
LIKE, KOMEN, SAMA FAVORITNYA MAK AGAR SELALU MENDAPATKAN NOTIFIKASI UPDATENYA😊👍👍👍👍
Ros yang sudah mulai bosan dikamar turun ke bawah. Ros masih sama, menggunakan kaos kebesaran suaminya. Para pelayan yang lalu lalang mengerjakan tugas masing-masing dibuat terkejut melihat tanda merah yang sudah samar di leher nyonya mereka. Mereka langsung tertunduk malu dan tersenyum tipis.
Ros yang melihat semua perlakuan para pelayan dan pengawal merasa bingung. Dia menuju Levi yang sedang duduk santai di ruang tamu. Levi menggunakan pakaian formal hitam dibalut dengan kameja putih. "Bocah besar, hai," ucap Ros tersenyum senang.
(Levi🥰)
"Cih, sudah baikan ternyata," ucap Levi memutar bola matanya malas. "Benar, aku memang genius," ucap Ros mengangkat dagunya tinggi didepan Levi. Levi yang melihat itu mendengus kesal. Tapi tiba-tiba stroberi ditangannya terjatuh.
Dia berdiri dengan cepat dan menatap lekat leher kakak iparnya. Dia ingin memastikan sesuatu. Dengan cepat Levi melepaskan jasnya dan menutupi leher kakak iparnya. Ros yang melihat itu merasa aneh dengan kelakuan adik iparnya.
"Sial, semalam aku sibuk memikirkan nasib wanita kecil ini. Bahkan rela menunggu selama dua jam, berdiri didepan kamar s*ialan itu," monolog Levi.
"Jangan bilang ide terakhir kakak ipar adalah...," ucap Levi sambil menyatukan jari telunjuknya. Ros bingung tidak mengerti. Ros juga mengikuti gerakan Levi.
"Apa?" ucap Ros bingung.
"Aish Kakak ipar, itu... maksudku. Jangan bilang Kakak ipar belum melihat cermin pagi ini?" Ros hanya menggeleng saja.
Levi menggelengkan kepalanya pertanda tidak percaya. Levi mengajak kakak iparnya menuju kamar miliknya. Jas hitam itu tetap melekat dileher Ros dibantu tangan adik iparnya yang selalu menjaganya agar tidak jatuh.
Sesampainya dikamar Levi, Ros langsung menuju cermin besar milik Levi dengan santai. Ros menutup mulutnya tiba-tiba. "Ada apa denganku?" ucapnya tersentak kaget.
"Levi, ada apa denganku? Apa aku akan mati? Apa ini penyakit yang mematikan," ucap Ros dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Levi yang mendengar itu menganga tak percaya. "Oh God. Kakak ipar, kau melakukannya tapi tidak tau apa yang terjadi pada lehermu," ucap Levi tak percaya.
"Katakan dengan jelas bocah. Aku bingung." Levi ingin menjelaskan secara jujur, namun terselip sebuah ide di otak liciknya.
"Habislah kau Kakak ipar, akan kubalas perbuatan mu yang ingin membuatku sasaran target latihan menembak mu," Levi tersenyum licik.
"Coba Kakak ipar melihat kebagian dalam tubuhmu, apakah seperti itu juga?" ucap Levi dibuat-buat panik. Ros berbalik dan melihat bagian perut, dadanya, hampir semua berwarna merah samar kebiruan. Ros berbalik dan menganggukkan kepalanya kearah Levi.
Levi menutup mulutnya pertanda tak percaya. Dia memulai akting iblisnya. "Kakak ipar," ucapnya sambil memeluk Ros. "Temanku sebelumnya ada yang mengalami hal seperti itu, satu tahun dia menderita, kakinya lama kelamaan putus, perutnya membusuk dan terakhir dia meninggal," ucap Levi dengan wajah semenyedihkan mungkin.
Ros menatap Levi tak percaya. "Levi, apakah ini tidak bisa disembuhkan. Suamiku punya banyak uang. Apakah tidak bisa dioperasi atau semacamnya?" tanya Ros. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Tidak Kakak ipar. Itu adalah penyakit langka yang tidak bisa disembuhkan. Obatnya belum ditemukan, para peneliti terkenal sudah membuat beberapa percobaan untuk menemukan obatnya, tapi tetap gagal. Bahkan temanku itu sudah ditangani oleh dokter-dokter terbaik dari berbagai negara. Tapi hasilnya...," ucap Levi menggelengkan kepalanya pertanda tidak ada yang berhasil berhasil.
"Bahkan disaat kematiannya, tidak ada yang menguburnya, bahkan keluarganya. Mereka takut tertular," ucap Levi sambil tersenyum licik melihat Kakak iparnya tertunduk sedih.
Ros terduduk lemas disofa. Dia memikirkan nasibnya dimasa yang akan datang. "Mati muda kah, ini sangat menyedihkan. Bahkan tidak dikubur secara layak" benak Ros.
"Levi, kita kekantor suamiku. Aku belum pernah kesana. Tapi sebelum sampai kekantor kau berperan sebagai suamiku!" ucap Ros beranjak dari duduknya. "Aku akan kekamarku sebentar."
Ros beranjak sebentar kekamar milik suami dan dirinya. Ia mengambil sebuah notes kecil dan pena. Ia menuliskan sesuatu kira-kira dalam dua lembar. Kemudian menyelipkan di bawah kasur tempat tidur. Kemudian langsung bergegas ke luar menemui Levi.
"Tapi... tapi Kakak ipar, kenapa kita harus kekantor kakak." Levi sebenarnya hanya iseng sebentar namun kakak iparnya menganggap serius. "Bagaimana nanti jika aku terkena bogeman mentah," monolog pria muda itu dengan raut khwatir.
"Aku juga harus kemarkas Kakak ipar. Nanti saja setelah kakak pulang baru mendiskusikan nya," pria itu mencari cara lain dengan beralasan ke markas.
"Apa markasmu lebih penting dariku? Cepat, aku harus kesana!"
Levi hanya pasrah, niat bercandanya dianggap serius. "Baiklah, aku pasrah, jika sudah memulai harus menuntaskannya," monolog Levi. Ketika kedua orang itu ingin melewati ruang tamu, tiba-tiba Clasy datang.
"Nyonya, anda mau kemana?" tanya Clasy dengan tiba-tiba. Levi mengernyitkan dahinya menatap heran pada pelayan pribadi kakak iparnya. Levi pikir pelayan ini terlalu lancang.
"Memangnya nyonya rumah ini mempunyai kewajiban untuk memberitahukan mu tentang setiap kegiatannya? Siapa kamu dengan lancang bertanya pada nyonya dirumah ini?" ucap Levi tegas.
"Maaf Tuan," jawab Clasy menunduk. Tiba-tiba seseorang langsung memeluk erat Clasy. "Clasy, aku ingin pergi kekantor suamiku. Kau harus berjuang untuk hidup. Jangan terlalu sedih. Selagi hidup kau harus berjuang untuk bertahan hidup. Jujur dan berani harus kau pegang teguh, oke" ucap wanita itu menepuk pelan punggung Clasy
Clasy yang mendengar itu bingung. Apa maksud dari perkataan sang nyonya. Namun, ucapan nyonyanya seakan mengingatkan dia cara untuk menghadapi masalah yang dialaminya. "Ba...baik Nyonya," jawab Clasy.
"Apa kamu ingin ikut?"
"Tidak Nyonya." jawab Clasy tersenyum manis. "Bagaiman aku akan ikut ketika bahaya ada didepan Nyonya," benak Clasy.
Rose dan Levi meninggalkan mansion. Ipar itu berada dalam satu mobil, sedangkan Odion berada dibelakang diikuti mobil pengawal. Setelah melihat kepergian rombongan sang nyonya. Clasy mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
"Bagus, tapi wanita itu bersama adik iparnya yang licik. Lakukan sesuai rencana," perintah pria itu pada asistennya.
Sedangkan iring-iringan mobil istri salah satu pemilik perusahaan terbesar dia Eropa itu nampak tertunduk lesu. Levi yang melihat itu tertawa dalam hati. Namun saat di lampu merah ada sesuatu yang menggangu penglihatannya.
Satu mobil truk besar terlihat sedang melaju dari arah kiri. Mobil itu melaju diluar kecepatan normal. Seharusnya jika hampir mendekati lampu merah, laju kendaraan seharusnya berkurang.
Lampu merah berubah menjadi warna hijau. Sedangkan disebelah kiri arah truk lampu sudah berwarna merah. Kendaraan Levi tepat berada disebelah kiri dekat penyeberangan lurus kesebelah kanan. Levi melajukan mobilnya, namun mobil truk besar itu semakin melaju dengan kencang kearah mobilnya.
Bruk
Para warga heboh melihat satu mobil terdorong keras ke sebuah bangunan berdinding tembok. Terlihat mobil itu sudah tak berbentuk. Dipastikan jika ada orang di dalam mobil itu, pasti sudah lenyap tak bernyawa. Bagaimana tidak, truk itu menghimpit mobil mewah itu kearah ding-ding hingga tak berbentuk.
Seorang pria tampan tampak keluar dari mobilnya untuk memastikan kecelakaan itu. Dia tersenyum tipis melihat kecelakaan didepannya.