya muda mereka.


Tidak seperti sebelumnya, Tuan mereka pernah membawa seorang wanita ke markas Black Sky. Namun sangat jauh berbeda dengan wanita didepan mereka yang sedang memandangi bunga lily itu.


Dulu saat wanita tuannya datang, setidaknya mereka akan mendapat bentakan di belakang tuannya. Jika tuan mereka tidak ada disana, wanita itu akan bersikap sok berkuasa dan selalu sombong di depan mereka.


Dan jika ada tuan mereka disana wanita itu akan bersikap lembut layaknya wanita kelas atas. Sangat berbeda dengan nyonya muda mereka sekarang.


**


Diruang penyiksaan Dika sedang menatap tajam ke arah Maura dan satu orang pria komplotan wanita dada besar itu sebelumnya.


Dika beralih ke pada pria disamping Maura. "Dibagian mana saja kau menyentuh tubuh istriku?" tanya Dika menatap datar pria itu.


Pria itu adalah pria yang dibawa oleh anggota Black Sky dari tempat dimana Ros disekap waktu itu. Tepat saat Dika masuk, pria ini dengan beraninya menyentuh leher sang istri.


Pria yang ditanya tersenyum sinis. Luka yang berada di seluruh wajahnya seakan tidak ia rasakan. Entah dia sudah mati rasa dan tidak merasakan sakit lagi.


"Aku sudah menikmati tubuh wanita Asia itu. Apakah dia istri mu, pantas saja begitu nikmat," jawab si pria.


BUG


Dika menendang wajah mangsa yang berada didepannya. Maura disana sudah mulai merasa ngeri. Apakah dia akan merasakan hukuman seperti itu juga. Itulah pertanyaan yang muncul di pikiran pria itu.


"Sepertinya mulutmu ini sangat lihai berbicara. Baiklah, langkah yang bagus," seru Dika mengambil salah satu belatinya.


Tangan kedua pria itu diikat di antara pegangan kursi besi yang melekat pada lantai.


Dika mengarahkan belatinya ke arah mulut mangsanya. Dia berhenti sebentar. "Kamu bisa memilih, jika kau berkata jujur mungkin ke matian mu akan cepat, but, jika kau tetap seperti tadi kau akan kusiksa habis-habisan. Bagaimana?"


Inilah salah satu sifat dari Rhadika, menawarkan cara kematian yang di inginkan oleh tawanannya.


"Menarik. Lepaskan bagian tangan kanannya," perintah Rhadika. Dika mengingat benar bagian tubuh mana yang menyentuh tubuh istrinya dan bagian mana yang disentuh.


KRETAK


Tangan sebelah kanan pria itu di patahkan dengan santai oleh Dika. Tidak ada rasa kasihan atau tatapan menyesal dari bos mafia itu. Pria yang dipatahkan tangannya sudah berteriak kesakitan.


"Aaaa, Rhadika kamu gila. Apa yang kamu lakukan?" Maura menatap tidak percaya pada pria didepannya. Meskipun pria ini pernah hadir dalam hidupnya, tapi Maura tidak pernah melihat hal sekeji ini saat bersama pria itu.


"Diam dan nikmati saja pertunjukannya. Dan kau akan mendapatkan giliran mu nanti. Bersabarlah." Maura merinding melihat wajah menyeramkan Rhadika. Terlihat seperti iblis yang haus akan darah.


"Tutup mulut wanita itu. Aku hanya ingin mendengar teriakan merdu tawanan ku."


Dengan sigap para pengawal langsung mengambil lakban dan menutup mulut Maura.


"Aku sudah memberikan tawaran padamu, tapi kau lebih memilih jalan kematian mu dengan penyiksaan yang perlahan akan ku persembahkan untukmu."


Dika memainkan belati yang ada ditangannya. Levi disana sudah mulai membiasakan diri dengan kekejaman kakak nya itu. Dia harus bisa bertahan karena ini akan menjadi pemandangan yang selalu dilihatnya. Begitu juga dengan Max, dia harus bisa membiasakan diri.


"Rahang mu memang kuat, tapi sebentar lagi rahang mu ini akan tidak berbentuk." Secara perlahan Dika menggesekkan pisau ditangannya ke pipi pria itu, dan secara tiba-tiba merobek mulut pria didepannya.


Darah langsung keluar secara berembes. Luka itu begitu lebar, namun tidak berhenti sampai disana. Dika mengeluarkan lidah pria itu dan memotongnya.


Maura semakin berteriak ketakutan di sana. Terdengar suara dari balik lakban itu. Maura sudah dibanjiri air mata. Dia tidak pernah menangis seperti ini, tapi kejadian didepannya tidak pernah dilihatnya. Maura meronta-ronta ditempatnya.


Dia takut, bagaimana jika dia nanti akan diperlakukan seperti itu. Maura sudah ketakutan setengah mati.


Terakhir Dika mengambil pistolnya dan menembak pria itu hingga beberapa kali. Sebenarnya dia ingin lebih menyiksa tawanannya itu, tapi istrinya disana sedang berkeliaran, bagaimana jika nanti dia melihat ini. Dika takut istrinya akan menjauh darinya lagi seperti saat itu.


"Buang dia kekandang buaya, pastikan tidak ada darah setetes pun dilantai," perintah Rhadika.


Dika kembali beralih tatapannya ke arah Maura. "Dan kau wanita licik." Dika berjalan kearah Maura dan menarik keras lakban yang menutupi mulut Maura. Tentu saja Maura merasakan sakit dan berteriak, namun nyalinya langsung menciut ketika melihat wajah menyeramkan Rhadika.


"Aku tidak sudi bersentuhan dengan tubuh menjijikkan mu." Dika berbalik ke arah Levi.


"Urus dia, aku ingin melihat bagaimana kau menumpahkan kekesalan mu selama ini pada wanita yang paling kau benci."


"Dengan senang hati Kak," jawab Levi berjalan ke arah Maura. Buka semua ikatannya!" perintah Levi.


Setelah ikatan Maura dilepas dia langsung berlari menuju pintu keluar ruangan ini.


Dia seperti orang gila dikejar orang gila. Pakaiannya sudah tidak beraturan ditambah make up nya yang sudah berantakan. Dia berlari ke arah pintu dan berusaha menerobos para penjaga.


"Larilah, larilah sesukamu," seru Levi melihat Maura yang sudah seperti orang gila.


"Tinggalkan 10 orang pengawal diruangan ini!" Dika mengernyitkan dahi ketika mendengar perkataan adiknya.


"Gilir dia sampai dia merasakan bahwa harga dirinya tidak ada lagi. Biarkan dia seperti orang yang ingin mati tapi segan untuk hidup." Levi ingin membalikkan hukuman yang sempat dibuat Maura untuk kakak iparnya.


Max melotot disana, sejak kapan bocah besar ini berprinsip seperti kakaknya yang seperti sikopat itu. Itulah isi pikiran Max.


"Aku akan keluar. Bagaimana dengan kalian Max, apa kau ingin menikmati siaran langsung ini?"


Dika langsung bergerak dan keluar dari ruangan itu, begitu juga dengan Max. Siapa yang ingin melihat hal tidak berbobot seperti itu.


"Pemandangan istriku lebih indah," seru Dika kesal dengan kalimat Levi tadi. Mereka bertiga keluar dari ruangan itu dan pergi menuju ruang rapat yang diberi tahu Dika tadinya pada istrinya.


Ketiga pria itu mulai duduk dan membahas tentang starategi mereka untuk menangkap musuh yang selalu mengusik tiap pergerakan mereka dan juga tentang kejadian kenapa Ros kesala tadi.


Tiba-tiba mereka mendengar suara teiakan bergetar dengan keras. Tapi sepertinya suara berteriak itu seperti suara seorang wanita yang sangat akrab bagi mereka. Dika sengaja mematikan kedap suara ruangan itu agar selalu bisa mendengar jika nanti wanitanya memanggil mereka.


Perlahan, seorang wanita nampak dari ujung sana sedang berlari sambil memegang sepatunya. Sesekali melihat kebelakang sambil berlari.


"Ada apa dengan kakak ipar?" seru Levi sambil keluar dari ruangan itu diikuti Max dan Dika.


Ros yang sudah melihat suaminya ada disana, dia berteriak sambil berlari.


"Sayanggggg, tolong aku," teriak Ros sambil berlari ke arah suaminya.


Jangan lupa like, hadiahnya 😊😊


HorasπŸ‘


oh iya gays, nih aku mau promo juga hehe.


Yang punya aplikasi fizzo, mampir juga yah ke novelku, tapi hati-hati disana banyak novel banyak nganunya.


mampir yah gays


Judul: Wanita Cupu? Milik CEO Kejam


nama pena tetap sama: The Winner Purba 😊